Perlombaan perahu naga dalam tradisi Peh Cun di Sungai Cisadane, Tangerang, yang menjadi simbol keragaman budaya dan kebersamaan masyarakat lokal (Sumber: tangerangkota.go.id)

Oleh: AJ Susmana

Foto AJ Susmana (Sumber: Dokumen Redaksi)

“Barang siapa menaruh minat jang positip terhadap hidup dan kehidupan bangsanja sendiri, kiranja tidak akan merasa sukar untuk memahami ‘apa jang dimaksudkan dengan ungkapan ‘Kepribadian bangsa’ dan dalam hal ini ‘kepribadian dalam kebudajaan’”. 

(Urusan Adat-Istiadat dan Tjeritera Rakjat Djawatan Kebudajaan Departemen P.D. dan K. (1965)

Menulis tentang kebudayaan lokal adalah salah satu cara untuk mengenal dan memahami kepribadian bangsa sendiri. Artikel atau esai yang teman-teman tulis bisa”…membuka tabir hidup dan kehidupan bangsa sebagai dorongan ketjil untuk mengenal dan memahami kepribadian bangsa sendiri”. (Urusan Adat-Istiadat dan Tjeritera Rakjat Djawatan Kebudajaan Departemen P.D. dan K. (1965).  Karena itu keterlibatan teman-teman dalam kegiatan ini sangat penting. Dalam kerangka cita-cita nasional atau perwujudan tujuan nasional, bisa dianggap sebagai usaha    “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”

“Kenalilah dirimu sendiri!” Begitu kata seorang bijak filsuf Sokrates sekitar 2500 tahun yang lalu. Bagaimana kita bisa “memajukan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa” kalau kita sendiri tidak mengenal (kehidupan) para leluhur kita: siapa mereka, bagaimana mereka hidup dan menjalani kehidupan sehingga sampai pada kita hari ini sebagai Republik Indonesia yang bercita-cita luhur sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 itu….”Bersatu, berdaulat, Adil dan Makmur…..”. Memahami, menulis tradisi dan ritual sebagai cara memahami hidup dan kehidupan para leluhur adalah dalam kerangka itu yaitu memahami jati diri bangsa, memahami kepribadian bangsa agar kita tidak tersesat di tengah gelombang dan badai perubahan dunia. Kita sebagai Bangsa Indonesia juga mempunyai tradisi yang tidak putus dengan masa lalu, sebagai pijakan untuk membangun masa kini dan masa depan. Kompas masa lalu itu akan menjadi alarm jalan menuju masa depan agar kita tetap tegak sebagai bangsa yang mempunyai akar budaya yang luhur bukan sekadar mengekor tradisi bangsa-bangsa asing lain yang justru akan membawa kita pada “penjajahan baru”, gampang dipecah-belah dan diadu-domba sehingga tidak mampu mencapai masyarakat adil dan makmur karena sumber daya manusia dan sumber daya alam dikuasai oleh kekuatan asing.

RA Kartini, perempuan dari Jepara itu sadar pada pola kerja kolonialisme. Beliaupun tidak bisa diklaim  dan dikerangkeng demi kepentingan kolonial walau prestasinya sering dicurigai sebagai usaha kolonialisme untuk menaklukkan bangsa.  Banyak pikirannya yang menuntut enyahnya kolonial sehingga menjadi spirit kebangkitan nasional. RA Kartini pun  sadar  bagaimana kolonialisme merendahkan bangsanya, terlebih rakyat biasa, dalam struktur masyarakat kolonial, yaitu pribumi sebagai ras nomer tiga setelah bangsa-bangsa Timur seperti Jepang dan  China, juga Arab,   sementara Bangsa Belanda (Eropa) sebagai ras unggul nomer satu. Ia pun menulis: “Semakin jauh saya menghayati jiwa bangsa saya semakin saya menganggapnya hebat. Ras kami kaya akan seniman dan penyair, dan barang siapa merasakan puisi tidak mungkin berbuat kebatilan.  Cinta,  pengabdian, kepercayaan,  semuanya berubah menjadi puisi dalam jiwa orang Jawa.”

Cinta kepada kebudayaan rakyat sendiri inilah yang terus membangkitkan bibit-bibit nasionalisme atau garis tegas, demarkasi antara bangsa yang terjajah dan kolonialisme Barat. Kembali kepada budaya leluhur terus dikumandangkan terutama oleh Budi Utomo.

“JIka pribumi dipisahkan sepenuhnya dan secara paksa dari masa lalunya, yang akan terbentuk adalah manusia tanpa akar, tak berkelas, tersesat di antara dua peradaban, ” kata Dr Radjiman pada tahun 1911 di depan khalayak Belanda yang tergabung dalam Indisch Genootschap. Sementara itu  Ki Hadjar Dewantara menulis: “Dan pertjajalah, saudaraku semua, selama kita pada dzaman ini berpisahan kultur dengan rakjat asli, selama kita merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban kita, djanganlah kita  mengharap akan dapat mendjauhkan anak-anak kita dari keinginannja  hidup seperti Belanda-polan. Sebaliknja: kalau anak-anak kita dapat kita didik sebagai anak-anak bangsa kita, agar djiwanja bersifat nasional dan mereka itu dapat kembali dan memegang kultur bangsa awak, jang sedjak abad jang lalu sudah tidak hidup lagi dalam dunia kita, karena hidup kita seolah-olah hidup dalam perhambaan, pertjajalah bahwa mereka itu akan merasa puas sebagai anak Indonesia. Dan kalau kita sudah membangkitkan pula hidup kebangsaan kita, tentulah alat-alat penghidupan asing jang berfaedah sadjalah jang kita ambil. Karena kita tidak lagi mabuk tjinta dan peribahasa ‘Tjinta itu buta’ tidak lagi mengenai diri kita; achirnja kita lalu dapat memilih dengan fikiran dan rasa jang jernih.” (baca juga: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya 1, Gramedia, Jakarta, 2008; 235-237)

Ki Hajar Dewantara pun mengingatkan betapa pentingnya kebudayaan lokal sebagai basis untuk memerkuat kebudayaan nasional dan bagaimana kita mesti  memperlakukan kebudayaan lokal tersebut. “…Tetapkanlah sebagai dasar kesatuan bahwa: Kebudayaan Nasional Indonesia ialah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan  yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang ciptaan baru, yang berjiwa nasional. Dalam pada itu janganlah segan-segan:

1. menghentikan pemeliharaan segala kebudayaan lama, yang merintangi kemajuan hidup perikemanusiaan

2. meneruskan pemeliharaan kebudayaan lama yang bernilai dan bermanfaat bagi hidup perikemanusiaan, di mana perlu dengan diperubah, diperbaiki, disesuaikan dengan alam dan zaman baru

3. memasukkan segala bahan kebudayaan dari luar ke dalam alam kebudayaan kebangsaan kita, asalkan yang dapat memperkembangkan dan atau memperkaya hidup dan penghidupan bangsa kita (K. H. Dewantara, Kebudayaan Nasional dan Hubungan dengan Kebudayaan Bangsa-Bangsa Lain dalam Buku Peringatan Taman Siswa 30 Tahun, Cetakan III, Yogyakarta, 1981;h.120))

Jadi jelas bahwa kerja kebudayaan seperti yang sedang kita kerjakan ini harus dipandang penting, bukan sambil lalu dan sangat strategis dalam upaya pembangunan bangsa terlebih untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 nanti. Dalam kerangka Tri Sakti Presiden Sukarno, kebudayaan yaitu kebudayaan yang berkepribadian, berjati diri adalah sakti ketiga yang menjadi landasan untuk memperkuat kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Tanpa kerja kebudayaan yang serius seperti mengenal bangsa sendiri melalui tradisi dan ritual para leluhur, kita akan tersesat di berbagai arus perubahan dunia.

Berkaitan dengan tema kita, tradisi dan ritual di Kabupaten Tangerang. Berikut aku coba carikan macam-macam ritual dan tradisi di Tangerang sebagai motivasi dan inspirasi:

  1. Peh Cun: Festival Perahu Naga di Sungai Cisadane. Peh Cun merupakan tradisi masyarakat Cina Benteng yang diadakan saat perayaan hari kelima bulan kelima penanggalan Tionghoa. Ritual ini meliputi perlombaan perahu naga di Sungai Cisadane, mendirikan telur pada tengah hari, dan memakan bacang.
  2. Nadran: Upacara adat masyarakat pesisir utara, sebagai ungkapan syukur atas hasil laut dan doa keselamatan.
  3. Sedekah Bumi: Tradisi syukuran hasil panen, memperkuat ikatan sosial antarwarga.
  4. Mapag Tirta: Tradisi menyambut musim tanam, dengan doa dan ritual di sumber mata air.
  5. Debus Banten: Seni bela diri yang sarat makna spiritual, simbol keberanian dan keimanan.
  6. Gambang Kromong: Orkes musik tradisional Betawi yang dipengaruhi budaya Tionghoa.
  7. Tari Cokek: Tarian khas Tangerang dengan pengaruh budaya etnik Cina.
  8. Silat Beksi: Seni bela diri akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi.
  9. Upacara Cio Tao: Tradisi pernikahan masyarakat China Benteng yang masih dipertahankan.
  10. Gotong Toapekong: Ritual arak-arakan patung dewa-dewi dari Kelenteng Boen Tek Bio yang diselenggarakan setiap 12 tahun sekali, simbol kerukunan dan budaya Tionghoa.
  11. Keramas Bareng di Sungai Cisadane: Tradisi menyucikan diri secara fisik dan jiwa dengan menggunakan merang (batang padi) menjelang bulan suci Ramadhan.
  12. Perayaan Imlek & Cap Go Meh: Perayaan meriah di kawasan Pasar Lama dengan atraksi barongsai, lampion, dan arak-arakan.
  13. Jalan Sarungan: Jalan santai mengenakan sarung untuk melestarikan kearifan lokal dan mempererat kebersamaan.
  14. Maulid Nabi di Sungai Cisadane: Doa bersama di tepi sungai dengan membawa aneka sesajen, buah, dan kue tradisional.
  15. …………. (silahkan ditambahkan)

Tradisi-tradisi, seni pertunjukan dan ritual  ini telah menjadi simbol persatuan dan keberagaman budaya di Tangerang. Kesemuanya itu juga  menunjukkan kekayaan budaya Tangerang yang patut dicatat, ditulis untuk mendapat pelajaran sehingga berguna untuk generasi sekarang dalam meraih dan mewujudkan tujuan nasional bangsa kita: Preambule UUD 1945: “Memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Tangerang, 1 Maret 2026

*Disampaikan  untuk Bimtek Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal: Tradisi dan Ritual yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Pemeritah Kabupaten Tangerang.

Referensi

  1. Dewantara, K.H. (1981). Kebudayaan Nasional dan Hubungan dengan Kebudayaan Bangsa-Bangsa Lain dalam Buku Peringatan Taman Siswa 30 Tahun, Yogyakarta.
  2. Lombard, Denys. (2008). Nusa Jawa: Silang Budaya 1, Gramedia, Jakarta.
  3. Urusan Adat-Istiadat dan Tjeritera Rakjat Djawatan Kebudajaan Departemen P.D. dan K. (1965). Brosur Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat. Djakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *