Foto Bersama Acara Bedah Buku Antologi Puisi HUT ke-32 JAKER (Sumber: Dokumentasi FSB Retorika Filsafat UGM)

Yogyakarta, 29 Oktober 2025 —
Forum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) menggelar acara bedah buku antologi puisi berjudul “Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam” di Ruang Persatuan, Lantai 3 Fakultas Filsafat UGM. Acara ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-32 JAKER, dan menjadi ruang dialog antara penyair, akademisi, dan publik pencinta sastra.

Pembukaan dan Sambutan
Acara dimulai pukul 16.00 WIB, dibuka oleh perwakilan panitia Forum Retorika Filsafat UGM. Sambutan dari Ketua Umum JAKER, Annisa Lituhayu, dibacakan oleh ketua panitia. Dalam sambutannya, Annisa menyampaikan bahwa antologi ini merupakan upaya JAKER untuk terus menyalakan api perjuangan kebudayaan rakyat dan mempertemukan penyair lintas generasi serta lintas ideologi. Berikutnya, sambutan juga disampaikan oleh Ketua JAKER D.I. Yogyakarta, Agung dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Fakultas Filsafat UGM, Dr. Agus Himawan Utomo, M.Ag.

Sebagai pembuka acara, ditampilkan pembacaan puisi Arahmaiani berjudul “Betulkah Kita Sudah Merdeka?” yang menggugah kesadaran tentang makna kemerdekaan sejati dalam kehidupan bangsa.

Para Pembicara dan Pokok Pikiran
Diskusi buku menghadirkan empat narasumber: Kiswondo (Sastrawan), Achmad Munjid, M.A., Ph.D. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), Isti Komah (Alumni Filsafat UGM angkatan 1996 dan Aktivis Perempuan), dan Harsa Permata (Editor Buku).

Achmad Munjid: Puisi, Bahasa, dan Luka Sosial Bangsa
Munjid menekankan bahwa penyair melihat pertama-tama bukan dengan mata, tetapi dengan kata. Penyair, menurutnya, adalah saksi atas kenyataan sosial Indonesia yang “sudah babak belur.”

Ia menyinggung trauma kolektif bangsa yang terbentuk sejak Orde Baru hingga masa reformasi kini:
“Waktu Orba kita punya harapan, tapi dilukai. Reformasi juga membawa harapan besar, tapi sepuluh tahun terakhir dilukai lagi.”

Munjid juga mengkritik dunia akademik yang kini sibuk menerbitkan jurnal, namun kehilangan ruang perdebatan ide:

“Kini ada sepuluh ribu jurnal, tapi tak ada lagi perdebatan pemikiran seperti dulu. Orang menulis bukan untuk dibaca, tapi untuk disimpan.”

Ia mengajak mahasiswa—yang hanya sekitar 5% dari populasi—untuk menyadari privilese dan tanggung jawab sosial mereka: menyuarakan ketertindasan rakyat.

Kiswondo: Seni Sebagai Pertarungan Ideologi
Sastrawan Kiswondo menegaskan bahwa seni dan sastra lahir dari pengalaman subjek terhadap realitas sosial. Ia menolak pandangan bahwa seni sekadar alat propaganda, namun menegaskan bahwa:
“Seni adalah pertarungan ideologi.”

Mengutip Antonio Gramsci, ia menyebut bahwa seni dan sastra adalah alat hegemoni yang bisa memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial atau justru menutupi ketimpangan.

Isti Komah: Lintas Generasi, Lintas Gender
Sebagai penikmat sastra, Isti Komah menilai penerbitan buku ini sebagai perayaan ulang tahun JAKER yang bijak dan monumental.

Bijak karena mempertemukan penyair lintas generasi; monumental karena berusaha mewariskan nilai perjuangan yang abadi.

Ia menyoroti bahwa dari 25 penulis, 10 di antaranya perempuan, menunjukkan adanya perspektif gender yang kuat dalam proyek ini.

Menurutnya, ini langkah signifikan di lingkungan gerakan rakyat yang umumnya didominasi laki-laki.
Isti juga mengulas perbedaan tema antara penulis perempuan dan laki-laki:

  • Perempuan menulis tentang kemerdekaan, kesetiaan, ibu, luka, dan kejahatan kemanusiaan.
  • Laki-laki menulis tentang perjuangan, harapan, alam, dan regenerasi.
    Namun ia juga mencatat bahwa belum ada penyair laki-laki yang secara spesifik mengangkat isu perempuan.
    Ia menutup paparannya dengan pembacaan puisi “Kronik Perubahan”, sembari menyampaikan pesan:
    “Selamat ulang tahun JAKER, semoga tetap progresif, makin kekinian dalam metode, dan konsisten di garis massa.”

Harsa Permata: Puisi dan Ideologi JAKER

Editor buku, Harsa Permata, menjelaskan proses kurasi antologi ini.
Seluruh puisi dari kontributor perempuan diterima, sementara sebagian puisi dari kontributor laki-laki tidak lolos seleksi.

Dalam pemaparannya, ia menyebut dua puisi Wiji Thukul sebagai tolok ukur seleksi: “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa” serta “Para Penyair Adalah Pertapa Agung.”
Menurut Harsa, JAKER tetap berpijak pada ideologi bahwa seni dan sastra harus berpihak pada perjuangan rakyat.

“Seni dan sastra tidak hanya diukur dari keindahan, tetapi dari sejauh mana ia mempropagandakan perjuangan sosial menuju masyarakat yang adil dan makmur.”

Foto Bersama Acara Bedah Buku di Filsafat UGM (Sumber: Dokumentasi Retorika Filsafat UGM)

Dialog Interaktif dan Penutup

Sesi tanya jawab diwarnai dua pertanyaan menarik dari mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Salah satunya menyinggung perdebatan klasik antara Lekra dan Manikebu, serta tudingan bahwa seni kerakyatan mengeksploitasi kemiskinan.

Menanggapi hal ini, Munjid dan Kiswondo menjelaskan bahwa seniman rakyat berkarya bukan untuk mengeksploitasi penderitaan, melainkan merekam kenyataan sosial.

“Lekra dan Manikebu itu pertarungan posisi ideologi. Masing-masing punya politik kebudayaan sendiri,” ujar Kiswondo.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pembicara dan foto bersama seluruh peserta.

Refleksi Akhir
Bedah buku ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, tetapi menjadi momentum refleksi ideologis dan estetis.

Melalui antologi “Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam”, JAKER menegaskan eksistensinya selama tiga dekade lebih sebagai gerakan kebudayaan rakyat yang konsisten menjaga bara perlawanan melalui bahasa dan puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *