
Catatan Bung Aguk Irawan
Mungkin benar apa yang dikatakan Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Bagi saya, nama Hersri Setiawan tidak datang dari ruang baca yang sunyi, melainkan dari gemuruh polemik kebudayaan 1965.
Ia adalah gema yang saya temukan dalam deretan arsip Majalah Horison dan ketegangan prahara budaya, sebelum akhirnya saya sempat bersentuhan dengan sajak-sajaknya yang liris namun tajam. Hersri, sosok aktivis dan sastrawan Lekra itu, adalah teka-teki dan mungkin juga “misteri”, sekaligus saksi sejarah kebudayaan kita yang masih ada.
Dalam bayangan saya, ia seperti pengelana yang terlempar ke tepi sejarah. Awal 2000-an, ketika jagat maya mulai mengudara, saya mendapati beliau sempat aktif di mailing list dan beberapa situs web, memberi perspektif yang berbeda—bahkan sering kali kontras—tentang peristiwa 1965 dan mengapa para eksil harus terasing di negeri asing.
Ia tidak bicara sebagai korban yang meratap, melainkan sebagai saksi yang menagih tanggung jawab sejarah. Baginya, sejarah bukanlah narasi tunggal para pemenang, melainkan serpihan cerita mereka yang kalah namun menolak tunduk. Sembilan puluh tahun, Bung. Sebuah angka yang tidak sedikit, namun ingatan Bung Hersri tampak menolak renta.
Hersri Setiawan telah mengajarkan kepada kita bahwa puisi dan politik tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan, terutama dalam konteks sejarah Indonesia yang “amnesia” ini. Sebagai eks-tapol Pulau Buru, ia adalah bukti fisik bagaimana kemanusiaan dirampas, namun kreativitas menolak mati. Ia membawa pulang cerita dari “tanah air beta” yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan, meski secara fisik sempat terdampar di Belanda.
Selamat ulang tahun, Bung Hersri. Terima kasih telah konsisten menjadi duri dalam daging amnesia kolektif kita. Engkau membuktikan, melampaui polemik dan ideologi, bahwa seorang penyair sejati adalah ia yang tetap menulis, meski hanya dengan jari di atas abu penderitaan.

Catatan Dr. Wildan Sena Utama
(Penulis buku Sejarah Gerakan Afro Asia, Dosen Departemen Sejarah, FIB UGM)
Menghadiri perayaan 90 tahun Pak Hersri Setiawan tiga hari yang lalu memberi saya kesadaran lain tentang pentingnya membaca kembali sejarah kebudayaan Indonesia dalam cakrawala yang lebih luas. Pak Hersri merupakan Ketua Lekra Jawa Tengah yang ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia untuk Biro Tetap Pengarang Asia-Afrika di Kolombo pada awal 1960-an.
Orang-orang seperti Pak Hersri dan para aktivis kebudayaan Lekra yang terlibat dalam gerakan pengarang Afro-Asia adalah mereka yang satu kakinya menjejak kuat di Indonesia, sementara kaki lainnya berada di dunia yang luas tanpa batas. Satu kakinya berakar pada pengalaman dan perjuangan aktivisme di Indonesia, sedangkan kaki lainnya melangkah mengelilingi dunia untuk mengampanyekan solidaritas Asia-Afrika dan pembebasan.
Lekra adalah organisasi yang paling bersemangat dalam gerakan pengarang Afro-Asia. Gerakan ini mendorong dekolonisasi kebudayaan, mengangkat kebudayaan rakyat, dan memperkuat solidaritas internasional demi menciptakan dunia baru. Kita sering lupa bahwa worldmaking bukan hanya perkara dekolonisasi politik dan ekonomi, tetapi juga dekolonisasi kebudayaan.
Worldmaking bukan sekadar intervensi institusional untuk menciptakan sistem internasional yang lebih adil. Ia juga lahir dari imajinasi dan keterlibatan rakyat Asia-Afrika dalam membangun dunia baru yang dibentuk oleh kebudayaan yang merdeka. Kebudayaan adalah basis. Dan hal itu disadari betul oleh Pak Hersri, para aktivis Lekra, serta para penulis kiri Indonesia yang bergabung dalam gerakan pengarang Afro-Asia.
Untuk membangun dunia pascaimperial, Pak Hersri memahami bahwa kita memerlukan pengetahuan, identitas, sejarah, dan kebudayaan Asia-Afrika yang selama ini direpresi kolonialisme dan imperialisme. Sebab, untuk membangun dunia baru, Asia dan Afrika harus menghadirkan aspirasinya sendiri tentang dunia yang lebih inklusif dan adil.
Keterlibatan Pak Hersri di Biro Tetap Pengarang Asia-Afrika juga sangat krusial. Biro Tetap ini bukan sekadar kantor administrasi, melainkan “otak dan mesin” gerakan pengarang Afro-Asia. Ia menjadi otak karena di sanalah berbagai isu penting dirumuskan, program-program gerakan dibentuk, kerja kolektif diproduksi, dan hubungan antaraktivis dikoordinasikan.
Ia juga menjadi mesin karena terus merawat solidaritas Afro-Asia dengan mengampanyekan pembebasan lintas bangsa melalui media, pertemuan internasional, serta jaringan kebudayaan yang melintasi Asia dan Afrika.
Di sana, Pak Hersri berdampingan dengan tokoh-tokoh besar seperti Mulk Raj Anand, Mursi Saad el-Din, dan George Awoonor Williams. Mereka adalah para intelektual yang percaya bahwa kebudayaan dapat menjadi alat pembebasan dunia pascakolonial.
Kita membutuhkan dokumentasi yang lebih serius tentang keterlibatan Pak Hersri dalam gerakan pengarang Afro-Asia agar kita dapat belajar dan berefleksi mengenai apa yang dibutuhkan negara-negara Dunia Selatan hari ini untuk mengubah dunia.
Selamat ulang tahun ke-90, Pak Hersri. Kehidupan Anda mengajarkan bahwa mengubah dunia tidak hanya membutuhkan ide-ide radikal, tetapi juga komitmen radikal untuk memperjuangkannya, bahkan ketika seseorang harus menerima konsekuensi paling sunyi dari keyakinannya sendiri.


