
Hari ini genap empat tahun sejak Fatimah, anak bungsu Usman dan Annie, dilahirkan—pada dini hari Kamis yang sepi. Sejak kecil ia tumbuh dengan cara yang berbeda, dan—seperti yang baru mereka pahami setelah konsultasi dokter—Fatimah berada pada spektrum autisme dan belum dapat berbicara.
Usman, yang saat itu sedang menonton pertandingan Liga Champions antara Paris Saint-Germain dan Manchester City, dikejutkan oleh Annie yang meminta diantar ke rumah sakit.
Ketuban Annie telah pecah; air menggenangi lantai rumah. Ia panik dan menahan sakit luar biasa. Tanpa pikir panjang, Usman segera membawanya dengan sepeda motor, sesuai permintaan Annie—ia tidak mau Ali terbangun oleh suara mobil.
Setelah Annie masuk ruang persalinan, Usman pulang untuk mengambil mobil dan memandikan anak sulungnya, Ali, yang masih pulas di kasur. Untung hari itu Ali libur karena bertepatan dengan Hari Guru, sehingga Usman tak perlu memikirkan bagaimana mengantarnya ke sekolah di tengah situasi genting seperti ini.
Ali, yang menyandang Spinal Muscular Atrophy—kelainan saraf tulang belakang—harus menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya. Untuk memindahkannya dari kasur ke kursi roda atau ke mobil, Usman biasanya menggendongnya secara manual. Teknik ini membutuhkan konsentrasi, fokus, dan tenaga ekstra. Sejak awal 2020, setelah pinggangnya terserang HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yang membuatnya tak bisa duduk atau berdiri selama beberapa jam, Usman wajib mengenakan korset setiap kali mengangkat Ali. Belakangan ia menemukan sabuk angkat besi di sebuah toko olahraga—dan sejak itu sabuk itulah yang selalu ia kenakan.
Karena itu ia sedikit lega ketika tahu bahwa hari itu, 25 November 2021, Ali libur sekolah. Setelah memandikan Ali, ia menjemput tiga keponakan Annie—anak-anak Sulis dan Admo: Ira, Satrio, dan Nindya. Mereka menemani Ali sementara Usman kembali ke rumah sakit melihat kondisi Annie.
Saat memandikan Ali, ia bercerita bahwa Bundanya tengah melahirkan adik yang selama ini Ali idamkan. Ali sangat gembira mendengar kabar itu. Tangan kecilnya menggenggam tangan Usman—dingin dan berkeringat—antara excited dan cemas, memikirkan kondisi Bunda dan adiknya.
Ali memang sejak dulu selalu berdoa agar diberi adik. Ia kerap menangis kesepian dan merasa sendiri. Annie pun tak bisa berbuat banyak ketika Ali merengek meminta adik waktu itu.
Sejak akhir 2020, Usman mulai mengonsumsi obat hormon untuk meningkatkan kadar testosteronnya, yang sangat rendah. Tujuannya adalah supaya bisa menghasilkan sperma yang mampu membuahi sel telur Annie. Pada awal Maret 2021, Annie dinyatakan positif hamil. Mereka bertiga—Usman, Annie, dan Ali—sangat gembira dengan kabar itu.
***
Sesampainya di rumah sakit, proses kelahiran ternyata masih berlangsung. Ia belum dapat menemui Annie. Usman kembali keluar dan berkeliling dengan sepeda motornya: ke arah Ring Road Utara, melewati pertigaan menuju Bandara Adisutjipto, lalu masuk jalur lambat dan menelusuri jalan-jalan kecil di pinggiran Selokan Mataram.
Hal itu berlangsung hingga sekitar pukul dua belas siang. Dalam hati, Usman sangat cemas memikirkan keadaan istrinya dan bayi yang akan lahir hari itu. Sebuah pesan WhatsApp dari Annie akhirnya masuk—amat melegakan.
“Yah, nanti ke sini sore sekitar jam lima-an ya, Yah.”
“Oke, Bunda. Nanti aku ke sana jam segitu. Bunda bagaimana kondisinya?” balas Usman.
Tak ada jawaban. Usman mengira Annie kelelahan. Ia pun pulang sambil membeli makanan untuk Ali dan tiga sepupunya. Nasi ayam goreng tepung menjadi pilihan paling praktis dan murah untuk makan siang mereka, dibelinya di sebuah kedai dekat rumah.
Saat mereka makan, Usman mencoba memejamkan mata. Rasa kantuknya luar biasa; sejak malam ia belum tidur sama sekali.
Sekitar pukul tiga sore, Ali membangunkannya.
“Yah, Ayah enggak ke tempat Bunda?”
Usman gelagapan mendengarnya.
“I… iya, Nak. Sebentar Ayah mandi dulu, ya,” ucapnya sambil bergegas ke kamar mandi.
Sekitar pukul empat sore, ia sudah siap berangkat. Ia meneguk secangkir kopi agar kantuknya hilang. Saat meminum kopi, ia teringat mimpi saat tidur siang tadi: seekor iblis betina, tanpa busana, ingin mengambil bayi yang baru lahir. Ia dan istrinya berusaha sekuat tenaga melawan iblis itu. Untungnya ia terbangun oleh suara Ali.
Tepat pukul lima sore kurang seperempat, ia tiba di parkiran rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, ia langsung menuju kamar tempat istrinya dirawat. Di sana, ia tidak menemukan bayi mereka.
“Di mana bayinya, Bunda?” tanyanya pada Annie.
“Harus di inkubator dulu, Pak,” jawab seorang perawat perempuan yang kebetulan berada di samping Annie.
Annie hanya mengangguk lemah. Pengaruh bius tampaknya masih belum sepenuhnya hilang.
Tak berapa lama, Annie tertidur di kasurnya. Usman duduk di sofa memandangi istrinya dalam diam, tetapi pikirannya gaduh seperti berteriak.
“Bagaimana keadaan anakku, ya? Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” ucap Usman dalam hati. Ia berdoa kepada Tuhan agar istrinya dan anaknya selamat.
***
Usman berada di luar ruang inkubasi. Dilihatnya anaknya yang masih bayi itu di dalam inkubator; napasnya terlihat satu-satu, kadang cepat kadang pelan. Tiba-tiba iblis betina dalam mimpinya itu muncul lagi—bergantung di atas inkubator anaknya, payudaranya menjuntai dengan puting merah kecokelatan.
Usman panik sekali. “Tolong, tolong, bukakan ruang inkubasinya! Saya mau menyelamatkan anak saya!” ucapnya setengah berteriak.
“Tenang saja, Pak, anak Bapak aman kok,” tutur suster penjaga ruang itu dengan lembut.
“Celaka! Suster ini ternyata tidak lihat iblis itu!” ucap Usman dalam hati.
Dibacanya doa mohon perlindungan kepada Tuhan, supaya mereka sekeluarga dilindungi dari setan dan iblis terkutuk. Usman berdoa sambil menangis.
Ia ingat sekali ratapan Ali dalam doanya setiap malam, “Ya Tuhan, semoga Ali punya adik.”
Doa Ali itu terngiang-ngiang dalam kepalanya.
“Pak, Pak!” suara suster tadi membangunkan Usman, yang rupanya tertidur di sofa di sebelah kasur tempat Annie berbaring.
“Ini, Pak, putri Bapak. Silakan kalau Bapak mau menggendongnya sebentar. Sehabis ini mau disusui oleh ibunya.”
“Oh, alhamdulillah, anak saya perempuan,” ucap Usman bersyukur. Dari tadi tak ada yang memberi tahu bahwa istrinya melahirkan anak perempuan.
Kemudian dikumandangkannya azan dengan lirih ke telinga anaknya itu.
Saat disusui, Usman bilang ke Annie bahwa tadi ia sudah berdiskusi dengan Ali tentang nama adik Ali yang baru lahir ini. Ali mengusulkan nama Fatimah, sementara Usman mengusulkan Aisyah. Mereka kemudian bersepakat bahwa nama Fatimah lebih cocok dengan Ali. Annie juga mengangguk setuju dengan nama itu.
Setelah tiga hari dirawat, Annie diperbolehkan pulang bersama bayinya. Usman menjemputnya ke rumah sakit.
Di rumah, Ali bersama tiga sepupunya, Sulis, dan anak Mas Yanto, Danis, menyambut kedatangan mereka.
Di dalam rumah, Sulis langsung menggendong anak Usman dan Annie tersebut.
“Lha kok mukanya mirip aku?” tanya Sulis heran.
“Ya enggak apa-apa tho, kamu kan Budenya, Lis,” ujar Annie sambil terkekeh.
Usman sebenarnya juga agak kaget ketika melihat wajah Fatimah; hidungnya yang lebar mirip sekali dengan hidung Sulis. Akan tetapi, setelah sadar bahwa istrinya dan Sulis adalah saudara kandung, rasa kaget itu mereda.
***
Usman tersadar dari lamunan panjangnya, mengenang kelahiran Fatimah empat tahun lalu. Suasana hari itu terasa jauh berbeda dengan hari ini. Atas kehendak Tuhan, pada ulang tahun Fatimah tahun ini, ia bahkan tidak mampu membelikan kue tart untuk merayakan ulang tahun anak bungsunya.
Annie terlihat sedih sekali. Matanya basah berkaca-kaca.
Usman bingung harus merespons. Ia hanya bisa menenangkan istrinya dengan berkata, “InsyaAllah kalau ada uang nanti kita beli kue ulang tahun untuk Fatimah, Bunda.”
Annie hanya terdiam dalam tangisnya. Tidak mengangguk, tidak pula menggeleng.
Usman pun tidak bertanya atau berkata apa-apa lagi. Ia hanya menerawang, memandangi Fatimah yang sedang menonton televisi dari jarak dekat.
Beberapa kali digendongnya Fatimah untuk menjauhkannya dari layar televisi, namun anak bungsunya itu tetap kembali ke jarak sebelumnya. Hal-hal kecil seperti ini pernah terasa sederhana bagi Usman di masa ketika kondisi keuangan keluarganya masih sangat baik.
Mereka dulu juga tidak kurang bersedekah dan memberi kepada orang-orang yang tidak mampu. Entahlah, Usman bingung akan keadaan mereka sekarang ini.
Semua sumber penghasilan sudah dicobanya: mengajar di beberapa kampus sebagai dosen honorer, hingga menjadi ghost writer untuk beberapa tokoh yang ingin menerbitkan buku atas nama mereka. Namun setiap bulan, mereka selalu mengalami kondisi ketika uang benar-benar habis, baik di rekening maupun di dompet. Saat itulah ia terkadang meminjam kepada teman-temannya. Sebagian bersedia membantu, meski Usman sering merasa tak enak karena harus merepotkan mereka terus-menerus.
Sebenarnya ia berharap bahwa hari ini, fee dari pekerjaannya sebagai editor jurnal ilmu politik—rintisan Mas Yanto, kakak iparnya—turun. Dengan begitu, ia bisa membelikan kue tart untuk ulang tahun Fatimah. Akan tetapi, sampai sore sebelum maghrib, tidak ada tanda-tanda bahwa fee itu akan dikirimkan. Ketika Annie bertanya ke Mas Yanto lewat pesan WhatsApp, balasannya hanya singkat: “InsyaAllah minggu depan.”
Usman paham fee itu baru bisa cair ketika pengajuan ke bagian keuangan di kantor Mas Yanto disetujui.
“Mungkin memang masih proses,” pikir Usman.
Fatimah yang tidak tidur sedari siang akhirnya terlelap lebih awal, pada pukul delapan malam. Biasanya ia akan terbangun lima atau enam jam kemudian.
Saat suasana rumah mulai tenang, tiba-tiba Gus Ramzy, seniornya yang juga pimpinan sebuah pondok pesantren di Yogyakarta, mengirim pesan WhatsApp kepada Usman.
“Assalamualaikum Man, besok malam bisa ketemu? 30-an menit. Jam 20.00-an. Ada pekerjaan kalau mau.”
“Waalaikum salam, siap Gus, bisa, insyaAllah,” jawab Usman.
Wajahnya kembali cerah. Harapannya tumbuh lagi: mudah-mudahan bayaran dari pekerjaan itu bisa digunakannya membeli kue ulang tahun untuk Fatimah, anak bungsunya.
Ditulis oleh: Harsa Permata


