Ilustrasi Annie membaca buku dari sebuah paket yang berasal dari masa lalu (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Suatu hari di tahun 2025, Annie yang tengah duduk di beranda depan rumahnya tiba-tiba didatangi seorang pengantar paket. Diterimanya paket itu dengan bingung. Tak ada alamat dan nomor telepon di bagian pengirim, hanya tertulis: “Dari masa lalu.”

Dibukanya paket itu dengan rasa penasaran yang berdebar. Ternyata isinya sebuah buku catatan. Beginilah isinya:

Aku tak tahu apa perasaanku kini. Aku tak menangis ketika bus itu bergerak meninggalkan terminal kecil dan menjauhi dirinya yang melambaikan tangan padaku.

“Telepon aku ya, Yang…,” katanya tanpa suara dari balik kaca bus. Tetesan air mata menggantung di pelupuk matanya, membasahi kacamatanya. Kami berawal dari sekuntum mawar layu di kala hujan. Gerimis malam, dingin yang gelap. Kuberikan sekuntum mawar merah padanya tanpa kata.

Kini aku harus berada di atas bus ini, pergi ke Jogja, meninggalkan Jakarta—dan dirinya di dalamnya. Semua karena hidup butuh pekerjaan, untuk mendapatkan uang, untuk memenuhi kebutuhan manusiawi yang kami punyai.

Aku ingin mengirim pesan singkat padanya, menanyakan apakah ia sudah berhasil sampai di rumah, melewati daerah Senen yang rawan kejahatan. Tapi aku tak punya pulsa. Dan kalaupun aku bisa mengirim pesan singkat itu padanya, ia juga takkan bisa membalas, karena ia pun tak punya pulsa.

Aku hanya bisa memandangi mobil-mobil yang bergerak di jalan tol dan jembatan layang yang megah berkelok. Baru setelah senja, persawahan hijau mulai kelihatan, tanda bahwa Jakarta telah kutinggalkan.

Setelah lama dalam kebisuan yang hanya diisi oleh deru kendaraan, malam ini bus berhenti di rumah makan. Kucoba menghubunginya, tetapi wartel sialan itu tidak bisa menyambungkannya. Malah uang seribu rupiahku dimakannya.

Antre dengan bon makan, aku enggan. Kupergi ke kamar mandi, termenung, menghabiskan sebatang rokok. Aku keluar setelah rokok habis dan setelah gedoran di pintu terdengar bertalu-talu.

Aku ingin menghubunginya lagi, tapi uangku tinggal sedikit. Jika kehabisan uang, tak ada mesin ATM di sekitar sini. Tapi… aku ingin sekali menelepon dirinya. Entah kenapa, aku sangat ingin mengetahui keadaannya. Sebelum kupergi, aku bilang padanya,

“Yang, nanti di Jogja kukirim lagi ya lamaranmu.”

“Yang” berarti sayang—begitu aku selalu memanggilnya, dalam kondisi apa pun. Ia membalas dengan anggukan lemah. “Oke deh, Yang.”

Kami adalah sarjana, tapi masih menganggur, karena susah sekali mencari pekerjaan yang layak di sini. Dia pernah bekerja, tapi cuma dua bulan, karena perusahaan tempat dia bekerja memasang target: jika tak bisa mendapatkan klien dalam waktu dua bulan, maka ia harus menandatangani kontrak untuk tak digaji lagi.

Kami ingin menikah dan hidup mandiri, tapi sepertinya sekarang itu semua susah sekali. Orang tua hanya akan mempermudah pernikahan jika sudah lulus dan dapat pekerjaan yang layak. Seperti yang dikatakan ibuku suatu malam padanya,

“Annie, Tante setuju kalian menikah. Itu semua terserah kalian. Tapi Haris kan baru lulus dan belum dapat pekerjaan. Bagaimana nanti jika kalian hidup kesusahan?” Alasan mereka sebenarnya masuk akal, agar kami bisa hidup tanpa kekurangan apa pun. Tapi apakah sebuah pernikahan—penyatuan dua hati—harus ditentukan oleh berapa banyak uang yang kita hasilkan?

Sebenarnya sudah ratusan lamaran kerja kukirimkan ke ratusan perusahaan, atas nama dirinya dan atas namaku. Tapi entah kenapa pekerjaan yang diinginkan susah sekali didapat. Kalaupun dapat, kadang ia tak mau, karena perusahaan selalu mematok target: dalam berapa bulan ia harus mendapatkan klien atau pelanggan agar bisa bertahan di perusahaan. Ini yang membuat dirinya kemudian tak menyukai pekerjaan di bidang pemasaran.

“Kenapa memangnya kalau marketing, Yang?” tanyaku di atas bus kota.

“Susah, Yang, kalau marketing. Aku dituntut untuk memenuhi target dan harus bekerja di bawah tekanan.”

“Tapi, Yang, coba dululah. Tentu saja kita ditekan. Kufikir tekanan adalah hal yang wajar. Perusahaan tentu tak ingin rugi. Lagian kita kan bukan pemilik perusahaan,” jelasku, yang kemudian diikuti anggukan lemah olehnya.

“Oke deh, Yang, kucoba.”

Pekerjaan bagi kami adalah jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi: berumah tangga dan hidup mandiri. Kami ingin membuktikan pada mereka bahwa kami bisa hidup mandiri, dan karena itu kami pantas menikah.

Aku jadi teringat pada hari-hari yang indah, yang kulewati bersamanya—pelukannya, ciumannya.

“Aku cinta kamu, Yang.” “Aku cinta kamu juga, Yang.”

Kami tak rela semua ini harus terhalang oleh persyaratan agar kami bisa menikah. Padahal sebenarnya, kami akan tetap berusaha bertahan seburuk apa pun kondisi keuangan setelah menikah. Karena bagi kami, susah ataupun senang harus dihadapi bersama. Begitulah perjanjian kami selama ini, yang sudah kami anggap sebagai pakta, sebagai akad kami berdua.

Menurut bapakku, ketika ia dan ibuku menikah, ia juga belum bekerja. Ibukulah yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka menikah setelah bapakku lulus dari fakultas kedokteran. Awalnya mereka pun tak mendapat restu dari orang tua masing-masing, tapi mereka tetap menikah akhirnya. Tapi kenapa mereka tak belajar dari masa lalu itu? Kenapa mereka harus memberikan syarat-syarat seperti ini?

Mereka pernah bilang padaku, “Nak, bukannya kami tak merestui pernikahanmu. Tapi lihatlah, Nak, sekarang dan dulu berbeda. Dulu ketika aku menikah dengan bapakmu, uang seratus rupiah itu masih terasa besar sekali. Sekarang seratus ribu saja terasa kecil. Harga hidup sekarang mahal, Nak.”

Mendengar itu, aku hanya bisa pergi ke balkon belakang, memandangi malam, menatap jutaan bintang. Bus masih terus melaju kencang di tengah kegelapan malam. Terkadang berkelok menikung tajam. Beberapa kali aku ke toilet di bus ini untuk buang air kecil; AC-nya terlalu dingin hingga rasanya aku ingin buang air kecil sesering mungkin.

Perjalanan pulang ke Jogja berbeda sekali rasanya dengan perjalanan ke Jakarta bersama dirinya beberapa hari yang lalu. Saat itu ia tertidur dengan nyaman, menyandarkan kepalanya di bahuku, dengan kedua lengannya memeluk lengan kananku. Walaupun kami hanya naik kereta ekonomi tanpa AC, bagi kami rasanya seperti naik pesawat kelas utama.

Bus masih melaju kencang, sesekali miring karena memotong melewati kendaraan lain. Aku agak cemas, karena kulihat si sopir dari tadi menenggak minuman dari botol itu—minuman keras yang bisa membuatnya mabuk berat dan kehilangan kesadaran.

Mudah-mudahan tidak terjadi kecelakaan seperti yang sering kulihat di berita. Aku masih ingin hidup untuk mewujudkan impian-impian kami—impianku dan Annie yang belum terwujud. Aku ingin menikah, mempunyai anak yang akan kami besarkan bersama dengan cinta.

Kuraih selimut di sandaran bangku bus. AC bus ini semakin dingin, bercampur dinginnya malam yang menggigit, menulang. Musik mengalun, dan sebuah lagu mengingatkanku pada Annie dan perjuangan kami berdua:

Tommy used to work on the docks
Union’s been on strike, he’s down on his luck
It’s tough, so tough
Gina works the diner all day
Working for her man
She brings home her pay for love
Mm, for love
She says, “We’ve gotta hold on to what we’ve got
It doesn’t make a difference if we make it or not
We got each other, and that’s a lot for love
We’ll give it a shot”
Oh, we’re half way there
Oh-oh, livin’ on a prayer
Take my hand, we’ll make it, I swear
Oh-oh, livin’ on a prayer


Aku terlelap ketika lagu itu belum sempat berakhir. Menghadirkan mimpi indah tentang kami yang berpelukan berdua dengan cinta, di tengah hamparan bunga warna-warni.

“Aku cinta kamu, Annie sayang…”

“Aku cinta kamu juga, Haris sayang…”

Aku terbangun dengan tak rela ketika sebuah benda keras menghantam kepalaku—salah satu koper milik penumpang bus jatuh dari tempat penyimpanan barang di langit-langit bus. Kulihat bus telah kehilangan kendali. Sopirnya kehilangan kesadaran. Minuman itu telah membuatnya mabuk. Kecemasanku terwujud, dan bus melesat menghantam apa saja dalam kegelapan malam. Para penumpang yang juga terjaga tiba-tiba berteriak histeris ketakutan.

Dan… apa yang terjadi, terjadilah. Bus menghantam benda yang sangat keras, dalam keadaan terbalik kaki di atas, kepala di bawah. Aku tak bisa melihat apa-apa; semuanya gelap gulita.

“Tolong, siapa saja, sampaikan pada Annie… aku sangat mencintainya. Aku pasti…pasti menikahinya. Kami akan berumah tangga, membesarkan anak kami bersama. Tolong… tolong…”

Annie menutup buku catatan tersebut dengan air mata berlinang. Ia memang menunggu kabar dari kekasihnya, Haris, dulu. Bertahun-tahun tiada berita, hingga akhirnya ia memutuskan menikah dengan Usman. Sekarang mereka sudah punya dua anak. Yang paling tua sudah kelas tiga SMA, sementara yang paling kecil baru berusia empat tahun.

Ia berdoa kemudian, sembari memejamkan mata, supaya di mana pun Haris berada, senantiasa diberi kemudahan dan keselamatan oleh Tuhan. Ditatapnya langit sore, dan ia berbisik lirih,

“Haris, semoga kamu tenang di mana pun kamu berada.”

Karya: Harsa Permata

Foto Imam Khanafi (Dok. Redaksi)

Karya: Imam Khanafi

PAGI di kampung Sorogenen, Solo, tahun 1970-an. Jalanan sempit ramai oleh derit becak. Salah satunya milik seorang lelaki sederhana, ayah dari anak kecil bernama Dji. Ia bangun sebelum ayam berkokok, menuntun becaknya keluar dengan mata sayu. Di dapur, sang ibu menyiapkan ayam bumbu untuk dipikul berkeliling kampung.

Rumah bambu mereka berdinding anyaman, berlantaikan tanah, tetapi penuh kehangatan. Di sanalah Dji kecil duduk memperhatikan. Ia menyimpan pemandangan itu di kepalanya: ayah yang letih, ibu yang berpeluh, dan hidup yang terasa berat sejak pagi. Dari situlah benih kata-kata tumbuh.

Dji suka menulis di kertas bekas, kadang hanya coretan sederhana tentang hujan atau ayam ibunya. Suatu sore ia menulis:

Hujan jatuh di jalan kecil / ayah belum pulang / ibu menutup dagangan / aku menunggu / di bawah air yang tak pernah berhenti.

Ibunya tersenyum lirih. “Dji, kenapa kamu suka menulis begitu?” “Entahlah, Bu. Rasanya enak saja. Seperti aku bisa bercerita pada kertas kalau tak bisa bercerita pada orang.”

Jawaban polos itu menjadi isyarat: kata-kata adalah rumahnya.

Masa remaja mempertemukan Dji dengan teater. Latihan di panggung bambu, lampu seadanya, penonton kampung—semuanya membuat hidupnya terasa luas. Dari panggung ia belajar, suara bisa mengguncang hati orang.

Tak hanya di panggung, ia juga mengamen puisi di alun-alun Solo. Orang-orang lewat, sebagian memberi receh, sebagian mencibir. Tapi bagi Dji, itu sekolah kehidupan.

“Kalau kata-kata hanya berhenti di kertas, ia akan diam. Kalau keluar dari mulut, ia bisa berjalan,” katanya pada seorang kawan teater.

Perlahan, puisinya berubah. Tidak lagi tentang hujan, tapi tentang perut lapar, becak sepi, harga beras, dan ketidakadilan. Kata-kata itu sederhana, tapi tajam.

Awal 1980-an, Solo mulai dipenuhi pabrik. Buruh bekerja keras, upah kecil, suara mereka tak didengar. Dji mendengarkan keluhan mereka di warung kopi, di kontrakan sempit. Dari sana, lahirlah puisinya yang terkenal:

“Hanya satu kata: lawan!”

Slogan itu ditempel di tembok-tembok, diteriakkan di demonstrasi, disalin di stensilan. Puisi bukan lagi sekadar karya seni, melainkan poster, pamflet, semboyan.

Dalam aksi buruh di Solo, ia maju membaca puisi di depan polisi. Tak lama, aparat bergerak. Gas air mata, pentungan, teriakan. Dji ikut jatuh, wajah lebam, kaki cedera. Tapi api dalam dirinya justru semakin menyala.

“Kalau kita diam, mereka semakin semena-mena,” katanya pada kawan-kawannya. “Kalau bersuara, mungkin kita dipukul. Tapi suara itu akan tinggal.”

Selain bersama buruh, ia mendirikan sanggar untuk anak-anak kampung. Mereka belajar melukis, menulis, bermain drama. “Kalau mereka tumbuh dengan seni, mereka tumbuh dengan keberanian,” katanya.

Namun bayangan gelap mulai mengintai. Orang-orang tak dikenal mendatangi rumah. Telepon berdering dengan ancaman. Sipon, istrinya, sering gelisah. “Mas, sampai kapan begini? Mereka bisa datang kapan saja.”

Dji tersenyum getir. “Kalau aku berhenti, siapa yang akan menulis?”

***
Tahun 1990-an, Dji bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Partai kecil itu dianggap musuh negara. Tapi di sanalah ia menemukan wadah. Puisinya menjadi manifesto politik.

Dalam forum PRD, ia membacakan “Peringatan”. Kata-katanya mengguncang: jangan remehkan suara rakyat, karena api kecil bisa menjelma badai. Tepuk tangan pecah. Orang-orang tahu, suara ini lebih berbahaya daripada senjata.

Aparat makin menekan. Rumahnya sering digedor. Sipon menahan gemetar tiap kali membuka pintu. “Kalau dia pulang,” kata seorang intel, “bilang: jangan main-main dengan negara.”

Di banyak kota—Jogja, Semarang, Jakarta—ia terus tampil. Dengan suara serak ia berkata:
“Kalau kalian merasa sendirian, ingatlah: kita punya kata. Kata tidak bisa dipenjara. Kata tidak bisa dibunuh.”

1997, Krisis moneter. Rupiah ambruk, harga naik. Rakyat resah, demonstrasi pecah di mana-mana. Dji ada di sana. Puisinya diteriakkan mahasiswa dan buruh. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, meski tubuhnya pincang akibat luka lama.

Di Semarang, ia berteriak: “Rakyat adalah api, dan api tak bisa dipadamkan!”

Sorak massa meledak. Tapi kamera intel juga merekam. Awal 1998, ia jadi buronan. Tidur berpindah-pindah, jarang pulang. Pada seorang kawan ia berpesan:
“Kalau aku tidak pulang, jaga keluargaku. Jangan biarkan mereka sendirian.”

Februari 1998, ia menghilang. Ada yang bilang ditangkap, ada yang bilang dibunuh. Negara bungkam. Pintu rumah Sorogenen tak pernah lagi diketuk tangannya. Sipon menunggu. Ia tetap menyiapkan kopi tiap pagi, seakan suaminya bisa pulang kapan saja. Anak-anak menatap jalan, menunggu ayah yang tak kembali.

Kawan-kawan mengenangnya dengan cerita. “Mas Dji tidak pernah menyuruh kami angkat senjata. Ia hanya menyuruh kami berani berkata. Tapi justru itu yang membuat mereka takut.”

Puisinya disimpan, dibacakan ulang, diterbitkan. Kalimatnya jadi semboyan: “Hanya satu kata: lawan!” Di kampus-kampus, mural wajahnya muncul. Di tembok kota, namanya ditulis. Ia hilang secara tubuh, tapi hadir sebagai simbol.

***
Kini, puluhan tahun kemudian, misteri nasibnya tetap menggantung. Negara belum pernah benar-benar menjawab. Tapi satu hal pasti: suara itu tetap hidup. Di setiap aksi menuntut keadilan, ada bait puisinya. Di setiap teriakan buruh, ada gema suaranya. Di setiap hati yang menolak tunduk pada penindasan, ada semangatnya.

Dji pernah berkata:“Kalau aku hilang suatu hari nanti, jangan cari tubuhku. Cari puisiku. Di sanalah aku akan selalu hidup.”

Dan benar, ia tetap hidup. Tidak di tubuh yang hilang, tapi di suara yang tak bisa dibungkam. (*)

Ilustrasi Bang Dangko (Koleksi Agung Nugroho)

Karya: Agung Nugroho (Pemaen Bola Kampung)

Bulan Agustus di Rawajati itu kayak Lebaran, cuma bedanya ketupat diganti kerupuk gantung. Semua semangat nyiapin lomba. Ada balap karung, tarik tambang, panjat pinang… dan satu lomba yang bikin Abang Dangko tiap tahun pengen pura-pura pindah KTP: lari pake daster buat bapak-bapak.

Suatu sore, Ketua RT datang sambil bawa map tebel kayak mau sidang KPK.

“Bang Dangko, lo jadi komentator lomba daster lagi ya. Tahun lalu pecah banget! Penonton ketawa sampe ada yang jatuh ke got.”

Dangko senyum kecut. Dalam hati dia ngomel, “Lah iya, jatuhnya ke got… tapi harga diri perempuan kita jatuhnya ke mana, Bang?”

Buat warga, lomba ini hiburan. Buat Dangko, ini lomba nginjek simbol emak-emak se-Indonesia. Daster itu kan seragam pasukan elite emak-emak: dipake dari subuh nyapu, nyuci, nyetrika, sampe malam ngurus PR anak. Kok bisa-bisanya dijadiin bahan ngakak?

Pernah dia protes ke panitia:

“Bang, kalau mau lucu, banyak cara. Misal lomba kostum dari barang bekas, atau lomba nyanyi dangdut sambil mulut disumpel roti tawar. Lucu, kreatif, nggak ngerendahin siapa pun.”

Ketua RT jawab santai sambil ngupil: “Ah, Bang Dangko, hiburan ini mah. Nggak usah baper.”

Malam sebelum lomba, Dangko nongkrong di warung kopi. Di meja sebelah ada tiga bapak latihan lari pake daster, sambil nyoba gaya catwalk Paris Fashion Week. Salah satu jatoh nyungsep ke kardus Aqua. Dangko cuma geleng-geleng, sambil inget wejangan gurunya: “Humor yang ngerendahin orang itu kayak tahu bulat basi — digoreng dadakan, tapi baunya nyisa seminggu.”

Hari H lomba, garis start udah penuh bapak-bapak dengan daster bunga-bunga ukuran jumbo. Ada yang kebesaran sampe nyapu jalanan, ada yang kedesekan sampe kayak lontong. Penonton udah siap ngakak.

Dangko ambil mic, gaya kayak komentator MotoGP:

“Pemirsa sekalian, lomba kali ini kita ubah! Daster ini kita hormati sebagai seragam legendaris emak-emak. Peserta boleh ganti kostum bebas, tapi harus kreatif. Yuk, kita lihat siapa yang jadi pemenang hati rakyat!”

Akhirnya, parade kostum dimulai: ada bapak nyamar jadi kulkas dua pintu, ada yang jadi mi instan jumbo, bahkan ada yang masuk pakai baju mirip guling. Penonton tetep ngakak, tapi kali ini tanpa ngeledek siapa pun.

Malamnya Dangko pulang sambil nyanyi sendiri:

“17 Agustus tahun depan, kita gas lagi… biar lomba daster pensiun dengan hormat.”

Foto Agung Nugroho (Koleksi Pribadi)

Tentang Penulis:

Agung Nugroho adalah seorang pegiat kreatif dan sosial yang aktif di berbagai bidang, mulai dari seni, bisnis, hingga advokasi masyarakat. Memiliki latar belakang di dunia aktivisme sejak 1990-an, Agung dikenal sebagai pribadi yang energik, visioner, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Saat ini, ia mengembangkan beragam usaha kuliner dan kopi, sekaligus menyalurkan minatnya di bidang penulisan, desain, dan pengelolaan komunitas.

Foto Yanvera (Koleksi Pribadi)

Karya: Yanvera


“Kalau kita selalu menyadari kekurangan diri kita sendiri, tanpa menonjolkan kelebihan kita. Niscaya kita menjadi tenang dengan segala kondisi yang ada. Camkan itu nak!!!”

Terkadang kita memang terasa diperlakukan tak adil sama sang pencipta. Meski dalam hati kita selalu protes dan berontak. Tapi bapak mu ini, dengan tulus meminta pada dirimu. Jadikanlah rasa kekesalan itu sebagai puncak membahagiakan diri atau pembelaan diri mu saja, tapi dengan rentang waktu sekedipan mata mu.

“Nak!! Kalau dunia ini terlalu berat buat mu, karena lahir dari keluarga miskin, memang tak bisa dipungkiri. Tapi itupun tak bisa buat kamu menghakimi semua orang. Seolah-olah semua orang salah karena tak mau peduli, dan lingkungan sekitar mu tidak mau berpihak.”ucap Sarwad seorang pemulung jalanan yang sedari kecil hidup terlunta-lunta dijalanan.

Bapak sendiri sangat menyesali kekurangan diri sendiri. Yang tak bisa bikin kehidupan anak-anaknya seperti lazimnya anak-anak orang lain. Tetapi ingat nak, bapak mu ini, selalu dan terus selalu berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kamu dan adik-adikmu. Tanpa harus meminta semua orang wajib memahami kondisi ekonomi keluargaku.

“Hidup ini terasa tidak adil. Kalimat ini pernah terucap dari mulut bapak mu ini. Ketika melihat orang lain begitu mudahnya mendapatkan uang untuk membahagiakan keluarganya. Sedangkan bagi bapakmu ini, begitu sangat sulit sekali. Namun kala itu bapakmu tak larut dalam kesedihan, melainkan menjadi obat penyemangat kerja mencari rongsokan.” cerita Sarwad pada Norma anak sulung yang sangat disayanginya.

Usai panjang lebar cerita dan menasehati Norma yang tengah dilanda kegundahan, akibat kondisi perekonomian orang tuanya. Sarwad mengajak Norma untuk sekejap mengheningkan hati sambil berucap. Kondisi ini harus kita rubah dengan ikhtiar dan doa setiap waktu, tanpa mengharapkan semua orang yang berubah. Untuk peduli pada sesama tapi kita yang harus sendiri melakukannya.

“Bapak hanya meminta kamu, buang rasa kecewa dan jangan sampai kamu pendam dalam hati. Walaupun harapan mu tak terpenuhi. Terus kamu jangan sampai menyakiti orang lain dan orang-orang terdekat mu. Kemudian kamu tak boleh bersikap ingin dimengerti, tapi kamu tak mau memahami serta mau mengerti orang lain. Jangan kamu selalu ingin dihargai, sedangkan kamu sering lupa menghargai diri sendiri maupun orang lain. Anak ku Norma, kamu harus tahu yang paling menyakitkan bukan ucapan orang, tapi kenyataan bahwa kita telah menyakiti hati orang lain. Memang menyadari kekurangan diri sendiri itu bukan hal yang mudah. Kadang butuh waktu, butuh air mata, dan butuh keberanian untuk mengakui semua itu.” pesan Sarwad sambil memeluk Norma yang berlinang air mata.

“Terima kasih bapak, engkau pahlawan keluarga ku. Aku akan selalu menaati nasehat mu. Sekarang aku paham ternyata aku pun tak selalu benar.” ucap Norma dalam hati.

Perbincangan anak dan bapak tentang perekonomian keluarga dan kehidupan yang begitu menguras air mata pun berakhir. Dan mereka berdua tanpa sadar terlelap dalam kantuknya masing-masing.

Tok… Tok… Selamat siang. Suara ketukan pintu yang terbuat dari seng berkarat dengan dinding rumah papan bekas. Mengagetkan se isi rumah Sarwad. Puluhan tahun baru kali ini ada tamu yang mengetuk pintu rumah. Sebelumnya hanya suara tetangga dari luar. Itu pun kala pembagian zakat fitrah dan bantuan maupun pembagian daging kurban saja.

“Siang pak! Ada apa yah?” ucap Wati istri Sarwad yang membukakan pintu rumahnya.

“Oh ibu, bener ini rumah Norma anak bapak Sarwad?. Kalau benar bolehkah kita masuk kedalam?” ucap sang tamu

Wati pun langsung menjawab dan mempersilahkan sang tamu asing masuk dan duduk diatas tikar. Dan ternyata sang tamu membawa rombongan hingga ruang tamu rumah Wati tak mampu menampungnya.

” Begini bu, kedatangan kami ke sini, memberitahukan bahwa anak ibu yang bernama Norma serta kedua adiknya akan di sekolahkan di sekolah rakyat, kemudian rumah ibu akan direnovasi serta diberikan modal buat usaha bapak dan ibu.” cerita sang tamu sambil tersenyum penuh kasih.

Mendengar keterangan dari sang tamu. Wati langsung pingsan cukup lama, hingga membuat para tamu kebingungan.

Itulah kebahagiaan lahir batin yang diterima Norma, anak yang pintar namun kondisi ekonomi keluarga tak mampu menyokong kepintarannya.
Selamat Norma selamat Bapak sarwad, percayalah ini bukan mimpi di siang bolong. Tetapi ini program nyata dari pemerintah untuk menghadirkan harapan-harapan anak-anak kalian.

Karya: Harsa Permata

Babak baru dimulai, dalam episode perjuangan Usman untuk menyelamatkan bisnis keluarganya, yang telah dirintis oleh ayahnya dari nol. Semesta, pada hari Sabtu, yang dihiasi hujan gerimis deras ini, ternyata terlihat seolah tidak mendukung perjuangan lelaki separuh baya itu.

Ia teringat beberapa baris lirik lagu “Internasionale”, yang dulu dinyanyikannya bersama para buruh dalam sebuah demonstrasi:

Perjuangan penghabisan
Bangkitlah melawan
Dan Internasionale
Jayalah di dunia


Baginya, saat ini, adalah fase ketika ia perjuangannya akan menemui akhir. Entah bagaimana nanti akhir perjuangan Usman ini. Ada banyak kemungkinan, akan tetapi, jika dikerucutkan, maka hanya ada dua kemungkinan besar. Pertama, perjuangannya akan menemui hasil, yang sesuai dengan harapan. Kedua, karena ketiadaan dukungan semesta, maka perjuangannya menemui kegagalan.

Dini hari yang berkabut, sehabis hujan, Usman duduk sendirian, di ruang tamu rumahnya, memandangi layar telepon selulernya, yang bergoyang, dan tiba-tiba menghitam, mati, lalu menyala kembali. Hal ini terjadi berkali-kali, yang kemudian membuat Usman frustrasi.

Ia ingat masa lalu, dulu ketika telepon genggamnya rusak sedikit saja, tanpa pikir panjang, ia akan langsung ke toko untuk membeli telepon genggam baru. Saat itu, uang di rekeningnya masih lebih dari cukup untuk membeli rumah, dan mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.

Akan tetapi, karena ia terjerembap secara ekonomi, pada pertengahan tahun 2023, yang kemudian membuat hidupnya dan keluarganya, serasa sedang terjun bebas, maka ia hanya bisa berharap supaya telepon genggamnya bisa pulih kembali dengan sendirinya. Pada pukul 3 dini hari, mata Usman yang sangat lelah, tidak bisa dikompromikan lagi. Ia kemudian tertidur sampai pukul 5 subuh.

Suara istrinya, Annie, membangunkan Usman, “Yah, Ayah tidak salat subuh?” tanya Annie padanya.

“Jam berapa sekarang, Bunda?” tanya Usman balik.
“Jam 5 lebih sedikit, Yah,” jawab Annie.
“Baiklah, aku salat dulu ya Bunda,” ucap Usman pada Annie, yang duduk di kursi tamu, di sebelah kiri Usman.

Pada pukul 6 pagi, kembali ia duduk sendiri di ruang tamu, ditatapnya jendela rumah, matanya memang melihat ke jendela, akan tetapi, pikirannya berkelana ke suatu peristiwa yang dilihatnya di layar laptop,beberapa waktu yang lalu. Tepatnya, pada hari buruh, 1 Mei 2025, sebuah video dokumentasi peristiwa bersejarah pada hari itu, telah diunggah ke youtube.

Baru tahun ini, ia menyaksikan seorang presiden Indonesia menyanyikan lagu Internasionale bersama para buruh. Hal yang dulunya tidak pernah terjadi sama sekali. Paling-paling pimpinan Partai Bintang Gerigi (PBG) menyanyikannya bersama para buruh, yang sedang berdemonstrasi.

Perasaannya campur aduk mengingat peristiwa dalam video itu. Sebagai seorang yang pernah berjuang bersama kaum buruh dan kaum tertindas lainnya, ia hanya bisa berharap bahwa presiden tersebut benar-benar menyanyikannya dari hatinya yang paling dalam. Sehingga, semua kebijakannya, benar-benar untuk mewujudkan kesejahteraan bagi kaum buruh dan kaum lainnya yang terpinggirkan oleh sistem.

Pikiran Usman kembali ke dirinya, yang tengah duduk di ruang tamu. Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab di kepalanya, “Bagaimana aku bisa ke Kampuang? Bagaimana bernegosiasi dengan Bambang? Bagaimana aku bisa ke sana dengan istri dan anak-anakku?” begitu sebagian pertanyaan yang berputar di kepala Usman.

Tadi malam, sehabis isya, Usman menelepon Imran, teman sekaligus tetangganya, yang tinggal di depan RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) milik keluarganya. Hal itu dilakukannya, karena sebelumnya, ia tidak berhasil menghubungi asisten ibunya, melalui panggilan telepon.

Biasanya, jika kangen dengan ibunya, maka ia akan menelepon asisten ibunya itu, dan mereka (Usman dan ibunya) mengobrol lewat panggilan video. Akan tetapi, tadi malam, ia gagal melakukannya, karena nomor kontak asisten ibunya itu ternyata sudah tidak terdaftar lagi dalam aplikasi panggilan video.

Usman panik, ia kemudian menghubungi temannya, Imran, yang ternyata juga gagal, bukan karena Imran tidak bisa dihubungi, melainkan karena telepon genggam Usman mati total. Untungnya, istrinya, Annie kemudian menawarkan kepada Usman untuk menggunakan telepon genggam miliknya, guna menelepon Imran.

Sebenarnya, di hatinya, Usman sudah tidak sabar untuk pulang ke Kampuang, bertemu ibunya, dan menyelamatkan RSIA milik keluarganya itu. Akan tetapi, karena persoalan dana, dan lainnya, ia masih belum bisa berangkat ke Kampuang, bersama keluarganya.

“Halo Imran, bagaimana kabar Pak Haji?” sapa Usman pada Imran, yang setahun sebelumnya telah berhasil menginjak tanah suci Mekkah untuk melakukan ibadah haji.

“Baik Man, alhamdulillah, ha-ha-ha, tidak usahlah kau panggil aku Pak Haji, aku biasa-biasa saja,” jawab Imran merendah.
“Tidak apa-apa Im, panggilan itu memang pantas untukmu, dirimu kan sudah berhaji,” ucap Usman menangggapi.
“Ada apa ini Man? Tiba-tiba menelepon aku, setelah sekian lama tidak berkontak?” tanya Imran.
Usman kemudian menjelaskan situasi dan kondisi yang membuat ia menelepon Imran, “Aku mau bertanya terkait kondisi ibuku, Im, kau kan tinggal di depan rumah, tentu tahu tentang hal itu.”
“Sudah lama ibumu tidak beli lontong di tempatku Man, mungkin dia sudah pindah ke rumah baru adikmu, si Bambang.” ucap Imran.

Mereka kemudian berbincang lewat telepon cukup lama. Imran mengatakan bahwa ia kasihan terhadap Bambang, karena semua harus ia jalani sendiri, merawat bu Yulia, ibunya Usman dan Bambang, menghadapi masalah istrinya, Lampir, yang suka hedon dan baru-baru ini digugat orang dengan tuduhan penggelapan uang miliaran rupiah. Usman lebih banyak mendengarkan saja perkataan Imran, sembari berpikir, bahwa ternyata memang si Bambang sekarang sedang dalam posisi sulit.

Akan tetapi, si Bambang, adiknya itu, tidak mau terbuka kepada Usman terkait hal ini, entah mengapa. Dalam pandangan Usman, mungkin Bambang menganggap bahwa Usman tidak akan bisa memberi pertolongan terhadap berbagai masalah yang dihadapinya itu.
***
Setelah bermenung, sampai kopinya di gelas habis, Usman kemudian bangkit dari duduknya. Ia meminta pendapat Annie istrinya, tentang persoalan perawat ibunya, yang tidak bisa dihubungi, ia juga menceritakan percakapannya dengan Imran lewat panggilan telepon tadi malam.

Annie lalu menyarankan Usman untuk menelepon Kak Nidar, pegawai ibunya, yang senior, dan sudah cukup lama bekerja di RSIA itu, serta kenal dekat juga dengan Usman. Untungnya, Kak Nidar langsung mengangkat panggilan telepon Usman. Ia lalu memberi Usman kesempatan berbincang dengan Bu Yulia,melalui panggilan video.

Usman girang sekali, akhirnya bisa berbincang dengan ibunya, walaupun yang bersangkutan sudah banyak lupa karena kondisi demensia yang dialaminya. Akan tetapi, Usman bersyukur, karena Bu Yulia masih mengingat Usman sebagai anak sulungnya.

Bagi Usman, keberhasilan berbicara dengan ibunya lewat panggilan telepon ini adalah sebuah kemenangan kecil. Dengan ini, ia bisa memahami bahwa ibunya tidak sedang dicuci otak oleh Bambang, untuk memusuhi Usman. Seperti yang pernah dilakukan Bambang beberapa tahun silam. Saat itu, Bu Yulia bahkan sampai tidak mau berbicara dengan Usman, karena menganggap bahwa Usman adalah orang jahat yang ingin mencelakainya.

Walaupun demikian, Usman sadar, bahwa kondisi ini sewaktu-waktu tetap bisa berubah, jika ia belum berhasil ke Kampuang untuk menyelesaikan segala persoalan di sana. Hal yang tentunya, luar biasa sulit dilakukan dalam kondisi keuangan Usman yang masih sangat kurang untuk membiayai perjalanannya ke Kampuang bersama istri dan dua anaknya.
***
Sore harinya, Usman mengenang masa-masa dirinya berjuang bersama rakyat, belasan tahun yang lalu. Bersama teman-temannya, Gide, Tius, dan Jono, mereka kerap bergabung dalam demonstrasi mahasiswa dan rakyat.

Saat itu, semangat perjuangannya masih sangat besar, walaupun uang sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali, ia dan teman-temannya itu tetap tak kenal lelah untuk berdiskusi dan berdemonstrasi. Sayang sekali, hal tersebut harus berakhir setelah masing-masing lulus kuliah. Gide dan Jono lulus duluan, yang kemudian diikuti Usman pada tahun yang sama. Sementara Tius baru lulus kuliah, enam tahun kemudian.

Usman butuh semangat yang dulu pernah dimilikinya itu, untuk menyelesaikanberbagai persoalan yang menimpa keluarganya. Akan tetapi, dengan kondisi sekarang ini, tentulah semangat juang yang sama persis, tidak akan bisa ia bangkitkan kembali.

Sekarang, ia juga tidak mungkin berbagi dengan teman-teman seperjuangannya dulu, dalam perjuangan menyelamatkan bisnis keluarganya ini. Gide sudah meninggal dunia, tahun 2016, karena menderita hepatitis c, sementara Jono dan Tius, tentulah sedang sibuk dengan pekerjaan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya masing-masing. Saat ini, temannya yang bisa diajak berbagi pikiran tentang persoalannya yang sekarang, hanya Hotman, teman masa kecilnya,yang tidak rela jika rumah sakit milik keluarga Usman ini harus tutup, karena kasus penggelapan yang menjerat Lampir, istri Bambang.

Selain itu, Usman tidak tega juga harus bersikap keras dan tegas kepada Bambang, yang sebenarnya adalah adik kesayangan Usman. Dulunya Bambang ini adalah anak baik, yang tidak banyak tingkah, baru setelah kenal dan memadu kasih dengan Lampir, Bambang menyerap semua energi negatif yang dimiliki Lampir, dan menjadi orang yang akan melakukan segala cara, walaupun harus menyingkirkan keluarganya sendiri, demi memenuhi hasrat dan keinginan Lampir.

Dalam kebimbangannya, Usman menyanyikan lirik lagu internasionale sendiri, dalam hatinya.

Bangunlah kaum yang tertindas
Bangkitlah kaum yang lapar
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar


Hancurkan adat dan paham tua
Kita rakyat yang sadar, sadar
Dunia telah berganti rupa
Untuk kemenangan kita


Perjuangan penghabisan
Bangkitlah melawan
Dan Internasionale
Jayalan di dunia


Tak terasa, air mata hangat menetes membasahi pipinya. Usman lalu terdiam lama menatap jendela rumahnya, yang dihiasi pemandangan awan mendung. Sebuah panggilan dari Ali yang butuh bantuan untuk ke toilet, menyadarkan Usman dari lamunan. Ia lalu bangkit dari duduknya, dan menuju ke kamar Ali, anak sulungnya.

Karya: Harsa Permata

Sore yang sepi dan penuh debu. Seorang perempuan muda, baru saja melewati jalanan tidak rata depan pagar besi hitam sebuah rumah. Usman sedang duduk di atas kursi kayu panjang samping rumah dengan pagar besi itu, ia terlihat sedang duduk sendirian, ditemani bungkusan rokok kreteknya.

Bermenung sendirian, menghilang dari keramaian, keramaian yang dianggapnya hanya berisikan keluh kesah, caci maki dan bentakan. Melarikan diri dari suara-suara sumbang yang menulikan pendengaran. Menikmati kesendirian, berkawan angin dan debu.

Cinta yang menyakitkan, rasa kecewa akan kehidupan yang teramat dalam, sedalam kata-kata singkat puisi-puisi Tiongkok, yang karena saking dalamnya tidak terlukiskan maknanya. Semuanya bergelut liar dalam kepala dan dada Usman. Setelah semua hal yang dialaminya, cinta, pemberontakan, keputusasaan, ingin rasanya ia menolak semua jenis cinta dan kehidupan  dan lebih memilih untuk hidup selamanya dalam kekeringan yang gersang. Itulah tekadnya yang mengeras bagai baja, hasil dari kesakitan yang amat sangat akan cinta.

Hari-hari dilaluinya bagai seorang paria yang menganggap bahwa kenyataan adalah omong kosong belaka. Melakukan hal-hal untuk kedirian saja dan tidak perduli pada manusia yang hidup di sekitarnya, seluruh keluarganya yang walaupun sangat menyayanginya tapi dirasa memenjarakannya dalam kasih sayang.

Ayahnya, seorang psikiater, paham pada apa yang tengah membebani pikiran anaknya. Pemahaman yang juga digunakannya untuk menjawab keluh kesah istrinya atau ibu dari Usman.

“Sudahlah bu, biarkan saja dia seperti itu. Agaknya semua hal terlalu berat baginya sekarang. Tenang saja Usman kecil kita tidak akan luluh dilindas keadaan. Percayalah ia masih cukup kuat menghadapinya, ia pasti bisa keluar dari semua ini”, kata ayahnya pada ibunya suatu malam, ketika seluruh penghuni rumah telah terlelap.

***

Adalah suatu senja yang temaram, yang mengubah semua kekecewaan yang dideritanya. Kedatangan seorang perempuan, menebarkan kelembutan dan membangkitkan gairah cinta yang selama ini terkubur dalam  kebisuan yang dingin. Kehadirannya seperti menuangkan air yang dingin pada gelas yang telah lama kering dalam kemarau yang berkepanjangan.

Ingin sekali ia, berbagi rasa dengan kelembutan ini, memberinya sebuah pelukan hangat. Duduk berdua saling bersebelahan, rapat, bercerita tentang cinta yang sukar ditebak atau tentang cerita-cerita lainnya, yang menciptakan surga di dalamnya.

Tapi, ia harus mengurungkan semua itu. Menyembunyikan dalam-dalam niatnya yang tulus itu dalam lemari besi “kerahasiaan” atau menguburnya dalam-dalam, hingga tak tercium, terasa  ataupun terdengar lagi. Karena kelembutan yang dicintainya ternyata sudah tidak sendiri lagi dan celakanya, ia  adalah istri sah dari kakak sepupunya Hendro, yang juga menyertai kedatangan Lina, perempuan dengan segala kelembutan itu.

Lina adalah seorang perancang rumah. Seorang yang ulet dan rapi, beda sekali dengan Hendro, suaminya yang lebih senang bermalas-malasan, memamerkan ketampanan wajahnya untuk menggoda kedua orang Asisten Rumah Tangga, rumah ini, yang masih muda usia dan cukup menarik. Selain itu ia juga suka sekali berjudi, menghabiskan hari dengan lembaran kartu dan botol kaca.

Lina sama sekali tidak pernah memperlihatkan rasa keberatannya pada semua kelakuan Hendro. Ia termasuk golongan orang yang suka mengabdi pada suaminya, suka memendam perasaan dan semua keluh kesahnya. Bersikap sebagai pelayan yang patuh pada suaminya, ini semualah yang membuat Usman geram. Di satu sisi ia sangat ingin memarahi Hendro karena kelakuannya yang telah memperlakukan cinta buta Lina secara tidak adil atau menyadarkan Lina bahwa ia telah salah memberi cinta dan meninggalkan Hendro untuk pergi jauh bersamanya. Tapi, di sisi lain ia enggan merusak hubungan keluarga yang berisikan semua norma moral dan adat yang tidak boleh dilanggar.

Ia segan pada almarhum ayah Hendro, yang sangat dihormatinya. Walaupun ia telah meninggal dunia tapi rasa segan itu masih bercokol dalam hati Usman. Maka tinggallah ia berdiam diri, bersikap acuh pada cinta yang seharusnya bisa digapai. Walaupun perasaannya berkata sebaliknya.

Kali ini walaupun tidak secara terang-terangan diperlihatkannya. Ia tetap tidak bisa menyembunyikannya dalam tulisan-tulisan rahasianya. Atau ketika bermenung sendirian, terhanyut dalam “Love me two times”, yang dilantunkan oleh Jim Morrison, ketika kegelapan malam merasuk dalam kamarnya yang berada dibagian depan rumah ini, terpisah satu kamar dari kamar yang ditempati Hendro dan Lina.

Dalam bayangannya ketika itu, Lina datang padanya di suatu malam, menggenggam sekuntum mawar, malam yang dipenuhi suara hujan dan dingin, mereka berbaring dalam selimut. Ketika terbangun pada pagi harinya, ia hanya bisa memaki pelan karena itu hanyalah sebuah mimpi belaka.

***

Pagi hari, matahari terbit dengan sinar lembut di sebelah timur, suara ribut-ribut kendaraan dan anak-anak sekolah yang baru datang. Desir suara minyak di dapur bagian belakang dekat garasi rumah ini. Lina sedang memasak sup, untuk semua penghuni rumah ini, ia belum mandi tapi bagi Usman ia tetap seharum mawar, yang menggoda minta dipetik.

Usman baru saja datang dari kota lain di balik bukit-bukit dan jurang-jurang yang curam, dingin, berkabut. Masih tersisa ketegangan saat menyetir moil melewati jalan-jalan di sebelah bukit yang ditumbuhi tetumbuhan hijau, di pinggir jurang yang berkelok-kelok. Mungkin karena itu ia bisa berbicara cukup lancar pagi ini, penuh keberanian.

Di atas meja batu dapur yang dilapisi keramik biru muda, ia duduk, berbicara lantang mengungkapkan apa yang terpikir dalam otaknya.

“Kak Lina, tidak makan?” rasa dingin ketika pahanya menyentuh keramik, tidak dihiraukannya.

“Nanti saja belum mandi. Sama saja dengan kerbau kalau makan sebelum mandi,” jawab Lina.

“Berarti aku sering seperti kerbau”, kata Usman jujur. Semua penghuni rumah tertawa mendengarnya, begitu juga Lina yang duduk di dekatnya.

Lina baru saja selesai memasak dan menghidangkan makanan yang diolahnya dengan mangkuk kaca yang biasa digunakan sebagai tempat nasi di meja makan. Ia duduk di dekat Usman setelah itu, samping tempat pencuci piring dari aluminium.

“Usman tidak makan ?” tanya Lina balik.

“Ah nanti saja, sekarang lagi malas jadi kerbau,” jawabnya yang kembali diiringi tawa penghuni rumah. Sementara wajah Lina bersemu merah. “Nanti pasti kuhabiskan supnya kak”.

Lina kembali tersenyum manis malu-malu. Ia senang Usman menyukai masakannya. Usman juga senang bisa melihat senyum Lina, setelah kehampaan dan kegersangan tanpa ujung yang melandanya.

“Eh kemarin, aku lihat Usman punya novel bagus, ada dibawa sekarang?” tanya Lina tiba-tiba.

“Yang mana ?” tanya Usman balas bertanya.

“Yang bersampul merah muda”.

“Oh, yang itu. Kak Lina suka ?”

“Suka lihat sampulnya”.

“Bentar ya kuambilkan,” kata Usman, segera bangkit dari duduknya dan segera berjalan setengah berlari ke kamarnya.

Buku itu bercerita tentang cinta kasih dan pemberontakan, perjuangan seorang ibu dan seorang perempuan, dalam kungkungan sistem patriarki dan menindas kemanusiaan di Rusia  awal abad XX. Lina suka sampulnya tapi  belum tahu kalau isi bukunya berlawanan sama sekali dengan sikapnya yang patuh pada suaminya.

Usman muncul tidak lama kemudian, disodorkannya buku bersampul merah muda itu pada Lina, yang berbalas ucapan terima kasih dan perasaan senang Lina. Ia ingin segera membaca untaian kata dalam buku itu. Lina pergi untuk mandi kemudian.

Semangkuk mie goreng telah dimasak oleh Lenny, Asisten Rumah Tangga, rumah ini. Usman segera melahapnya bersama sup buatan Lina di meja makan. Lina, yang keluar kamar setelah mandi, sangat bersenang hati, ketika ditemuinya Usman melahap masakan buatannya. Perasaan seorang ibu yang senang melayani orang yang dikasihinya.

Lina duduk di kursi, sebelah Usman, di depan Hendro yang terlihat sibuk dengan makanannya, baru saja ia tambah untuk yang ketiga kalinya. Bahagia sekali hati Usman, karena bisa duduk bersebelahan dengan Lina, perempuan yang disukainya dalam hati saja.

Di kamar setelah selesai makan, ia tersenyum sendirian mengenangnya. Suatu ekstase penuh gairah melanda perasaan Usman, menyadari bahwa ia bisa duduk bersebelahan dengan Lina, kakak iparnya. Ia tergelitik untuk menerka-nerka perasaan Lina ketika duduk bersebelahan dengannya dan ketika Lina mulai membaca buku itu. Apakah ia juga merasakan seperti yang dirasakannya? Suatu ekstase yang melebihi gairah yang timbul dalam persetubuhan penuh nafsu.

***

Baru menyelesaikan 20 halaman. Pikiran Lina sudah terasa kacau, yang biasanya pasif, patuh jadi terkejut dengan kenyataan yang dilukiskan buku itu. Kekerasan terhadap perempuan, caci maki dan umpatan oleh suaminya, menghasilkan pemberontakan sepenuh hati sang ibu sebagai tokoh utama.

Diletakkannya buku itu kemudian dalam keadaan terbuka lebar, di atas meja makan. Ia duduk sendirian di atas kursi kayu samping rumah tapi pikirannya masih penasaran dengan kelanjutan cerita buku itu. Diambilnya lagi buku itu dan mulai membacanya lagi di kursi samping.

Hendro memang belum pernah melakukan kekerasan fisik padanya. Tapi Hendro akan marah kalau ia berhubungan dengan laki-laki lain, sementara ia tidak boleh marah kalau Hendro mendekati perempuan lain, memenuhi birahinya.

Dibukanya halaman-halaman buku dengan perasaan tegang, yang menggambarkan keadaan mengerikan, perjuangan tanpa kenal lelah melawan keadaan yang mengerikan itu. Kadang-kadang ia marah dan sedih ketika terjadi suatu keadaan  yang menyentuh nurani kemanusiaannya.

Usman sedang berada di kamarnya ketika itu, mendengarkan musik, kelelahan, setengah mengantuk setelah berjalan cukup jauh, mencoba melupakan semua impiannya. Cinta, norma moral dan adat yang dirasanya kejam padanya.

Kalau ia menyatakan cinta pada perempuan itu maka moral dan adat akan menghukumnya. Semua hubungan keluarga akan porak-poranda. Kalau ia menyembunyikannya, maka hatinya akan semakin sakit, serasa ditusuk jutaan jarum. Untuk itu, dicobanya lah melupakan semua. Semua yang membebani pikiran dan perasaannya dengan berjalan kaki, mengeluarkan keringat hingga kecapaian, bersimbah peluh.

Tapi ternyata perasaan itu tidak hilang juga, walaupun telapak kakinya telah luka-luka terbakar aspal panas, ketika berlari tanpa alas kaki di siang hari, melepuh, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.

Merasa kerongkongan nya haus dan kering, Usman pergi ke dapur untuk membasahi nya dengan segelas air dingin. Setelah itu ia melangkah kakinya menuju bangku samping. Tidak ada seorang pun di rumah ini, kecuali Usman dan Lina. Hendro pergi bersama Leny dan Yeny, dua orang pembantu rumah ini.

Ia terkejut dan hendak pergi ketika ditemukannya Lina juga sedang duduk di sana tapi suara Lina memanggilnya untuk duduk menemaninya.

“Bagaimana ceritanya kak ?” tanya Usman, setelah duduk di bangku, bersebelahan dengan Lina dengan buku di tangannya.

“Baru sedikit kok, belum baca semuanya. Usman dari mana saja?”

“Jalan-jalan keliling kota, menghilangkan beban di kepalaku,” jawab Usman mengalihkan pandangannya ke arah lain, lapangan tenis yang kosong, terkena panas matahari siang, di depan pagar samping.

“Ada masalah apa Man?” tanya Lina lembut.

Usman tidak segera menjawab, menimbang jawaban apa yang terbaik, yang bisa menyembunyikan perasaannya. Ia bangkit ke dalam, untuk mengisi lagi gelasnya yang telah kosong. Lina menyusulnya, menginginkan jawaban atas pertanyaannya.

Ditemuinya, Usman sedang duduk di atas meja dapur.

“Ada apa sih Man? Kok menyendiri begini?”.

“Masalah kuliahku, yang belum juga selesai kak,” akhirnya Usman menjawab, dengan pelan.

“Oh, ya tidak usah terlalu dipikirkan, aku saja selesainya lama kok. Bawa santai saja, mengalir,” kata Lina menasehati. “Aku ke kamar dulu ya, nanti kalau masih ada yang mau diceritakan, susul saja aku ke kamar”.

Usman merasa bersalah karena telah membohongi Lina. Ia menyesal tidak berani mengatakan kejujuran. Lama ia memikirkannya di atas meja dapur, dekat jendela kaca nako, suara kendaraan dan hembusan angin.

Ia melangkah menuju kamar Lina kemudian, agak berat, dengan dada berdebar kencang. Lina sedang membaca sambil tiduran ketika itu. Dihentikannya ketika diketahuinya Usman datang ke kamarnya.

Usman duduk, diam sebentar dan kemudian berkata, “Kak, terimakasih atas nasehatnya ya, aku jadi semangat lagi untuk melanjutkan kuliahku”.

Yogyakarta, Suatu Ketika

Keterangan Gambar Utama: Foto Novel “Ibu” Karya Maxim Gory (Sumber: yoursay.suara.com).