
Karya: Unsar *)
Langit Jakarta mendung, sore jelang malam. seminggu sebelum pergantian tahun. Terminal Pulo Gadung riuh rendah teriakan calo, sopir dan kenek angkot mewarnai hiruk pikuk khas terminal. Pedagang asongan tak luput mengais rezeki dengan menawarkan dagangannya, bak bintang iklan bermanis manis muka menawarkan jajakannya. Tak ketinggalan pengamen dengan lantang menyayikan lagu lagu yang nakal, menggelitik dan sedikit menyinggung ketimpangan sosial negeri ini.
Sarno memilih bus jurusan Purwokerto dengan PO yang sama ketika ia meninggalkan kota tercinta duapuluh tahun lalu. Sambil menunggu dengan gelisah di bangku deretan nomor tiga dari depan samping jendela bis, ia memperhatikan sosok gadis belia dengan celana jeans biru telor asin, kaos warna putih di balut kemeja panjang kotak kotak sangat anggun di padu dengan jilbab ungu tua.
Sebenarnya Sarno enggan untuk pulang ke Purwokerto, dua hari yang lalu ia bertemu teman sekolah dasarnya di sebuah pangkalan truk ekspedisi. Ia mengabarkan kondisi keluarganya di Purwokerto. Berbekal deretan angka telphon selulernya maka Sarno bisa terhubung kembali dengan Yu Sarni kakak sulungnya setelah tujuhbelas tahun terputus segala komunikasi.
Lambat laun bangku bis mulai penuh terisi, nampak gadis cantik berjilbab ungu dengan tas ransel yang tidak begitu berat isinya menaiki tangga bis. Kenek menunjukan bangku kosong di sebelah Sarno. Gadis itu tersenyum dengan sopan seraya meletakan tas di kabin atas, ia langsung duduk, jemari lentiknya memainkan tombol tombol telephone selulernya, dan itu dilakukan tanpa henti sampai bis mulai berjalan. Seakan jemari bisa mengubah mulut untuk interaksi dengan seseorang disana.
Sarno asik menerawang masa lalunya ketika ia bersama kedua orangtua di Purwokerto. Hidup di kota kecil yang penuh kedamaian. Walau serba kekurangan tapi terasa bahagia dengan kondisi guyub rukun bersama kerabat dan tetangga. Saling berbagi, saling memberi sudah tak asing lagi, sekedar semanguk sayur bayam atau sepiring kecil oseng kangkung. Apalagi ketika hari raya, entah idul fitri, natalan bahkan bada china atau imlek, masing masing berkirim makanan dan tergantung siapa yang merayakan. Sungguh cerminan masyrakat penuh kebhinekaan.
Semilir angin gunung yang sejuk serta panas kadang menyengat, dengan sumber air minum nan jernih di sumur timba seolah tak pernah mengering di tiap rumah. Gunung Selamet di utara menjadi latar belakang yang gagah melindungi kota. Kabut pagi kadang tebal menyelimuti para pelajar ke sekolah, juga para perempuan tangguh penjual beceran dengan beban di atas kepala. Menambah khas isi kota.
Tiba tiba gadis cantik berjilbab ungu di sebelah memecah daya jelajah pikirannya. Ingatan tentang keindahan dan kenangan kecilnya terusik.
“maaf pak mau tanya. . . ., kira kira kalau sampai purwokerto jam berapa ya?” sedikit senyum sang gadis dengan mimik serius bertanya.
“mungkin sebelum subuh de,” jawab Sarno.
“terima kasih pak” sahut gadis cantik berjilbab ungu dengan senyum manisnya.
Sarno hanya menganggukan kepala. Sedikit berdesir perasaannya ketika melihat sepasang bola mata gadis itu. Seakan pernah menari nari dalam benak nya. Bola mata yang pernah singgah dalam hati yang terdalam. Bola mata yang indah dengan warna yang jernih seakan menusuk nusuk kembali. Tapi ia tak bisa menetapkan siapa, dimana dan kapan.
Sarno mencoba menarik runtutan kondisi kotanya kembali. Tetapi gagal !! bahkan semakin gelisah ketika melihat kemacetan luar biasa sepanjang jalan menuju pintu tol Cakung, semua campur aduk menambah deretan pening di kepalanya, terngiang ketika yu Sarni kakak sulungnya mengabarkan Ibu masuk rumah sakit Margono. Belum persoalan bapak yang memutuskan menjual rumah warisan, untuk menutup hutang piutang yang kini menambah persoalan baru.
Sangat pedih mendengar kabar yang memilukan. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa apa, Sarno hanya seorang sopir mikrolet. Ia sudah keluar masuk kerja di pabrik pabrik namun penghasilan tidak pernah mencukupi, gaji sebulan kerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan belasan hari. Jangankan menabung, bayar sewa kontrakan rumah petak saja kadang telat. Maka sejak dua tahun lalu Sarno memutuskan beralih profesi dari seorang buruh pabrik, kini menjadi sopir mikrolet. Sarno hanya melihat menjadi sopir tidak terikat oleh waktu seperti menjadi seorang buruh. Bisa mencari nilai tambah dengan bekerja serabutan lainnya. Dan kini bisa memberi modal usaha istri berjualan nasi uduk di perlataran kontrakan.
Senja telah beranjak menuju gelap malam, gemuruh mesin bis terasa menggetarkan dan menghantar sebagian penumpang terlelap. Gadis berjilbab ungu turut terlelap, wajahnya begitu lugu dengan alis tebal dan bibir tipis nampak begitu damai di bawah temaram lampu bis. Sarno hanya tersenyum sambil menggeser duduknya untuk memberi ruang keleluasaan pada gadis itu terlelap. Memandang wajah nya seakan ada kedamaian hati, kedamaian yang selama ini tak ia dapatkan di Jakarta. Kota yang semuanya terukur dengan uang.
Kembali alam pikir Sarno melompat ke masa lalu, Selepas tamat SMA Ia mendapat bea siswa di salah satu perguruan tinggi di Semarang, namun ia tidak mengambilnya. Bapak yang kuli panggul di pasar serta ibu penjual mendoan sudah angkat tangan.
“adik adikmu lebih membutuhkan biaya sekolah, daripada untuk membiayai kamu hidup di luar kota” ujar bapak saat itu dengan wajah memelas.
“nduk kita itu miskin, pendidikan juga penting, bukan maksud bapak ibu tidak sayang sama kamu tapi adik adikmu juga butuh sekolah ” ibu menambahkan.
Sarno terdiam mendengar penegasan kedua orangtuanya, Sarno bertekad untuk mengadu nasib di Jakarta siapa tau bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, dan untuk kemudian melanjutkan kuliah seperti keinginannya. apapun kerjanya ia akan jalani yang terpenting bisa meringankan beban kedua orang tua. Apalagi, kegundahan hatinya sedang dalam titik tertinggi Ia kecewa terhadap gadis yang pernah bersaing secara sehat sejak SD hingga SMA tapi sang gadis tidak pernah bisa menaklukanya dalam hal kecerdasaan secara formal di sekolahan. Sarno pernah menyatakan cintanya dan sang gadispun menyambutnya dengan tulus. Tapi Seminggu setelah kelulusan sang gadis pergi begitu saja, Ia melanjutkan kuliah entah dimana.
Bus memasuki pelataran sebuah rumah makan untuk istirahat. Sarno pun turun juga diikuti gadis berjilbab ungu itu. Sarno memesan secangkir kopi serta menyalakan rokok kreteknya. Ia mencoba meredakan ketegangan dengan mengomsumsi cafein dan nikotin. Gadis berjilbab ungu itu mendekat dengan senyum yang mengembang. Tanpa canggung ia menyapa Sarno dengan sopan.
“bapak turun di mana?” tanya gadis berjilbab ungu nan cantik itu membuka percakapan.
“Terminal” Jawab Sarno singkat.
“ kalau saya perempatan Tanjung”, tukas gadis berjilbab ungu.
“Ade sendiri an?” Sarno mulai menyelidik.
“Ia pak, tapi nanti mama menunggu di Tanjung” Jawab gadis cantik itu sambil membuka tutup botol air mineral untuk kemudian meneguknya pelahan.
“di Jakarta sekolah atau kerja?” Tanya Sarno sambil menikmati kopinya.
“kuliah pak!!, di UI” jawab gadis itu dengan riang.
“jurusan apa?” bagai seorang penyidik Sarno serius ingin tahu ketika ada orang yang menyebutkan kata kata kuliah, sebab cita cita inilah yang membuat ia tersandar di Jakarta, Cita cita inilah yang tidak bisa ia gapai, dan Cita cita inilah yang membuat ia terobsesi.
“Saya di kedokteran, ingin seperti mama menjadi dokter, dan kata si mbah jadi dokter itu mulia” dengan penuh semangat ia membanggakan cita citanya.
“oo bagus itu, di Jakarta tinggal sama siapa?” Sarno mulai akrab dengan gadis itu, sebab dari cara bicara dan kepolosanya telah tercermin bahwa ia gadis yang luar biasa, terdidik dengan baik dan santun pola gerak tubuhnya.
“Saya kost …, mama inginkan saya jadi mandiri dan pemberani” tukas gadis itu dengan mantap.
Sopir mengisyaratkan perjalanaan dilanjutkan lagi. Setelah kenek bus memeriksa jumlah penumpang maka bus pun berjalan. Sarno dan gadis berjilbab ungu itupun kembali tenggelam dalam cengkerama. Sarno mengisahkan begitu susahnya hidup di Jakarta bila tidak mempunyai ketrampilan dan kecakapan secara formal, ujung ujungnya tetap menjadi buruh atau pekerja informal lainya. Sedangkan Gadis berjilbab ungu berceritera tentang ibu dan simbah kedua sosok yang selalu menjadi acuan langkahnya
Sepanjang sisa perjalanan gadis berjilbab ungu mulai terlelap, Sarno mulai bisa menertralisir kondisi otak dan hati oleh keruhnya permasalahan. Kini yang ada debaran rindu. Rindu akan kampung halaman, rindu akan kedua orangtua dan kerabat, ada satu rindu tak terperikan dan tergantikan deru rindu terhadap Lastri. Sosok yang telah hilang sejak duapuluhdua tahun lalu, sosok yang benar benar membuat semua perasaan ingin tumpah ruah. Sosok yang membawa kenangan kenangan indah. Bayangan wajah Lastri membuat Sarno terlelap.
Selepas Bumiayu Sarno mulai terbangun, gelap malam mulai terpendar, persawahan di pinggir jalan mulai terlihat, elok menghijau tanaman padi dibalut kabut kabut yang menebal. Bus pun mulai mengurangi laju kecepatanya untuk mengikuti irama jalan yang meliuk liuk, tidak seperti saat di jalur pantura. Sarno menikmati betul indahnya bukit bukit yang mulai tampak di ufuk pagi, Gunung Selamet yang gagah mulai terlihat.
Dering telphon gadis berjilbab ungu membangunkan gadis itu, dengan sigap tangan mungil yang halus meraih handphon di saku celana jeans. Mata yang masih ingin terpejam terpaksa di belalakan mencari sesuatu di luar sana.
“maaf pak sudah sampai mana ya?” gadis berjilbab ungu terpaksa takluk pada ketidaktahuanya.
“Paguyangan de” Jawab sarno singkat.
Gadis itu meneruskan khabar lewat handphonya kepada seseorang entah di ujung mana. Tak lama telphon dimatikan kemudian tenggelam ia dalam keasikannya memainkan tombol tombol handphone.
“kalau lancar sejam setengah lagi sampai” tukas Sarno dengan penuh keyakinan.
Gadis itu mulai membetulkan jilbab dan pakaianya, setelah yakin rapih tampak ia tertegun, sambil memandang kejauhan hamparan sawah di luar jendela bus.
“bagus baget ya pak pemandangannya” gadis itu memulai percakapan.
“Ia masih penuh kabut” jawab Sarno.
“Sebenarnya tahun baru saya dan mama mau ke Bali, liburan disana” dengan wajah manja dan polosnya seolah ada rasa mengganjal yang ingin di utarakan.
“tapi mama ingin merawat si mbah, mbah ku masuk rumah sakit” jelas si gadis penuh kesedihan.
Sarno hanya bisa mengangguk anggukan kepala. Ia terbayang betapa mulianya ibu si gadis ini. Membuang kesempatan liburan demi merawat seorang ibu. Hanya tarikan nafas Sarno bisa berucap, ia membandingkan dengan istrinya yang mengultimatum jangan lama lama di kampung, Ia ingin menikmati pergantian tahun di monas beserta kedua anaknya yang masih SD. Sarnopun berjanji balik lagi ke Jakarta sebelum tahun baru tiba.
Selepas Adzan shubuh bus sudah melesat, Ajibarang, Cilongok, Karanglewas kemudian mulai merayap ke dalam kota, Gadis kecil bangkit dari duduknya ia mengambil tas ransel untuk kemudian minta diri pada Sarno. Sambil mengulurkan tangan ia tersenyum, Sarnopun menyabut uluran tangan mungil itu, tanpa diduga gadis itu mencium tangan Sarno, Terkesiap debar jantung Sarno seakan ia kan melepas anaknya.
Di lampu merah Tanjung tampak di kejauhan seorang perempuan muda di depan mobil keluaran terbaru melambaikan tangan. Bus pun tanpa basa basi melaju kembali. Sangat berkesan gadis berjilbab ungu itu. Ia seperti anak sendiri bagi Sarno.
Di terminal Purwokerto, Sarno turun dan kagum akan situasi terminal baru yang rapi tidak seperti di terminal Pulogadung. Dengan menawar becak maka Sarno meluncur menembus dinginya pagi menuju rumah yu Sarni. Sawah yang dulu membentang luas kini banyak berubah menjadi bagunan rumah bahkan perumahan mewah. Di pagi hari bakul beceran yang dulu penjualnya perempuan kini berganti lelaki memakai sepeda motor.
Yu Sarni sedang membuka pintu ketika dari kejauhan Sarno sampai di ujung gang, secara spontan ia membangunkan seisi rumah ketika Sarno memasuki pelataran. Setelah berbasa basi sejenak satu persatu anak yu Sarni menyalaminya., Pikiran Sarno masih melekat pada Gadis berjilbab ungu satu perjalanan dengannya, ketika anak perempuan pertama yu Sarni menyalaminya.
Banyak sekali perubahan pada kerabat, teman sepermainan, dan tetangga yang dulu mewarnai masa kecil hingga dewasa, kini telah tersingkir ke pinggiran kota, percepatan pembangunan di kota mendorong budaya konsumtif yang serba instant, dan mereka tersingkir karena basis ekonomi yang lemah. Budaya guyub rukun dan gotong royong sedikit demi sedikit terkikis oleh sikap individualistik dan konsumtif.
“nanti besuk ibu jam sepuluh” yu Sarni membuka percakapan dengan membawa sepiring mendoan untuk di hidangkan kepada adik lelakinya yang telah lama tidak bertemu.
“soal biaya sudah ada yang menanggung, dan keperluan lain selama ibu di rumah sakit ada yang urus, . . . . dari kumpulan keluarga besar kita” lanjut yu Sarni.
Sedikit lega Sarno mendengar nya, merasa menyesal ia tidak bisa berbuat banyak kalau sudah berbenturan dengan masalah ekonomi. Setengah hidupnya sudah tertanam sikap egois dalam memperjuangangkan periuk nasinya, kondisi ini sudah mengakar karena budaya metropolitan. Dan ia termasuk orang orang yang kalah.
Ada perasaan aneh, tapi Sarno tidak mau lebih dalam mempersoalkanya, Ibu di rawat di RS Margono dengan fasilitas kelas satu, sedangkan kakak dan adiknya hanya berpenghasilan rendah, sebagai buruh, sopir dan kerja serabutan lain nya . Dalam benaknya berapa puluh juta biaya yang di keluarkan setelah sepuluh hari di rawat, semua belum jelas, sebelum bertemu dengan Ibu.
Sekitar jam sepuluh Sarno menuju RS Margono yang terletak di jalan dr Angka, rumah sakit yang bersih, dengan fasilitas serba nomor satu terkesan mewah bagi Sarno, ia bersama Yu sarni menyusuri ruang ruang paviliun yang nyaman. Ibu tampak pucat dengan keriput yang membalut wajahnya, rambutpun sudah memutih, tapi tatapan nya tetap menyejukan, Sarno memeluk dan mencium ibunya. Lelehan air mata tak terbendung menghiasi pertemuan ini. Dengan panjang lebar ibu menceriterakan keadaan keluarga saat ini. Bagi Sarno ini bukan hal baru tapi hal yang luar biasa ketika sang Ibu menuturkannya dengan raut muka kecewa. Kecewa terhadap Bapak juga kecewa terhadap Sarno yang menghilang selama belasan tahun. Semua peran para lelaki sudah tergantikan oleh anggota keluarga perempuan yang cekatan.
Terdengar suara pintu terbuka dan derap sepatu dokter perempuan dengan langkah wibawa tanpa di iringi perawat seperti layaknya kunjungan dokter terhadap pasienya.
“Lastri!!!” Sarno terkejut, tatapanya tak berkedip ketika sesosok perempuan berpakaian dokter dengan ramah tersenyum sambil mengulurkan tanganya.
Sarno menyabut uluran tangan Lastri, aliran darah seakan berhenti, tubuhnya kaku, mulutnya tak sanggup berkata dihadapan perempuan yang dirindukannya selama ini.
“kapan datang?” tanya Lastri sambil memasang stetoskop di telinganya,
“tadi pagi” jawab sarno lirih.
Secara cekatan Lastri memeriksa dada ibu, kemudian memastikan obat obatnya untuk tetap diminum.
“Las, kapan Ibu boleh pulang? tanya ibu kepada dokter yang memeriksanya.
“Sabar to bu, tunggu benar benar sehat” Jawab Lastri dengan suara lembut.
“Allya sudah sampai Las?” ibu pun akrab berbicara dengan Lastri
“sudah bu, nanti siang kesini, kangen si mbah katanya”
“bu saya pamit dulu ya, sebentar lagi Allya pasti kesini, ibu istirahat yang cukup, biar bisa kumpul lagi di rumah” sambil balik badan Lastri menatap Sarno yang terdiam.
“Temui aku di kantin sekarang juga” setengah berbisik Lastri meninggalkan Sarno
Sarno masih tertegun, belum percaya pertemuannya kembali dengan Lastri. Sarno hanya menganggukan kepala ia masih bingung, gagap untuk menguasai keadaan.. Lastri meninggalkan ruangan gariatri dengan membawa kejutan rindu. Sarno belum siap berada di pihak yang kalah. Ia merasa kecil dihadapan Lastri yang dulu dicintainya, Ia tidak bisa membuat kebahagiaan dan kebanggaan kepada kedua orang tuanya., nyaris ia kehilangan segala masa lalunya karena ego yang kuat untuk mentaklukan Jakarta. Kini tampil Lastri menggantikan peran kehormatan keluarga besarnya.
“No, temui Lastri dulu, mungkin ingin bicara denganmu, dari dulu mencari mu, selalu mencarimu” ibu memulai berbicara tentang Lastri.
Setelah suami meninggal Lastri kembali ke Purwokerto, Allya anak Lastri Sejak umur lima tahun ibu yang mengasuh, sementara Lastri sibuk bekerja.
“Lastri sudah seperti anak sendiri, dia sudah tidak punya siapa siapa,” Dengan suara pelan ibu mencoba menjelaskan.
“Wanthi, anak Sarni dapat beasiswa berkat Lastri juga” Ibu terus membanggakan Lastri, Sarno diam tanpa memjawab semua perkataan Ibu yang meluncur sesuai kenyataan. Dengan raut muka lesu Sarno pamit pada Ibu untuk menemui Lastri.
Sosok ibu muda, cantik, anggun, penuh wibawa duduk sambil menatap tajam lelaki berbadan tegap berkulit terbakar matahari., Perempuan itu paham betul siapa yang dihadapnya, lelaki angkuh, keras kepala, dengan ego tinggi penuh kebencian terhadap dirinya, Emosi Lastri berbaur menjadi satu antara haru, rindu, marah dan bersalah, Lastri sanggup mengendalikan semua itu, ia menjaga rasa yang masih tersisa, siapapun Sarno ia bagian dari hiasan hati yang tertanam dalam perjalanan waktu yang lama walau tak dapat memetik buah karenanya.
Sarno tak bisa berkata apapun tentang perjalanan hidupnya selepas kepergian Lastri.. Masa lalu terus berkobar, membakar perasaan yang berkecamuk. deru rindu menusuk kebekuan telah membatu. kini semua menjadi jelas bahwa takdir tak bisa dilawan namun harus di hadapi dengan segala apa yang ada dan tiada, tak ada penyesalan untuk menyesal.
Saat Sarno dan Lastri tenggelam dalam rindu. Muncul kedua gadis belia dengan wajah berseri Sarno nampak terkejut ketika melihat salah satu gadis itu. Gadis itupun terperanjat.
“bapak” tukas gadis tersebut.
Ternyata gadis cantik berjilbab ungu yang semalam mengiringi perjalanan pulangnya adalah Allya anak semata wayang Lastri.
Sebelas tahun sudah saat pertemuan pertama kini Sarno bertemu kembali dengan Allya seorang dokter muda, Allya memeluk erat Sarno dengan tetes air mata deras sambil berbisik “embah telah tiada pak”.
Jakarta, Mei 2026
*****
*) Unsar, atau Untung Sarwono pegiat seni, aktif di Jaringan Kebudayaan Rakyat (jaker) kini sebagai Sekretaris Jenderal Jaringan Kebudayaan Rakyat


