Oleh: AJ Susmana
Pada Rabu petang, 12 November 2025, Kami: Pengurus Pusat Jaringan Kebudayaan Rakyat (PP JAKER) meluncur ke Tegal menghadiri Undangan Bedah Buku Menghadang Kubilai Khan esok pagi: Kamis, 13 November 2025 di Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tegal. Bedah Buku selain difasilitasi Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tegal juga oleh JAKER Kabupaten Tegal dan didukung Penerbit legendaris “Tiga Serangkai”.

Kami bertiga: Saya, Annisa, Ketua Umum dan Sonny Laurentinus, Dewan Pengawas, menumpang kereta jurusan Semarang: Tawang Jaya. Sudah berkali-kali saya sendiri menumpang Kereta Tawang Jaya tapi tak pernah terbersit bila Tawang Jaya juga bisa disebut atau diartikan Jayakatwang. Barangkali daya atau getaran dari Bedah Buku “Menghadang Kubilai Khan” yang segera digelar itu mengantarkan nama kereta Tawang Jaya ke Jayakatwang.

Pada novel “Menghadang Kubilai Khan” nama “Jayakatwang” ada di bagian kedua; bagian pertama: Kertanagara dan bagian ketiga: Wijaya. “Jayakatwang” terdiri dari 22 sub bagian dengan jumlah halaman 102. Saya menuliskan Jayakatwang dengan menempatkan Jayakatwang yang membela diri-sendiri atas tindakan politik dan militer yang menyerang Kertanagara beserta pengakuan-pengakuannya berkaitan dengan Kediri, politik luar negeri Kertanagara dan dukungan terhadap Wijaya untuk mempertahankan negeri dari penjajahan asing.

Dalam kisah yang bersandar pada tradisi, Kertanagara sering ditempatkan sebagai hero, pahlawan patriotik yang menantang invasi asing sementara Jayakatwang sering ditempatkan sebagai pendendam dari Kediri atau seorang yang termakan hasutan (dalam Kidung Harsa-Wijaya); juga pengkhianat yang sangat keji terhadap sahabat (krtalpaswakarmma mitradrohaka): Kertanagara atau Singhasari dalam Prasasti Kudadu. Tetapi demi menjaga kisah persatuan sebagai syarat kemenangan dalam Menghadang Kubilai Khan, saya menempatkan kepatriotikan Jayakatwang di saat yang paling krisis yaitu ketika tentara Mongol dan Jayakatwang yang telah menjadi tahanan terpaksa bergeser dan bertahan di Ujung Galuh (halaman 290-291 dan 330-331). Intinya, Jayakatwang menolak menjadi raja dengan dukungan Mongol untuk melawan Wijaya. Jayakatwang memilih dieksekusi mati di Ujung Galuh daripada menjadi raja boneka kekuasaan asing.

Dalam suatu kesempatan saya menulis esai: “Bung Karno dan Kertanagara”.

“Tokoh dari masa lalu yang seakan mirip dengan kehidupan Bung Karno itu adalah raja terakhir Singhasari: Sri Kertanagara yang bahkan sampai sekarang juga masih sering disalah-pahami sehingga terus-menerus menjadi kontroversial sebagaimana Bung Karno. Kehidupan Kertanagara sering dikaitkan dengan pesta orgy dan minuman keras, yang membuatnya terlena dan lemah di hadapan lawan, termasuk keyakinannya pada tantris yang mungkin pernah menjadi ajaran terlarang di masa Airlangga.

Begitu pula Bung Karno yang juga tak bisa dilepaskan dari wanita-wanita, minuman keras (?) dan komunisme (PKI) yang sampai sekarang menjadi ajaran terlarang di Indonesia. Walau begitu, keduanya, baik Kertanagara maupun Bung Karno, adalah orang-orang yang yakin terhadap keberadaan dan cita-cita Persatuan Indonesia (Nusantara) demi melawan kekuatan imperial.

Pada masa hidupnya, Kertanagara mengerahkan bala tentaranya ke negeri-negeri Melayu, Kalimantan bahkan Campa untuk menghadang ekspansi dan ancaman pendudukan imperium Mongol di bawah kaisar Dinasti Yuan: Kubilai Khan.

Begitu juga Bung Karno dalam program Ganyang Malaysia yang dituduhnya sebagai negara boneka imperialis, mengerahkan bala tentaranya ke negeri-negeri Melayu juga, termasuk Kalimantan dalam kerangka menghadang imperialisme.

Karena politik luar negerinya yang bersemangat dalam menghadang Kubilai Khan, Kertanagara melupakan ancaman dalam negeri; Kertanagara dijatuhkan Jayakatwang, Adipati Gelang-Gelang, raja bawahannya sendiri; pun bagian dari keluarganya sendiri; sementara Bung Karno dijatuhkan orang bawahannya sendiri juga: Jenderal Soeharto; yang juga dianggap sebagai bagian dari keluarga.” ((https://geotimes.id/opini/bung-karno-dan-kertanagara/).

Di Ujung Galuh itu, kita bisa melihat bagaimana nasib bila Sura dan Baya berantem. Sura (Hiu) sebagai simbol kekuatan laut (Singhasari, politik luar negeri, Kertanagara) dan Baya (Buaya) sebagai simbol kekuatan darat (Kediri, politik dalam negeri, Jayakatwang), perseteruan keduanya: Sura vs Baya hanya membawa pada kematian baik Kertanagara maupun Jayakatwang dan sekaligus menjadi pintu kehancuran bangsa. Sementara itu SuraBaya yang bersatu berhasil mencapai kemenangan atas kekuasaan asing dan menjadi landasan menuju Negara Majapahit yang jaya.

Di Ujung Galuh, rakyat yang bersatu dengan para pemimpin yang tidak lagi egois berhasil mengusir kekuasaan imperial asing terkuat di dunia pada waktu itu. Para pemimpin yang terpecah hanya akan melemahkan persatuan rakyat dan bangsa sehingga mudah masuk dalam penjajahan asing yang menjauhkan cita-cita mencapai masyarakat adil dan makmur. Hanya dengan Bersatu, Berdaulat, bangsa kita bisa mencapai cita-citanya: Adil dan Makmur.

Kota Benteng, 18 November 2025

Keterangan Gambar Utama:

Foto AJ Susmana (Sumber: Dokumen Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *