
Oleh: AJ Susmana
Dunia sedang disimpulkan tidak baik-baik saja. Masing-masing Negara sedang mementingkan diri-sendiri. Apa yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela: Nicolas Maduro adalah contoh gamblang. Negara yang kuat akan memakan negara yang lemah dengan berbagai alasan yang bisa dibuat semaunya.
Peristiwa seperti yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela sebagai tindakan hukum, ternyata pernah juga terjadi di Indonesia kuno yaitu pada abad ke-13 Masehi yaitu ketika Kubilai Khan, penguasa dunia saat itu, menuduh Kertanagara, Raja Singhasari, melakukan perdagangan ilegal, tidak mau membayar pajak; malah melukai menteri keuangan Mengki utusan Kubilai Khan. Atas alasan itulah Kubilai Khan mengirimkan bala tentara Mongol untuk melakukan ekspedisi penghukuman.
Tetapi Kertanagara bukanlah raja yang bodoh yang tidak mengetahui perkembangan dunia saat itu sebagaimana raja-raja Jawa sebelumnya yang lebih sibuk berkontradiksi di dalam. Sebagaimana kita tahu, politik menyatukan Nusantara oleh Kertanagara tumbuh dengan bersemangat karena dihadapkan pada politik penaklukan Kekaisaran Mongol yang berjubah Tiongkok di bawah komando tertinggi: Khubilai Khan, pendiri Dinasti Yuan.
Kertanagara tentu saja tahu akibat-akibat menentang Khubilai Khan. Jauh hari sebelum Dinasti Song Selatan dihancurkan Khubilai Khan pada tahun 1279 Masehi, Kertanagara pun sudah mulai bersiap menghadapi penyerangan Mongol dengan mengirimkan bala tentara melalui ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 agar bisa mencegah bala tentara Mongol memasuki perairan Jawa dan menjalin persekutuan dengan negara-negara Asia Tenggara, seperti Champa yang menolak tunduk pada Kekaisaran Mongol, kekuatan super power pada waktu itu.
***
Pada awal Januari 1293, Pasukan Mongol sudah sampai di Belitung: menyusun strategi penyerangan, membikin perahu dan berbagai hal untuk penyerangan. Pada bulan Maret, pasukan Mongol tiba di Tuban tapi disambut Dyah Wijaya, menantu Raja (Kertanagara) yang terguling, untuk bersama menyerang Kadiri yang telah menggantikan Singhasari. Cerita selanjutnya, kita ketahui: Kadiri jatuh dan Wijaya bersama pasukannya berhasil mengakali pasukan Mongol dan mengusir pergi dari tanah Jawa.
Peristiwa pengusiran Mongol itu dikenang dengan baik oleh masyarakat sampai pada hari ini. Hari Jadi Kota Surabaya pun didasarkan pada peristiwa historis dan heroik pertempuran pengusiran pasukan asing Mongol tersebut, yaitu pada 31 Mei 1293.
“Kertanagara” pun seakan tidak mau ketinggalan memperkuat kedudukan, memberkahi dan melindungi kota perlawanan dan kota kemenangan tersebut. Pada tahun 1817, Kertanagara dalam wujud Aksobhya yang dikenal masyarakat sebagai Joko Dolog bergeser dari tempatnya semula di Wurare ke Surabaya; Residen Baron A.M. Th. De Salis sepertinya tak sanggup membawanya ke luar negeri sehingga ditinggalkan di Surabaya.
Tidak heran, 652 tahun kemudian Kota Surabaya juga tidak menyerah ketika pasukan asing yang datang sebagai pemenang Perang Dunia II dengan angkuh meminta rakyat Surabaya menyerah dan meletakkan senjata. Sebagaimana peristiwa di Ujung Galuh, 652 tahun yang lalu, pertempuran penghabisan mengusir Mongol, rakyat Surabaya pun hampir pasti menggulung dan mengusir Inggris keluar dari Surabaya seandainya tidak diintervensi oleh pemerintah pusat yang tergopoh-gopoh mendatangkan Amir Syarifuddin dan Bung Karno.
Sekali lagi, Kota Surabaya membuktikan diri sebagai Kota Perlawanan dan Kemenangan. Pemerintah Pusat pun memaknai hari itu sebagai Hari Pahlawan: 10 November. Tentu sudah layak dan sepantasnya mengingat bagaimana kota itu dibangun dengan semangat heroik: 733 tahun yang lalu mengusir invasi asing: Mongol, negara terkuat di dunia saat itu.


