Foto Harsa Permata (Koleksi Pribadi)

Oleh: Harsa Permata

Sebelum berbicara lebih jauh tentang bagaimana teknik penulisan yang sesuai dengan garis ideologi Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), ada baiknya kita melihat ke belakang, khususnya yang terkait dengan sejarah sastra Indonesia. Karena sastra sebagai salah satu bagian dari seni, adalah hal yang sangat melekat pada kebudayaan Indonesia, bahkan saat wilayah Kepulauan Indonesia ini masih bernama Nusantara.

Penggunaan bahasa Melayu, yang menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia, dalam penulisan sastra, bahkan sudah dimulai semenjak abad 19, atau tepatnya pada sekitar tahun 1850-an (Erowati & Bahtiar, 2011: 11). Sebelum abad ke-20, atau sebelum dimulainya era pergerakan nasional Indonesia, karya sastra yang berkembang saat itu lebih didominasi oleh pantun, syair, gurindam, dan hikayat, yang biasanya menggunakan bahasa daerah. Era ini disebut sebagai Angkatan Pujangga Lama, isi karyanya, biasanya berupa petuah atau nasihat moral, kisah para raja, atau bangsawan (Abi Mu’ammar Dzikri dalam tirto.id, diakses 24/06/2025).

Era berikutnya, adalah Angkatan Pujangga Baru, yang namanya diambil dari nama majalah yang dikelola oleh Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisyahbana, yaitu majalah “Pujangga Baru”. Majalah ini terbit sebagai reaksi terhadap sensor penerbitan Balai Pustaka, terhadap karya para sastrawan, yang menyuarakan tentang semangat nasionalisme dan kesadaran kebangsaan (Erowati & Bahtiar, 2011: 39).

Muncul setelah pergerakan nasional Indonesia mengalami titik balik, pasca gagalnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda, pada sekitar tahun 1926-1927. Oleh karena itu, tidak heran dominasi kesadaran kebangsaan dan nasionalisme, cukup kental dalam karya-karya para sastrawan masa ini.

Salah satu puisi karya Armijn Pane, yang berjudul “Bertemu”, mungkin cukup tepat untuk mewakili nafas dan semangat sastra era Pujangga Baru ini,

Di tepi pantai laut kami bersua,
Dan kami memandang ke dalam mata masing-masing,

Yang penuh sengsara, penuh duka,
Karena negeri digenggam bangsa asing.

Dengan diam kami berjabat tangan,
Sambil menantang muka saudara yang muram caya,

Kami bersama pergi berjalan,
Melalui dataran di senjakala.

Angin meniup jubah kami,
Bagai mengembus kain mati

(Sumber: sepenuhnya.com, akses 24/06/25).

Jika dibandingkan dengan isi novel “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis, yang tebit pada tahun 1928, atau pada era Pujangga Lama, maka kita bisa melihat bahwa satir dalam novel tersebut, hanya berupa cemoohan dan kritik terhadap sikap para pemuda yang mengidolakan kebudayaan barat atau kebarat-baratan. Tidak ada sama sekali seruan nasionalisme dan kesadaran kebangsaan, dalam novel terbitan Balai Pustaka itu. Hanafi, si tokoh utama, digambarkan sebagai seorang laki-laki yang tega meninggalkan istrinya yang orang Minang, untuk mengejar perempuan Belanda yang dicintainya, yaitu Corrie (indonesiakaya.com, akses 24/06/2025).Sementara puisi “Bertemu” karya Armijn Pane, menuliskan tentang kedukaan dalam mata dua orang yang bertemu, akibat negerinya dikuasai oleh bangsa asing.

Pada masa pendudukan Jepang, antara tahun 1942-1945, sastra Indonesia dikembangkan sebagai alat propaganda pemerintah militer Jepang. Lembaga Sendenbu, yang berisikan wartawan, budayawan, dan seniman, dibentuk oleh pemerintah militer Jepang, untuk mengomandoi propaganda kebijakan pemerintah Jepang, dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang dimengerti oleh sebagian besar rakyat Indonesia saat itu (Erowati & Bahtiar, 2011: 49).

Pasca kemerdekaan, atau tahun 45, dan setelahnya, polemik dan friksi antara dua kutub sastra Indonesia, tak terelakkan, dua kutub tersebut yaitu kutub sastra yang mengusung semangat seni untuk rakyat, yang dimotori oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan kutub sastra yang mengusung semangat seni untuk seni, yang disuarakan oleh kelompok yang menamai diri mereka sebagai Manikebu (Manifes Kebudayaan). LEKRA berdasarkan pada ideologi realisme sosialis, sementara Manikebu mendasarkan diri pada ideologi humanisme universal (Erowati & Bachtiar, 2011: 56-57).

Sebenarnya puisi-puisi Chairil Anwar, sastrawan utama, angkatan 45, atau pasca kemerdekaan, yang diklaim oleh kelompok Manikebu sesuai dengan ideologi humanisme universal mereka, tidak sepenuhnya berwarna seni untuk seni. Khususnya dalam puisi “Karawang-Bekasi”, yang sebenarnya merupakan simbolisasi penghargaan terhadap para pejuang Republik Indonesia (Yulaika Ramadhani, dalam tirto.id, akses 24/06/2025).

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti


Antiklimaks dua kutub utama dalam sastra Indonesia ini, terjadi pasca peistiwa G-30S 1965 (Gerakan 30 September 1965). Pemberangusan terhadap para sastrawan dan seniman pendukung Bung Karno, terjadi pada saat Orde Baru berdiri, yang ditandai oleh pemberian Surat Perintah Sebelas Maret oleh Presiden Soekarno (Bung Karno) kepada Jenderal Soeharto, yang kemudian memimpin Orde Baru sampai lengser tahun 1998 (Erowati & Bachtiar, 2011: 61).

Salah seorang intelektual, yang bernama Wijaya Herlambang mengungkapkan hasil risetnya tentang pemberangusan karya-karya sastrawan dan seniman pendukung Bung Karno, yang tergabung dalam LEKRA dan lainnya, oleh Rezim Orde Baru. Pengagungan ideologi humanisme universal, yang pada dasarnya didominasi oleh liberalisme barat dan penyebaran sikap anti komunisme, adalah corak penulisan sastra pada masa itu.

Walaupun implementasi ideologi humanisme universal tidaklah sevulgar cara-cara militer dalam memanfaatkan domain kebudayaan untuk melegitimasi kampanye kekerasan mereka terhadap kaum komunis -ini sebabnya maka menjadi lebih sulit untuk diukur dan dikaji-namun demikian tujuan keduanya tetap sarna, yaitu mengibliskan komunisme termasuk ideologi dan praktik kebudayaannya. Pendeknya, upaya-upaya itu adalah bentuk legitimasi kebudayaan terhadap penghancuran komunisme (Herlambang, 2014:10-11).

Novel Arswendo Atmowiloto, yang berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI”, menurut Wijaya Herlambang berisikan gambaran hitam putih terhadap komunisme yang diwakili PKI dan TNI (Tentara Nasional Indonesia). PKI digambarkan secara hitam, sebagai setan pengecut, yang tidak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, sementara para Jenderal digambarkan secara putih selayaknya malaikat. Novel inilah yang mendasari pembuatan Film dengan judul sama, yang disutradarai oleh Arifin C Noer. Film ini pada msa Orde Baru dijadikan film yang wajib diputar oleh stasiun televisi milik pemerintah Indonesia, yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia) (Herlambang, 2014: 176-2014).

Akan tetapi, masa Orde Baru juga melahirkan karya-karya sastra yang menyuarakan perlawanan terhadap ketertindasan rakyat di bawah rezim Orde Baru. Ada dua sastrawan yang mengemuka pada masa itu, pertama, yaitu Willibrordus Surendra Broto Narendra, atau W.S. Rendra. Kedua, yaitu, Wiji Thukul.

Karya Rendra yang bernuansa kritik sosial, salah satunya adalah “Sajak Sebatang Lisong”.

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit. Fajar tiba
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan, tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting antri uang pensiunan
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata : bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun mesti di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon, Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan hanya menghayati persoalan yang nyata.

(sumber: kompas.com,akses 24/06/2025)

Sementara karya Thukul yang terkenal salah satunya adalah puisi yang berjudul “Peringatan”,
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembuyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Sumber: kompas.com, akses 24/06/2025).

Jika dibandingkan kedua puisi karya dua penyair tersebut, akan terlihat bahwa penggunaan kata dalam puisi Wiji Thukul, lebih gamblang dibandingkan puisi W.S. Rendra. Hal tersebut dikarenakan bahwa Thukul berasal dari kelas sosial yang merasakan langsung ketertindasan ekonomi dan politik di bawah rezim Orde Baru. Sehingga boleh dikata, puisi-puisi Thukul adalah gambaran pengalaman hidup sehari-hari yang dirasakannya. Sementara Rendra, selain memang sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, memang tidak secara langsung merasakan keterpinggiran ekonomi di bawah rezim Orde Baru.

Hal inilah, yang sepertinya membedakan jalan perjuangan yang diambil oleh Wiji Thukul dan W.S. Rendra. Thukul memilih untuk bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang melawan Orde Baru secara frontal. Sementara, Rendra tetap dalam komunitas senimannya, menyuarakan kritik terhadap rezim Orde Baru.

Pasca jatuhnya Rezim Orde Baru, atau pada masa Reformasi, dua kutub sastra kembali muncul. Pertama, adalah karya-karya sastra fiksi islami, yang mengedepankan karya-karya bertema moralitas, antisekularisme, antihedonisme, dan eksploitasi tubuh. Semangat ini salah satunya diusung oleh Forum Lingkar Pena (FLP). Kedua, yaitu karya-karya sastra yang dilahirkan oleh para sastrawan anggota Komunitas Utan Kayu (KUK), seperti Djenar Mahesa Ayu dan Ayu Utami, banyak mengusung tema-tema liberalisme dan individualisme, seperti seksualitas dan tubuh, hal-hal yang bertentangan dengan tradisi Indonesia dan ajaran agama (Nasrulloh, 2013: 4-5).

Karya-karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma, yang bernuansa postmodern dan surealis juga mewarnai era reformasi ini. Kritik terhadap Rezim Orde Baru dan otoritarianisme, adalah unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Di sisi lain, masa reformasi ini juga membuat karya-karya para sastrawan LEKRA, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Martin Aleida, bisa dikonsumsi secara mudah oleh khalayak luas. Bahkan salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu “Bumi Manusia”, diadopsi menjadi sebuah film dengan judul sama, yang dirilis tahun 2019 (Insistpress.com, diakses 24/06/2025). Karya sastra Eka Kurniawan, juga mengusung tema-tema surealisme dan realisme magis (literat.my.id, akses 24/06/2025).

Ada banyak penulis sastra pasca reformasi, yang lain seperti Linda Christanty, Leila Chudori. Untuk Linda Christanty. Jika membaca karya Linda yang terkenal, yaitu “Kuda Terbang Maria Pinto”, maka akan terlihat sekali kentalnya nuansa surealisme dalam karya tersebut. “Angin tiba-tiba bertiup kencang lewat jendela. Tubuhnya menggigi. Ia melihat Maria Pinto mengarungi langit dengan kuda terbang. Mengapa perempuan itu selalu mengikutinya ke manapun?” (ruangsastra.com, akses 24/06/2025).

Menurut Yanty Nuryanah, cerpen “Kuda Terbang Maria Pinto” (KTMP) pada dasarnya adalah sebuah satir dalam bentuk ironi, terhadap masalah kemanusiaan, yang eksis dalam kenyataan . Cerpen KTMP ini juga adalah judul untuk buku kumpulan cerpen karangan Linda Christanty. Cerpen-cerpen di dalam kumpulan cerpen tersebut pada umumnya berisikan satir terhadap realitas sosial (Nuryanah, 2017 :63-67).

Gaya surealis juga terlihat dengan jelas pada salah satu paragraf dalam novel “Laut Bercerita”, karya Leila Chudori, “Begitu saja, berkat doa para burung, aku sudah berada di dasar laut. Dan begitu saja, ketika aku merasa dirubung oleh ratusan ikan dara, ikan sersan mayor, lantas kepalaku berdebam keras di atas salah satu koral otak. Mereka, rombongan ikan itu menciumku, mungkin merasa belas kasih kepada mayat yang begitu sia­-sia.” (Chudori, 2017: 6). Novel “Laut Bercerita”, pada dasarnya adalah berisikan satir terhadap sejarah politik Indonesia, khususnya pada era rezim Orde Baru, yang diwarnai oleh berbagai kasus pelanggaran HAM, salah satunya adalah penculikan aktivis prodemokrasi.

Surealisme menurut ensiklopedi Britannica, adalah sebuah penyatuan antara alam sadar dan bawah sadar, dengan demikian dunia fantasi dan mimpi bisa menyatu dengan dunia keseharian, sehingga menjadi sebuah dunia tersendiri, yaitu surealitas, “Surrealism was a means of reuniting conscious and unconscious realms of experience so completely that the world of dream and fantasy would be joined to the everyday rational world in ‘an absolute reality, a surreality’,” ( dikutip dari britannica.com/art/Surrealism, akses 24/06/2025). Artinya gaya surealisme dalam sastra, tidak bisa dikategorikan sebagai realis, tetapi lebih kepada kritik sosial melalui penggambaran dunia fiktif, yang berdasar pada refleksi pengarang atau seniman terhadap realitas sosial.

Pertanyaan terakhir: Bagaimanakah seharusnya penulisan sastra yang diadopsi oleh Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER)?

Pada dasarnya, dalam pandangan saya, dalam setiap aliran sastra itu selalu terdapat unsur-unsur positif dan negatif. Karya-karya sastra liberal dan surealis biasanya juga banyak berisikan refleksi dan kritik atas ketidakadilan dalam hidup dan kenyataan. Karya sastra yang bernuansa realisme sosialis, juga jika disampaikan dalam bahasa yang menjemukan, tentu saja akan membuat pembaca enggan membacanya sampai selesai.

Bagi saya, gaya penulisan sastra seperti yang digunakan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi, khususnya Bumi Manusia (Toer, 2002), adalah suatu gaya yang berhasil mengombinasikan antara postmodern, yang ditandai dengan eksplorasi tema-tema kecil, dengan tema-tema besar, yang menjadi esensi aliran modern.

Kisah cinta Minke dan Annelies yang tragis. Sikap Minke yang tidak pernah menyerah memperjuangkan emansipasi dirinya dan bangsanya. Kedua hal tadi adalah bukti bahwa Pramoedya berhasil menggabungkan dua gaya penulisan yang saling berseberangan tersebut.

Propaganda cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang setara, tanpa diskriminasi , dan berkeadilan sosial, atau masyarakat sosialis, memang adalah hal yang utama dalam garis perjuangan JAKER. Persoalannya adalah bagaimana supaya propaganda tersebut menarik pembaca. Khususnya generasi yang lahir dan besar pada era digital, yang lebih banyak mendapatkan informasi secara digital, melalui gawai telepon pintar yang mereka miliki. Untuk itu, propaganda tersebut harus bisa dengan mudah diakses, ditangkap dan dipahami oleh para pembaca.

Isu-isu disabilitas, juga seharusnya tidak dikesampingkan begitu saja. Sebaliknya, isu-isu teresebut tetap harus dipropagandakan, dalam koridor untuk mewujudkan sila ke-5, Pancasila. Karena, jika berbicara tentang keadilan sosial, maka kaum difabel sebagai bagian dari bangsa Indonesia, juga harus mendapat perlakuan yang adil dan manusiawi.



Daftar Pustaka

Erowati S dan Bahtiar A. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.2014.

Chudori, L, S. Laut Bercerita. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2017.

Herlambang, Wijaya. Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Tangerang: Marjinkiri. 2014.

Nuryanah, Yanty. 2017. Satir Dalam Kumpulan Cerpen Kuda Terbang Maria Pinto Karya Linda Christanty Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. (Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta). Diakses dari https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36468?mode=full.

Toer, P,A. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra. 2002.

Abi Mu’ammar Dzikri dalam tirto.id, diakses 24/06/2025.

britannica.com/art/Surrealism, akses 24/06/2025

indonesiakaya.com, akses 24/06/2025.

Insistpress.com, diakses 24/06/2025.

Kompas.com, akses 24/06/2025.

literat.my.id, akses 24/06/2025.

Ruangsastra.com, akses 24/06/2025.

sepenuhnya.com, akses 24/06/25.

Foto Untung Sarwono (Koleksi Pribadi)

Oleh: Untung Sarwono
SekJend. Jaringan Kebudayaan Rakyat


Kesenian di Indonesia tidak bisa terlepas dari garis ideologi dan garis politik baik secara organisasi maupun personal. Namun semenjak Orde Baru, kesenian dijauhkan dari kerja-kerja politik untuk mengibarkan panji panji ideologi sebagai alat pencerahan dan pengetahuan di massa rakyat.

Orde Baru dibangun dengan semangat reaksioner dan pembantaian pendukung pendukung kiri membuat kesenian berbasis organisasi kiri hancur total. Perdebatan ideologis seni dan budaya baik kiri maupun kanan di era orde lama rontok oleh represif militer baik secara struktur maupun infrastruktur, tidak ada pemenang. Di bawah moncong senjata lahirlah budaya baru berbasis militer seperti upacara bendera dan baris-berbaris.

Kehidupan seni dan juga kebudayaan di bawah orde baru semakin terpuruk tak jelas arah dan tujuan baik secara ideologi maupun politik ketika seni ditempatkan di bawah kepentingan kapital. Mereka harus bergandengan tangan dengan kapital yang wujudnya dapat dilihat dengan jelas dalam pengabdian seni untuk pariwisata serta merebaknya kesenian populer jika ingin bertahan hidup. Kesenian menjadi tidak serius baik karya-karya yang dihasilkan maupun pertunjukan perunjukan yang dibawakan di pangung panggung dan tak lagi menjadi daya tarik bagi rakyat untuk mengekspresikan karya-karyanya selain menjadi corong pemerintahan Orde Baru.

Seni Perlawanan

Sejarah banyak mencatat ada masa saat orang terpaksa berhadapan dengan sistem yang menindas dan seniman ikut terpanggil menentangnya seperti Pablo Neruda, penyair Chile, harus berhadapan dengan pemerintah militer Augusto Pinochet. Nikolai Vaptsarov, pemimpin rakyat Bulgaria menentang fasisme, adalah penyair yang sangat terkenal di negerinya. Jose Rizal, pahlawan rakyat Filipina, yang dieksekusi penjajah Spanyol, seorang sastrawan besar. Dan juga ada Fransisco Borja da Costa, penyair Timor Lorosae, yang mati ditembak tentara Indonesia, sajak-sajaknya telah menjadi lagu rakyat Timor Leste.

Di masa Orde Baru, rezim yang begitu brutal dan sewenang-wenang orang tak bisa sendirian menentang penguasa bila tidak ingin bernasib sama seperti aktivis buruh, Marsinah dan Udin seorang Jurnalis dari Bantul. Namun kesewenang-wenangan itu harus dilawan dan mereka merasa perlu bersatu dalam perjuangan yang terorganisir. Dengan kesadaran itulah maka Wiji Thukul dan kawan-kawan membentuk organisasi perlawanan dengan basis seniman yang mempunyai semangat yang sama untuk menghadapi kekejian rezim Orde Baru yang kapitalistik, feodal dan militeristik.

Sajak-sajak Wiji Thukul tak hanya bernada perlawanan, tapi juga mengajak orang untuk bersatu melawan, mulai dari melawan pemilik pabrik sampai pemerintahahan Orde Baru. Wiji Thukul menyuarakan rasa ketertindasan rakyat kecil di masa itu, yang dirinya pun menjadi bagian dari mereka yang tertindas. Maka dengan tegas Wiji Thukul memosisikan dirinya berada di pihak rakyat dan menyebut sajak-sajaknya sebagai sajak perlawanan.

Seni bagi Wiji Thukul adalah seni yang terlibat, menyatu dalam dinamika masyarakatnya, bukan kumpulan imajinasi belaka. Wiji Thukul tak hanya menyuarakan kesengsaraan mereka, tapi juga membangkitkan semangat untuk melawan ketidakadilan itu. Sajak-sajaknya bukan semata-mata hujatan pada kekuasaan, tapi juga jalan keluar bagi orang yang ditindas, jalan yang tak disukai penguasa yaitu jalan melawan. Samuel Tylor Coloridge (1772-1834), sastrawan di masa romantik telah menyebut sajak sejenis karangan yang berlawanan dengan karya sains, bersifat memberi kesenangan langsung. Padahal, sajak-sajak Thukul lebih menimbulkan rasa gelisah ketimbang kesenangan

Ada tiga sajak Wiji Thukul yang fenomenal dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok. ketiganya ada dalam antologi Mencari Tanah Lapang yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada tahun1994. Sajak-sajak Thukul berisi protes sosial, yang dalam hal ini berbenturan langsung dengan para penguasa orde baru.

Pada Mei 1998 di tengah aksi massa yang menuntut pemerintahan transisi meledak kerusuhan anti etnis Tionghoa di Jakarta serta kota-kota lainnya. Banyak toko dibakar dan dijarah yang memaksa Suharto sebagai motor Orde Baru jatuh. Pada masa inilah ada yang menyebutkan Wiji Thukul dihilangkan aparat. Ia dilenyapkan sebagai konsekuensi atas karya-karyanya dan aktivitas politiknya, yang menjadikan seni sebagai cara untuk melawan orde baru, dan Wiji Thukul dinyatakan hilang dari tengah massa yang dibela.

Paska tumbangnya Suharto muncul penyair kerakyatan yang segaris dengan seni perlawanan nya Wiji Thukul dan terus-menerus menyuarakan bentuk bentuk ketidakadilan serta penindasan yang terjadi. Winarso seniman asal Solo mengisi kekosongan ruang seni perlawanan dengan sajaknya yang indah dan meliuk-liuk dengan tata bahasa lebih dramatis, dibanding Wiji Thukul yang lebih frontal dan menusuk ke jantung kekuasaan, karya Winarso yang paling fenomenal adalah Pesan Sang Ibu, Sajak Bintang Merah, Kabar Untuk Anak dan Sajak Tanpa Kata yang diluncurkan di album Sanggar Satu Bumi Volume I.

Jejak Penyair Kerakyatan

Dua puluh tahun tumbangnya orde baru ternyata kondisi rakyat belum beranjak pada persoalan ketimpangan sosial ekonomi dan problem demokrasi sebagai proses menuju tatanan yang lebih adil dan beradab. Demokrasi telah di sandera oleh sekelompok elit politik dan oligarki ekonomi sisa sisa orde baru. Nyaris tidak ada perubahan sama sekali selain hutang yang membengkak, korupsi yang menggurita dari tingkat aparatur tertinggi sampai tingkat desa.

Demokrasi Liberal hanya melahirkan politisi yang brutal, korup bahkan intoleran terhadap kebhinekaan kita. Mahalnya biaya untuk mengikuti proses demokrasi lewat pemilihan umum justru melahirkan budaya transaksional yang semakin menjerumuskan rakyat pada budaya instan. Rakyat disuguhi akrobatik kepalsuan di mana-mana.

Musuh bersama kita ialah Imperialisme yang menguasai dan menjarah aset sumber daya alam kita secara masif, Namun rezim demi rezim di era reformasi tidak berdaya untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi maupun politik, tapi justru terjebak etatisme. Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor negara.

Berangkat dari rumitnya sistem demokrasi ekonomi dan politik kita, para penyair kerakyatan tidak menyerah begitu saja untuk tetap menyuarakan kaum yang terpinggirkan. Lewat divisi penerbitan bukunya, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) menerbitkan beberapa buku tentang puisi puisi perlawanan seperti Kota Ini Ada Di Tubuhmu (Antun Joko Susmana, 2008) , Negeriku (Agus Jabo Priyono, 2009), Burung Burung Bersayap Air (Dewi Nova, 2010). Kawan Dan Berlawan (Dominggus Oktavianus, 2010), Akulah Perempuan (Unsar dan STB Jakarta, 2017) , Empat puluh lima (Roso Suroso, 2018).

Untuk menegaskan bahwa puisi perlawanan masih hidup maka Jaringan Kebudayaan Rakyat pada awal Juni 2018 menerbitkan Antologi Puisi 14 Penyair dari 13 kota yang tersebar di Indonesia dengan judul Resolusi Penyair, Buku ini menegaskan bahwa jejak jejak puisi perlawanan masih terus berkobar dan menyala di tengah tengah massa. Walau gaung gemuruhnya belum menggema seperti karya-karya Wiji Thukul dan Winarso namun yang perlu digaris bawahi adalah keberanian para penyair kerakyatan memilih jalan senyap, jalan puisi perlawanan.

Kini dua puluh tujuh tahun paska kediktatoran Orde Baru yang “relative” demokrasi politik multi partai terbangun akankah para penyair kerakyatan akan meningkatkan tema karyanya yang lebih maju menuntut terciptanya demokrasi ekonomi yang adil dan merata untuk kemakmuran bersama atau masih berkutat melawan rezim siapa yang berkuasa? Tentunya kita bisa diskusikan dalam Konfrensi Nasional Sastra JAKER 2025 ini.

Eva K Sundari

Hari ini, tanggal 27 Mei adalah Hari Jamu – racikan herbal khas Indonesia. Jamu menyehatkan dan perlahan bisa menyembuhkan banyak penyakit sehingga tubuh bisa sehat kembali. Lalu, apa “Jamu” yang bisa menyembuhkan luka demokrasi akibat gangguan terhadap agenda reformasi?

Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 atas tekanan gerakan reformasi. Kemenangan gerakan demokrasi ini tidak boleh dihilangkan, bahkan literasinya harus diperbaiki dengan tinta tebal oleh para perempuan korban kekerasan Mei 98 tersebut.

Ita Nadia – Ketua Sejarah Perempuan Indonesia (SPI) sebelumnya memprotes minimnya tokoh perempuan dalam penulisan sejarah Indonesia selama ini. Sambil protes, dia menyodorkan data para tokoh perempuan di masa lalu yang terlibat dalam gerakan perempuan yang pantas dibukukan pemerintah. Tuntutannya satu – sejarah gerakan perempuan harus dituliskan beserta tokoh-tokohnya juga.

Para perempuan ada di setiap peristiwa sejarah bangsa baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Dalam gerakan reformasi 98, ada perempuan yang berperan aktif sebagai pelaku dalam perlawanan rakyat terhadap kekerasan politik, pembungkaman oposisi, dan perlawanan terhadap otoritarianisme.

Tetapi, ada juga ratusan rakyat perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual di Gerakan Reformasi tersebut. Sehingga, dimensi ini harus ada dalam literasi kebudayaan sebagai pengingat setiap warga negara agar sejarah kelam perlakuan kejam terhadap perempuan tidak terulang.

Bulan Mei sarat peristiwa kebudayaan mulai Hardiknas, Harkitnas, Gerakan Reformasi dan penetapan Hari Jamu – warisan budaya Nusantara pada tanggal 27 Mei. Tidak terlihat politis: jamu — minuman herbal tradisional. Tetapi kebudayaan membutuhkan jamu untuk menyembuhkan dan menyehatkan kesadaran bangsa.

Kita buatkan metafora untuk menyatukan reformasi dan jamu sebagai upaya menggali makna penyembuhan atas luka kolektif bangsa terkait reformasi. Ketika negara tidak konsisten memenuhi agenda reformasi, maka kita harus meracik jamu untuk menguatkan ingatan atas keberadaannya secara presisi. Kita harus meramu jamu melawan lupa demi penyembuhan dan menolak pembuatan jamu untuk mengaborsi reformasi.

Reformasi adalah titik genting dan penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Rakyat menunjukkan perlawanan terhadap pembungkaman suara oposisi, pembatasan kebebasan berorganisasi dan berekspresi, korupsi, kolusi, nepotisme hingga dwi fungsi TNI-POLRI (ABRI).

Ketiadaan sosok almarhum Ita Martadinata, salah satu korban perkosaan masal terhadap ratusan perempuan Tionghoa dalam Pameran “Sunting, Sejarah Perempuan Indonesia” di Musium Nasional saat ini mengganggu rasa keadilan. Kecenderungan menghilangkan perempuan baik sebagai pelaku maupun korban dalam penulisan sejarah harus dihentikan.

Sangatlah nyata bahwa perempuan harus menuliskan sejarahnya sendiri demi mengabadikan kehadiran mereka dalam perjalanan bangsa. Mungkin karena sejarawan masih didominasi laki-laki yang masih patriarkis sehingga penulisan sejarah selalu bias laki-laki.

Penulisan sejarah yang bias laki-laki adalah “sakit dan luka” yang harus dipahami dalam rasa keutuhan yang nir keadilan sehingga penulisan harus terbuka terhadap perbaikan. Bangsa ini tidak boleh lagi tumbuh dengan kepikunan sejarah yang isinya semata tentang peran laki-laki. Ibaratnya, Sukarno diberi gelar pahlawan sedang peran Inggit Ganarsih yang menghidupi Sukarno dengan berjualan jamu diabaikan.

Perempuan harus meracik jamu untuk mencegah negara melupakan atau bahkan menguburkan mereka. Harus ada jamu melawan lupa amanat reformasi yang di dalamnya ada demokrasi juga untuk para perempuan korban. Bangsa ini harus minum jamu agar sembuh dari berbagai penyakit lupa substansi ideologi dan demokrasi.

Jamu, dalam tradisi Nusantara, adalah simbol kearifan lokal yang menyatukan ilmu pengetahuan, intuisi alam, dan perawatan tubuh. Ia hadir bukan untuk menghapus rasa sakit secara instan, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan — secara bertahap, dengan penuh kesabaran. Demikianlah peran perempuan dalam mencari keadilan bagi diri mereka. Menyembuhkan secara perlahan, menyadarkan dan bukan mematikan karena balas dendam.

Seandainya penulisan sejarah adalah penyakit — bias patriarki dan kekuasaan — maka kita membutuhkan jamu penguat ingatan dan pembangkit kesadaran untuk pro keadilan. Kita butuh ramuan sejarah yang diracik dari bahan-bahan seperti kejujuran, keberanian membuka luka, dan keteguhan melawan lupa. Jamu untuk penulisan sejarah yang presisi adalah seruan untuk bangsa agar tidak sekadar meminum nostalgia pahit, tapi belajar meneguk makna dari penderitaan politik diskriminasi dan subordinasi perempuan.

Dalam dunia jamu, setiap bahan punya fungsi: kunyit untuk peradangan, jahe untuk menghangatkan, temulawak untuk pencernaan. Maka dalam penulisan sejarah pun, kita perlu bahan-bahan serupa: arsip sebagai bahan mentah, pendidikan sejarah sebagai alat pengolah, dan kesadaran kritis bagi sejarawan perawisnya dan bagi rakyat sebagai peminumnya.

“Jamu untuk Penulisan Sejarah” adalah ajakan pula untuk kaum perempuan agar menulis sendiri masa lalu mereka layaknya membuat jamu pahit — agar tubuh kebangsaan kita pulih. Kita tidak bisa terus-menerus menyoal hidup dengan luka tersembunyi yang tidak pernah dibersihkan dan difungsikan kembali.

Perempuan harus ikut lantang menyuarakan penderitaannya dalam tulisan sebagai perlawanan yang menyempurnakan kerja kebudayaan. Tetapi yang lebih penting, maukah para sejarawan laki-laki mengakomodasinya? Ini seperti upaya kelompok perempuan dan disabilitas di beberapa kabupaten yang menyelenggarakan musrenbang khusus karena musrenbang yang ada hanya berisi bapak-bapak.

Sayangnya, hasil musrenbang khusus kaum perempuan sering hilang di meja pimpinan politik dan tidak sampai menjadi dokumen Musrenbangnas sehingga pembangunan tidak pernah bisa menyudahi ketimpangan gender. Suara perempuan adalah jamu pahit yang menyembuhkan bangsa dari segala penyakit kebudayaan. Semoga Menteri Kebudayaan dan Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia berkenan minum jamu pahit demi menyehatkan bangsa.

Hari Jamu, 27 Mei 25
Eva Sundari - Institut Sarinah

Esai Oleh Kornelius Moa Nita, S.Fil

Kemajuan jaman baru yang ditandai dengan globalisasi dan perdagangan bebas telah mendorong semua negara bersaing ketat dalam bidang teknologi industri dan pertahanan militer. Di negara-negara maju, teknologi dan industri semakin hari semakin pesat. Negara -negara berkembang pun terus berlomba-lomba membangun kemitraan dagang dengan negara-negara yang sudah maju. Negara-negara Asia (Cina, Jepang, Korea Selatan dan India) dan negara-negara Eropa dan Timur Tengah, seperti Perancis, Rusia, Arab Saudi, dan Yordania, serta negara Amerika Serikat (AS) dan Amerika Latin, seperti Brasil dan lain-lain terus membidik Indonesia sebagai lahan perebutan kekayaan alam, minyak, mineral, tenaga nuklir, tambang, komoditi kelapa sawit dan proyek pertanian dan perkebunan, dan lain-lain.

Eskalasi persaingan global yang ditandai dengan persaingan pasar bebas, sering memicu persaingan dagang yang tidak sehat dan kemudian memicu ketegangan dan konflik yang berujung pada ekspansi kekuatan militer. Konflik demi konflik antar negara terus meningkat bahkan bisa saja akan terjadi pertempuran besar baik antara negara-negara kuat maupun peperangan antara negara- negara besar menguasai negara-negara yang sedang berkembang dengan tujuan menguasai aset-aset kekayaan alam.

Gesekan besar antara AS dan Cina yang saling berperang tarif impor beberapa waktu lalu merupaan bukti nyata bahwa ancaman itu ada dan makin tajam. Dua negara impor dan ekspor Indonesia terbesar ini telah menyerat puluhan negara di dunia terlibat dalam konflik dagang yang makin memanas. Dunia terbelah dalam tiga kekuatan dagang raksasa yaitu blok AS, China dan Rusia. Peristiwa ini bukanlah sejarah baru tetapi sejarah lama yang kini membuka kembali lembaran baru di atas kitab suci perdagangan bebas.

Ekspansi Kebudayaan Cina

Pertanyaan kita, mengapa Cina kini terlihat leluasa menguasai perdagangan dunia dengan gesit melakukan ekspansi barang-barangnya menguasai pasar-pasar dunia, mulai dari Asia, India, Timur Tengah, Afrika, Eropa hingga AS. Mengapa Cina mampu menjadi negara Asia terkuat dalam bidang teknologi dan industri dan perdagangan? Tentu bukan karena Cina negara komunis yang centralistis, tetapi Cina mampu bangkit dengan strategi khusus melalui bidang kebudayaan turun-temurun yang sulit dipatahkan. Kemandirian dan etos kerja yang disiplin dan tekun warga negara dan Pemerintah Cina menjadi fundamen kemajuan.

Budaya kerja sama dan kerja keras menjadi urat nadi dan darah daging setiap warga negara Cina untuk sama-sama berjuang mewujudkan kemajuan negara mereka untuk mencapai kesejahteraan bersama. Selain budaya-budaya yang membangun diri mereka, Cina terkenal sangat kuat dalam mempertahankan kebudayaan bangsanya sebagai benteng kokoh yang sulit diruntuhkan negara manapun. Cina tidak hanya membangun kekuatan militer untuk mengamankan negara dari serangan musuh, tetapi mereka juga membangun kekuatan identitas kebudayaan warisan leluhur berabad-abad sebagai sebuah sistim pertahanan negara yang kokoh.

Bukti dari Cina memiliki kekuatan kebudayaan yang kokoh adalah mereka mampu melakukan infiltrasi, penetrasi dan ekspansi kebudayaan mereka melalui produksi-produksi dagang mereka, melalui ilmu pengetahuan (bahasa), seni budaya dan dunia perfilman yang menembus film-film box office dunia. Gerakan kemajuan kebudayaan Cina makin menggeliat. Ketika kebudayaan mereka mulai dicintai warga negara lainnya, maka otomatis produk- produk dagang mereka pun sangat laris di pasaran dunia. Apalagi mereka tak mau menjual terlalu mahal. Biar murah yang penting laris manis sehingga produksi dalam negeri terus meningkat. Itulah strategi Cina menguasai dunia.

Bangsa Cina telah lama melakukan revolusi kebudaan membangun kebudayaan yang kuat bukan hanya di dalam negeri tetapi menjamur ke seluruh dunia. Jadi mereka berkembang maju bukan hanya mengandalkan kekuatan SDM dan teknologi industri semata, tetapi juga ditopang oleh kekuatan sistem kebudayaan yang kokoh sebagai alat pertahanan bangsa selain kekuatan militer yang menopang. Kebudayaan telah menjadi darah-daging kental dan jati diri bangsa. Contohnya, di manapun mereka berada dalam dunia manapun mereka tetap mempertahankan indentitas budaya mereka.

Bagaimana dengan Bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia tidaklah mudah dalam mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan sebagai strategi pertahanan keamanan untuk mengusai dunia. Dalam konteks global, Bangsa Indonesia yang terkenal dengan kebudayaan yang super pluralistik ( majemuk) mempunyai tantangan yang sangat kompleks. Meskipun memiliki kebudayaan pluralistik yang unik dan beraneka ragam, namun tidaklah mudah kebudayaan yang pluralistik itu menjadi sebuah kekuatan atau alat pertahanan bangsa. Dengan kata lain, kekayaan kebudayaan itu di satu sisi membawa keuntungan namun sisi lain menjadi tantangan tersendiri jika tidak dikelola secara baik.

Bukti kejayaan Sriwijaya dan Majapahit yang pernah berjaya menguasai Nusantara dan kemudian kalah dan runtuh menjadi sebuah pembelajaran sejarah bagi bangsa Indonesia yang pluralistik. Karena tidak kuat dan tidak bersatu secara budaya, ilmu pengetahuan dan pertahanan militer, akhirnya Nusantara jatuh ke tangan asing karena mudah dipecah-pecah penjajah.

Keruntuhan sejarah dan Kebudayaan Sriwijaya dan Majapahit yang sempat berpengaruh di dunia itu kemudian diikuti oleh perpecahan yang terus menerus terjadi di mana terjadi peperangan raja-raja dan perpecahan dalam Nusantara yang kemudian Nusantara dikuasai oleh Serikat Dagang Belanda (VOC), Portugis, Inggris, dan Jepang. Bangsa-bangsa asing tersebut akhirnya menguasai aset-aset kekayaan alam Indonesia dan menerapkan kebudayaan mereka selama puluhan abad di Nusantara. Kemudian lahirlah Indonesia yang juga tetap dibawa kendali asing hingga Soekarno- Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pancasila Jati Diri Budaya Bangsa

Menyadari perbedaan budaya, perbedaan agama, adat istiadat, bahasa dan suku bangsa yang begitu banyak, di mana terus terjadi konflik dan ancaman baik dari luar maupun dari dalam, maka Presiden Ir. Soekarno mencetuskan Pancasila sebagai ideologi bangsa, Pancasila sebagai penyatu, perekat, pengikat erat seluruh kebudayaan bangsa yang beraneka-ragam dalam semboyan besar “Bhineka Tunggal Ika”. Jadi Pancasila bukan saja sebagai ideologi bangsa tetapi juga menjadi Jati Diri Kebudayaan Bangsa Indonesia yang menjadi benteng pertahanan bangsa yang telah teruji hingga saat ini.

Seluruh nilai budaya kerja keras, gotong royong, etos kerja, disiplin dan kemandirian serta persatuan dan kesatuan yang beraneka ragam menurut Bung Karno menjadi kekuatan, menjadi roh persatuan yang sekaligus menjadi sistem pertahanan kebudayaan bangsa yang mengalir pada diri dan kepribadian setiap warga bangsa itu ada di dalam sila-sila Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang telah tertanam dalam tubuh bangsa Indonesia ini harus mampu dipraktekan dalam membangun bangsa di segala bidang termasuk dalam membangun ekonomi dan perdagangan dunia dalam konteks global.

Menghadapi kondisi dunia saat ini yang penuh ancaman dan konflik multidimensi, Pemerintah dan rakyat Indonesia harus tetap membentengi diri dengan menjadikan Pancasila sebagai benteng ideologi yang sekaligus menjadi benteng kebudayaan Indonsia. Untuk itu Pancasila yang juga adalah jati diri kebudayaan bangsa haruslah tetap jadi pedoman pertahanan bangsa. Untuk itu, maka kebudayaan-kebudayaan lokal yang menjadi fondamen dari kebudayaan nasional harus terus dilestarikan oleh seluruh rakyat terutama generasi muda Indonesia.

Gerakan pemajuan dan atau kebangkitan kebudayaan lokal dan nasional harus menjadi gerakan permanen yang menjadi kebutuhan mendasar dari seluruh warga bangsa. Karena hanya melalui kebudayaan yang terbangun kokoh memberikan peran besar dalam kemajuan bangsa baik nasional maupun internasional. Peran penting kebudayaan itu antara lain, sebagai identitas Nasional (ketahanan sosial budaya), pendidikan karakter (mencegah radikalisme dan terorisme, dan pertahanan wilayah untuk menanamkan semangat cinta tanah air atau semangat patriotisme)

Belajar dari negeri Cina yang kini menguasai dunia dengan industri dan perdagangan serta kebudayaannya maka bangsa Indonesia yang kaya raya akan kebudayaan sudah saatnya bangkit membangun kebudayaan nasional yang berlandaskan pada Ideologi Pancasila sebagai kekuatan besar bangsa dalam mendukung kemajuan pembangunan bangsa di berbagai bidang. Seluruh kebudayaan yang beranekaragam warisan leluhur harus dilestarikan. Meskipun tantangan serangan kebudayaan asing makin keras, namun identitas, ciri khas keaslian kebudayaan Indonesia harus tetap terjaga.

Semangat cinta tanah air, semangat cinta akan produk dalam negeri dan semangat cinta akan kebudayaan Indonesia harus tertanam dalam diri setiap warga negara Indonesia. Karena hanya melalui kebudayaan yang kokoh, bangsa Indonesia dapat bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Untuk itu gerakan kebangkitan kebudayaan harus ditopang oleh pemerintah pusat dan seluruh kepala daerah yang didukung oleh seluruh rakyat Indonesia dari waktu ke waktu.