TEGAL — JAKER Kabupaten Tegal bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tegal, Penerbit Tiga Serangkai, serta media online Puskapik.com menyelenggarakan acara Bedah Buku Menghadang Kubilai Khan karya AJ Susmana pada Kamis, 13 November 2025. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan Kabupaten Tegal dan dimulai tepat pukul 10.00 WIB.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Umum JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat), Annisa, yang memberikan pidato pembukaan sekaligus menekankan kembali pentingnya persatuan nasional melalui refleksi sejarah yang diangkat dalam novel tersebut.

Sebelum memulai pemaparan, Annisa menyampaikan salam pembuka lintas agama dan memberi apresiasi kepada jajaran Dinas Perpustakaan, para narasumber, serta panitia yang telah menyiapkan acara. Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan literasi dan kebudayaan semacam ini terus mendapat ruang dan dukungan.

Dalam pidatonya, Annisa mengajak hadirin merenungkan kembali betapa berharganya arti persatuan. Menurutnya, refleksi tersebut bukan berasal dari teori politik modern, melainkan dari kisah heroik masa lalu Nusantara yang dihadirkan kembali melalui novel sejarah karya Antun Joko Susmana tersebut.

Berlatar abad ke-13, Menghadang Kubilai Khan mengisahkan perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk bersatu menghadapi ancaman invasi besar dari Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan, salah satu imperium terkuat di dunia pada masanya. Ancaman tersebut bukan sekadar tantangan militer, tetapi juga ujian bagi eksistensi dan kedaulatan bangsa-bangsa di kepulauan ini.

Foto AJ Susmana Memberikan Penjelasan dalam Acara Bedah Buku di Tegal (Sumber: Dokumen Redaksi)

Annisa menyoroti tiga pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah tersebut:

Pertama, ancaman eksternal adalah katalisator persatuan. Menurutnya, intrik politik dan perbedaan pandangan memang mewarnai hubungan antar-kerajaan, tetapi semuanya sirna ketika bahaya besar datang. “Perpecahan adalah kelemahan fatal,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa di era modern, ancaman bisa datang dalam bentuk dominasi ekonomi, budaya, dan politik. Karena itu, persatuan nasional tetap menjadi benteng pertahanan paling kokoh.

Kedua, pentingnya kepemimpinan visioner. Annisa menyebut sejarah mencatat hadirnya tokoh-tokoh yang menyingkirkan ambisi pribadi demi cita-cita bersama. Novel tersebut, menurutnya, menggambarkan bahwa perjuangan mencapai persatuan membutuhkan kesetiaan, pengorbanan, serta keberanian untuk melawan pengkhianatan dari dalam. Dalam konteks kini, ia menekankan perlunya pemimpin dan warga yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa.

Ketiga, kekuatan sejati berakar pada solidaritas rakyat. Novel ini memperlihatkan bahwa kemenangan bukan hanya hasil strategi para raja, tetapi juga partisipasi dan semangat rakyat dari berbagai lapisan. Spirit perlawanan rakyat Nusantara, ujarnya, adalah semangat yang harus terus dirawat.

Annisa kemudian menegaskan bahwa Menghadang Kubilai Khan adalah ajakan agar bangsa Indonesia tidak mudah tunduk pada dominasi dalam bentuk apa pun. “Jika di abad ke-13 para pendahulu kita mampu bersatu demi kedaulatan, maka kita di abad ke-21 seharusnya bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik lagi,” ujarnya.

Foto Ketum JAKER Annisa Lituhayu menyampaikan pandangan dalam bedah buku Menghadang Kubilai Khan di Tegal (Sumber: Dokumen Redaksi)

Ia menutup pidatonya dengan menekankan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata, kerelaan memahami perbedaan, serta komitmen untuk berjalan bersama demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

“Setiap Tempat adalah Panggung, Setiap Orang adalah Seniman,” tutupnya.

Keterangan Gambar Utama:

Foto Annisa Lituhayu (Ketum JAKER) Menyerahkan Buku ke Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Perpusip Kabupaten Tegal, Indra Rustiono (Sumber: Dokumen Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *