
Pendahuluan: Cermin yang Retak
Musik pada hakikatnya bukan sekadar deretan nada belaka, melainkan adalah cermin zaman. Ia adalah rekaman jujur tentang apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dialami oleh sebuah bangsa. Akan tetapi, jika kita lihat industri musik Indonesia hari ini, cermin tersebut tampak buram. Yang terlihat dari cermin tersebut hanyalah pantulan wajah-wajah kelas menengah yang sedang galau karena perselingkuhan, terjebak dalam cinta segitiga yang estetis, atau meratapi nasib karena ghosting.
Kita telah kehilangan keberanian dan idealisme, seperti yang diperlihatkan oleh para musisi masa lalu. Mereka adalah kaum kreatif yang tidak takut kotor, berani berbaur dengan debu jalanan, dan memanusiakan mereka yang terbuang—para pramuria, pelacur, buronan, hingga anak jalanan yang luput dari pandangan mata pemerintah.
Era Emas Empati: Membela yang Terhina
Pada dekade 70-an hingga 90-an, lirik lagu Indonesia memiliki muatan sosiopolitik yang sangat kuat, meski dibalut dengan melodi pop yang manis. Salah satu yang menarik perhatian saya dalam era ini adalah lagu Kisah Seorang Pramuria yang dibawakan oleh Black Brothers maupun The Mercy’s. Jika kita jeli, sebenarnya ada kekeliruan logika pada judulnya. Melihat liriknya yang berbunyi, “Hidupku yang hina ini, berteman dengan seorang gadis…”, judul yang lebih akurat seharusnya adalah Kisah Teman Seorang Pramuria.
Namun, di situlah letak kekuatannya. Si “Aku” dalam lagu tersebut adalah sosok pria yang tidak malu mengakui “hidupku yang hina ini” hanya karena ia memilih untuk mencintai seorang gadis yang profesinya dipandang rendah oleh moralitas masyarakat. Ia tidak berusaha mengubah si gadis, ia hanya ingin menemaninya. Ada sebuah “Cinta Suci” yang ditempatkan sebagai benteng perlawanan terhadap stigma sosial.
Senada dengan itu, Koes Plus melalui Bunga di Tepi Jalan memberikan metafora puitis yang sangat dalam. Mereka menyebut para perempuan marginal ini sebagai “bunga”, sebuah pengakuan akan martabat dan keindahan yang terabaikan karena semua orang cuma mau lewat tanpa sudi berhenti. Sementara itu, Titiek Puspa dalam Kupu-Kupu Malam melakukan pembelaan moral yang sangat menohok. Ia mengingatkan kita bahwa “dosa” yang dilakukan sang perempuan sering kali adalah satu-satunya cara untuk menyambung hidup keluarganya. Titiek Puspa seolah bertanya pada kita: suci kah kita yang hobi menghina sementara mereka berjuang sendirian demi sesuap nasi?
Puncak Realisme: Solidaritas Dunia Hitam
Puncak dari karya lagu yang berani menyuarakan kaum terhina terdapat pada karya Iwan Fals dan Slank. Iwan Fals dalam lagu Lonteku kelihatan sama sekali tidak menggunakan eufemisme atau penghalusan bahasa. Di tengah sensor Orde Baru yang ketat, Iwan menggunakan kata yang paling kasar untuk menunjukkan sebuah ketulusan yang paling murni.
Lagu ini bercerita tentang hutang budi seorang pria (mungkin seorang buronan atau aktivis) kepada seorang PSK yang menyelamatkannya dari kejaran aparat. “Sembunyilah-sembunyi ucapmu, nampak jelas rasa takut di wajahmu, saat petugas datang mencariku…” Ini bukan sekadar lagu cinta menye-menye, melainkan proklamasi solidaritas kaum marginal yang terpinggirkan oleh sistem. Di sana, si “Lonte” bukan objek pemuas nafsu, melainkan seorang pahlawan.
Slank kemudian meneruskannya dengan lagu Jinna—sebuah potret tragedi sistemik seorang anak jalanan yang hancur bukan karena keinginannya, tapi karena keluarga yang berantakan dan lingkungan yang kejam. Slank menunjukkan bagaimana “orang-orang besar” mampir hanya untuk memuaskan nafsu pada gadis belasan tahun yang tak punya tempat mengadu. Di album Lagi Sedih, Slank merilis Kupu-Kupu Liarku yang sangat radikal. Mereka secara sadar menerima kenyataan ketika fisik sang kekasih “dijamah orang-orang,” namun tetap berpandangan bahwa kesucian hati adalah milik yang abadi.
Cengkeraman Kapitalisme dan Standarisasi Rasa
Memasuki era 2000-an, sistem kapitalisme musik mulai bekerja dengan sempurna dan kejam. Selera pasar menjadi panglima tunggal, atau penentu utama, populer atau tidaknya sebuah lagu ddi masyarakat. Industri musik beralih total ke tema-tema yang “aman,” “estetik,” dan tentu saja marketable, atau yang laku di pasaran. Musisi tidak lagi bicara soal pelarian dari aparat, tapi pelarian dari tanggung jawab asmara.
Bahkan grup musik sebesar Dewa 19, yang sebelumnya sukses dengan berbagai lagu idealis dan puitis dalam album Bintang Lima, pada akhirnya harus berkompromi. Ahmad Dhani, seorang musisi jenius, pentolan Dewa 19, mulai memproduksi lagu-lagu yang melulu bertemakan pencarian cinta seperti Arjuna, Pupus, atau Mistikus Cinta. Meski secara musikalitas mewah, arah narasinya sudah bergeser dari isu kemanusiaan yang luas menjadi isu romansa individu.
Era ini juga ditandai dengan ledakan lagu-lagu perselingkuhan seperti Sephia (Sheila on 7), My Facebook (Gigi), atau Kekasih Gelapku (Ungu). Meski secara estetika lirik sangat bagus, lagu-lagu ini kehilangan dimensi sosialnya. Konfliknya hanya seputar ego individu dalam hubungan gelap: rasa bersalah karena menduakan, atau sedih karena harus berpisah di tengah malam. Tidak ada lagi stigma “hina” yang dilawan secara kolektif. Musisi sejak saat itu cenderung melihat kenyataan sosial hanya “dari balik kaca mobil,” persis seperti sindiran Slank dalam lagu Jinna. Mereka tahu ada kemiskinan dan prostitusi di lampu merah, tapi mereka lebih memilih menulis lagu tentang betapa sakitnya diputusin lewat WhatsApp, atau diselingkuhi oleh pasangannya.
Kesimpulan: Kerinduan akan Suara Jalanan
Hari ini, masyarakat kita sebenarnya masih menghadapi masalah sosial yang sama, bahkan mungkin lebih parah. Namun, para musisi kita seolah telah kehilangan “taring” untuk melawan arus. Estafet narasi “Sephia” kini diteruskan dengan lebih masif dalam balutan “galau estetik” ala Bernadya atau Hindia. Kita ditarik masuk ke dalam ruang privat yang sangat sempit: urusan kesehatan mental, luka batin karena ekspektasi asmara, atau melankolia kelas menengah urban. Penderitaan kolektif rakyat di pinggir jalan kini digantikan oleh penderitaan individu di layar smartphone. Musik kita telah menjadi apotek yang menyediakan obat penenang bagi kegelisahan personal, tapi lupa menjadi pengeras suara bagi mereka yang perutnya keroncongan.
Kapitalisme telah mengubah musisi menjadi pelayan algoritma, bukan lagi saksi sejarah atau corong suara rakyat. Jika mereka nekat menyanyikan lagu tentang pembelaan terhadap PSK atau anak jalanan, apakah label akan melirik? Apakah playlist utama Spotify akan memutar?
Kita merindukan para musisi yang berani kembali ke jalanan, memahami penderitaan rakyat, dan menggenggam tangan mereka yang terbuang. Persoalannya bukan hanya ketiadaan semangat juang dari musisi baru, namun beban hidup yang meningkat tajam. Di tengah biaya hidup yang mencekik, musisi dipaksa memilih: menyuarakan kebenaran tapi lapar, atau menyanyikan perselingkuhan tapi kenyang. Akhirnya, harga diri manusia turun drastis sementara harga barang terus naik.
Kita butuh musik yang kembali berani berkata kepada dunia: “Aku tak peduli apa kata mereka, karena cintaku ini dari hati yang suci.” Karena pada akhirnya, fungsi seni yang paling luhur adalah memanusiakan manusia, terutama mereka yang sudah dianggap bukan manusia oleh lingkungannya.
Ditulis oleh: Harsa Permata


