Di antara luka dan keheningan, kebenaran tak pernah benar-benar mati—ia hanya dipaksa mencari jalannya sendiri di reruntuhan manusia (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI/ChatGPT)

Karya: Fanda Puspa (Founder RUWANG)

Sebelum luka menjelma nyata,
ada yang lebih dulu retak
bukan kulit,
melainkan kepercayaan
apakah manusia masih menjadi manusia.

Di suatu ruang yang tak kasatmata,
nurani sempat bergetar… lalu meredup.
Hari ini, kita tidak sekadar merangkai kata.
Kita sedang menyentuh puing-puing makna
yang tercecer dari peristiwa
Namun terlalu getir untuk disebut kejadian.

Satu tubuh diserang
dan bersama itu,
kebenaran dipaksa berlutut.

Dari reruntuhan itulah
kata-kata ini dipungut:
bukan sebagai penghiburan,
melainkan sebagai teguran
bahwa bungkam
adalah ibadah paling gelap
yang pernah diciptakan manusia.

Wajah…
Wajah…
pada asalnya adalah tempat cahaya bersemayam.
Namun di zaman yang letih ini,
ia berubah menjadi altar
tempat kebenaran disembelih perlahan.

Yang diserang bukanlah wajah.
Bukan.
Melainkan kemungkinan,
bahwa manusia bisa berdiri tegak
demi yang namanya kebenaran.

Asam itu jatuh
seperti takdir yang dipaksa,
seperti doa yang dibalikkan arah.

Ia bukan sekadar cairan,
melainkan amarah yang kehilangan Tuhan,
dan pikiran yang kehilangan firman.

Apa arti wajah
jika ia bisa dilenyapkan oleh angkara murka?
Apa arti kebenaran
jika ia harus menebus dirinya
dengan daging dan cahaya mata?

Namun yang lebih mengerikan dari luka
adalah kehampaan setelahnya
sunyi yang dipelihara
oleh mereka yang diberi mandat untuk bersuara.
Di mana suara itu ?
ketika keadilan dipanggil dengan jerit?

Atau barangkali, atau barangkali…..
ia tersesat di Lorong-lorong birokrasi,
tertidur di balik dokumen,
atau bersujud terlalu lama
pada kenyamanan?

Diam bukan sekedar hampa.
Ia adalah keputusan yang berwujud sunyi.
Dan setiap pengabaian
adalah doa yang tidak pernah sampai ke langit
sementara luka terus berzikir dalam perihnya.

Di titik ini!!
Sodara kita bukan lagi nama.
Ia menjelma ayat yang terbuka
yang membacakan kita kembali
pada satu pertanyaan purba:
“berapa harga kebenaran
di negeri yang dikuasai kekejaman ?”
Dan kita…
tidak pernah benar-benar sebagai penonton.
Setiap luka yang dibiarkan
akan beranak menjadi kebiasaan.

Setiap bungkam yang dipelihara
akan menjadi rahim
bagi kekerasan berikutnya.

Maka hari ini
jangan tutup ini dengan simpati.
Simpati terlalu fana,
untuk luka yang dipahat sedemikian dalam.

Yang dibutuhkan adalah keberanian dan kejujuran
yang tidak mencari rasa aman,
yang tidak tunduk pada si tuan,
yang tidak mengabaikan kemanusiaan.

Suatu hari nanti,
peristiwa ini bisa saja ditinggalkan sebagai arsip,
dibaca, dibahas, lalu dilupakan perlahan.

Tapi ada satu hal
yang tak akan pernah ikut selesai:
sebuah pertanyaan, yang tidak kita jawab hari ini.

Dan waktu……
ia tidak pernah menghapus luka,
ia hanya memastikan
kita hidup cukup lama
untuk menyaksikan kebenaran yang terus
mencari jalannya sendiri.
Karena yang tidak murni akan terbakar Mati…!!

*Puisi ini dibawakan dalam panggung solidaritas untuk saudara kita Andrie Yunus, yang diselenggarakan oleh NocturNo x Kolektif Merpati pada 10 April 2026 di Komnas HAM RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *