
Kami menuntut perubahan
teriak mengguncang jalan
Kami lapar…
Tapi engkau hanya. Mempertontonkan
perut buncit kekenyangan.
Kami haus kecerdasan
cahaya akal pembebasan
Tapi engkau beri kami hanya seteguk harapan
agar kami lupa arah dan perlawanan.
Engkau. Ya engkau bisikkan kidung surga
di telinga buruh yang berkeringat,
engkau tampakkan amarah
Tapi di layar kaca penuh sandiwara seolah engkau pahlawan.
Semua hanya pemuas Lelah
peluh kami jadi hiburan,
agar kami bermimpi semu
bahwa engkaulah pembawa keberkahan.
Di alam candradimuka
katamu negeri subur loh jinawi,
namun hidangan kami gersang
sehingga harapan layu setelahnya.
Ingatlah wahai Serakahnomics
api rakyat tak selamanya sunyi,
selama bara terus menyala
sejarah akan menulis gugurnya dusta di negeri ini.
Annisa Lituhayu, 25 April 2026


