
Oleh Dominggus Ghoghi
(Mandataris RUAC/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Tambolaka periode 2026-2027)
“Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani.” Demikian kalimat Aristoteles yang kedengarannya sederhana. Tetapi jika dipikir pelan-pelan, kalimat itu sebenarnya menakutkan. Sebab ketika manusia mulai jujur melihat hidupnya sendiri, ia akan sadar bahwa banyak hal yang selama ini dianggap biasa ternyata tidak benar-benar baik-baik saja.
Filsuf Jerman, Karl Marx, pernah mengatakan bahwa manusia perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri ketika kerja hanya dijadikan alat produksi. Manusia bekerja, tetapi tidak lagi merasa memiliki hidupnya. Ia hanya mengulang rutinitas demi bertahan hidup. Pikiran itu terasa relevan dengan keadaan hari ini. Sebab tanpa sadar, banyak orang akhirnya hidup hanya untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Mereka terlalu sibuk bertahan sampai tidak sempat bertanya apakah hidup yang mereka jalani benar-benar membawa mereka menuju kehidupan yang layak.
Sebelum matahari terbit pada 1 Mei 2026, saya duduk menikmati segelas kopi hangat sambil memikirkan nasib para buruh dan saya kemudian sampai pada satu kesimpulan sederhana bahwa mungkin masalah terbesar buruh hari ini bukan hanya soal upah rendah atau jam kerja panjang. Masalah terbesarnya adalah masyarakat sudah terlalu lama dibiasakan menerima semua itu sebagai hal yang wajar.
Kita hidup di zaman ketika orang yang paling lelah justru paling sering diminta bertahan. Buruh bekerja dari pagi hingga malam. Ada yang mengangkat barang, membersihkan kantor, bekerja di kebun, menjaga toko, menjadi pekerja domestik, hingga melakukan pekerjaan kasar yang sering tidak terlihat. Mereka menghabiskan tenaga hampir setiap hari agar kehidupan banyak orang tetap berjalan normal. Namun ironisnya, hidup mereka sendiri sering tidak ikut berubah.
Yang lebih menyedihkan, keadaan seperti itu perlahan dianggap biasa. Kita sering mendengar kalimat seperti “hidup memang keras” atau “kalau mau berhasil ya harus kerja keras.” Kalimat-kalimat itu terdengar seperti motivasi, tetapi tanpa sadar membuat masyarakat menerima kelelahan sebagai sesuatu yang normal. Lama-lama orang tidak lagi bertanya mengapa mereka bekerja begitu keras tetapi hidup tetap terasa sempit.
Hari Buruh setiap 1 Mei akhirnya lebih sering berubah menjadi seremoni tahunan. Demonstrasi dilakukan, spanduk dibentangkan, tuntutan disampaikan, lalu semuanya kembali berjalan seperti biasa. Buruh kembali bekerja. Upah tetap kecil. Harga kebutuhan pokok terus naik. Kehidupan masyarakat kecil tetap berjalan dalam tekanan yang sama.
Di saat yang bersamaan, masyarakat terus disuguhi narasi bahwa keadaan sedang baik-baik saja. Pertumbuhan ekonomi terus dibicarakan dan pidato tentang kesejahteraan seringkali diulang. Lama-kelamaan masyarakat percaya bahwa hidup memang sedang menuju arah yang lebih baik, meskipun kenyataan yang mereka rasakan sehari-hari sering kali berbeda.
Dalam konteks Sumba Barat Daya, keadaan itu terlihat sangat nyata. Banyak pekerja domestik hidup dalam kondisi kerja yang jauh dari layak. Mereka bekerja sejak pagi hingga malam namun upah yang diterima sering kali tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ironisnya, kondisi seperti itu terlalu sering dilihat sampai akhirnya dianggap biasa. Padahal jika dipikir dengan jujur, ada sesuatu yang salah ketika seseorang bekerja sepanjang hari tetapi tetap hidup dalam kesulitan. Ada sesuatu yang keliru ketika tenaga manusia dipakai setiap hari, tetapi hidupnya tidak pernah benar-benar dihargai.
Keadaan ekonomi yang sulit membuat banyak keluarga hanya mampu bertahan dari hari ke hari. Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara penghasilan masyarakat tidak banyak berubah. Rupiah di tangan rakyat kecil terasa semakin kusam akibat perputaran uang semakin lamban. Orang bekerja lebih lama, tetapi uang kehilangan kemampuan untuk menghadirkan rasa aman dalam hidup mereka.
Dalam keadaan seperti itu, banyak anak muda akhirnya memilih merantau keluar Sumba. Mereka pergi bukan karena ingin meninggalkan kampung halaman, tetapi karena daerah tidak lagi mampu memberi cukup harapan untuk hidup layak. Namun tidak semua perjalanan berakhir baik. Sebagian justru terjebak dalam jaringan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan mengalami eksploitasi demi bertahan hidup.
Di saat yang sama, masih banyak anak yang putus sekolah atau bahkan tidak sempat menikmati pendidikan dengan layak karena keadaan ekonomi keluarga. Jalan-jalan rusak masih menjadi pemandangan biasa di banyak wilayah. Petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar. Biaya hidup terus meningkat, sementara kesempatan ekonomi tetap sempit.
Waktu itu saya pernah berbincang dengan seorang anak muda di salah satu kampung. Ia sudah lulus SMA hampir dua tahun, tetapi memilih tinggal menganggur di rumah. Bukan karena tidak punya mimpi, melainkan karena keadaan ekonomi keluarganya tidak memungkinkan dirinya melanjutkan kuliah. Kakak perempuannya merantau ke Bali untuk bekerja membantu keluarga. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana dengan kehidupan yang serba terbatas. Saat bercerita, anak itu tidak terdengar marah. Ia justru terdengar seperti seseorang yang perlahan mulai menerima keadaan. Dan mungkin itu bagian yang paling menyedihkan.
Sebab ketika anak muda mulai menyerah pada mimpinya karena kemiskinan, ketika merantau menjadi satu-satunya harapan hidup, ketika pendidikan mulai terasa terlalu mahal bagi rakyat kecil, maka sebenarnya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan ekonomi masyarakat.
Jika direnungkan lebih jauh, semua keadaan itu sebenarnya saling terhubung. Rupiah yang semakin kusam di tangan rakyat kecil, banyaknya masyarakat yang merantau, maraknya kasus TPPO, anak-anak yang putus sekolah, hingga jalan rusak di kampung-kampung adalah tanda bahwa kemiskinan belum benar-benar pergi dari Sumba Barat Daya. Itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sering dibicarakan belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan masyarakat kecil.
Namun karena keadaan itu berlangsung terlalu lama, masyarakat perlahan terbiasa melihatnya. Orang merantau dianggap biasa. Anak putus sekolah dianggap biasa. Buruh menerima upah rendah dianggap biasa. Jalan rusak dianggap biasa. Padahal ketika ketidakadilan mulai terlihat biasa, di situlah masyarakat perlahan kehilangan keberanian untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Hari Buruh adalah momen untuk berhenti sejenak dan melihat hidup dengan lebih jujur. Mengapa orang yang bekerja paling keras justru hidup paling dekat dengan kesulitan? Mengapa mereka yang paling banyak berkeringat justru paling sulit menikmati hasil pembangunan?
Sebab pembangunan tidak cukup diukur dari gedung baru, angka pertumbuhan ekonomi, atau proyek-proyek besar yang terlihat megah. Pembangunan seharusnya diukur dari kehidupan masyarakat kecil. Dari apakah buruh dapat hidup layak. Dari apakah rakyat kecil masih dipaksa bekerja lebih keras hanya untuk bertahan hidup. Dan dari apakah anak muda masih harus meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Pada akhirnya, Hari Buruh seharusnya tidak hanya menjadi peringatan tentang pekerjaan, tetapi juga tentang keberanian melihat kenyataan dengan jujur. Sebab selama rakyat kecil masih bekerja lebih keras hanya untuk bertahan hidup, selama anak muda masih dipaksa meninggalkan kampung demi mencari harapan, selama pendidikan terasa mahal bagi keluarga miskin, dan selama jalan-jalan rusak masih menjadi wajah sehari-hari masyarakat, maka kesejahteraan itu belum benar-benar hadir.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk percaya bahwa keadaan sedang membaik sampai lupa bertanya siapa yang sebenarnya menikmati perbaikan itu. Kita diajarkan melihat pembangunan dari baliho, pidato, dan angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang melihat wajah lelah para buruh, keluarga yang hidup dalam gubuk sederhana, atau anak-anak yang perlahan mengubur mimpinya karena keadaan.
Dan mungkin inilah yang paling perlu direfleksikan di Hari Buruh 2026. Bahwa kemiskinan tidak selalu hadir dalam bentuk kelaparan. Kadang ia hadir dalam bentuk masyarakat yang dipaksa terbiasa hidup susah. Dipaksa menganggap upah rendah sebagai nasib. Dipaksa percaya bahwa merantau adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
Karena ketika ketidakadilan mulai dianggap biasa, di situlah masyarakat perlahan kehilangan keberanian untuk bermimpi hidup lebih baik.***

