Makassar, Gasingpedia.com – Penerbit buku ternama, Subaltern, kembali akan menggelar festival novel tahun ini. Sebuah panggung di mana kata-kata, gagasan, dan pengalaman bertemu dalam harmoni, menyuarakan suara-suara yang biasa tertahan.

Festival novel ini merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah pada tahun lalu sukses terlaksana di Rammang-rammang, Kabupaten Maros. Kali ini, ajang pertemuan para penulis novel akan berlangsung di Daurbaur, BTN Asal Mula, Makassar selama tiga hari mulai 19 sampai 21 Desember 2025.

Poster Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

Pimpinan Penerbit Subaltern, Supratman Yusbi Yusuf mengatakan Subaltern Novel Festival kedua (SNF II) mengangkat tema Megadigma; Perayaan Ide-ide yang dirangkai sejumlah kegiatan, diantaranya kelas menulis novel, kelas riset novel, kelas kritik novel, pameran novel, launching dan bedah novel, bedah novel, pengumuman sayembara novel hingga subaltern awards juga akan dihadirkan.

“Penulis pemula hingga mereka yang sudah menjadi “tulang punggung kebudayaan” bergabung dalam dialog kreatif, bedah karya, launching novel, hingga forum novel,” katanya.

Dalam momentum itu, penulis dan pembaca tidak sekadar hadir sebagai audiens; mereka menjadi bagian dari sebuah gerakan. Ada ruang riset bersama, kritik yang membangun, pelatihan menulis. Semuanya untuk memastikan novel yang lahir tidak hanya menghibur, melainkan juga memiliki kedalaman, relevansi, dan kekuatan ide.

Item Kegiatan dalam Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

“Novel-novel dibicarakan bukan hanya dari alurnya, tetapi juga dari ide-ide besar yang tersirat di balik kata,” ujar Supratman.

Ia menegaskan, penerbit Subaltern menunjukkan bahwa kerja penerbitan bukan sebatas mencetak buku, tetapi menjaga agar buku dibaca, dimaknai, dan terus tumbuh dalam wacana budaya.

Pada pelaksanaannya, Penerbit Subaltern menyerahkan pengelolaan SNF kepada Subaltern Institut yang berada dalam Yayasan Gerak Subaltern. Melanjutkan dampak dan antusiasme SNF I, perjuangan Subaltern kini melangkah ke tahap kedua dengan tema lebih ambisius: “Megadigma: Perayaan Ide-Ide”.

“Tema ini mengundang semua penulis, pembaca, kritikus, dan khalayak budaya untuk merayakan keragaman gagasan yang tercurah dalam novel. Megadigma bukan sekadar kata besar: ia adalah paradigma besar gagasan yang memotret perubahan zaman, menantang status quo, meretas bisu, dan membuka ruang diskusi kritis,” jelasnya.

SNF II memperluas skala dan suara. Tidak lagi lokal semata, tetapi nasional, dengan bayangan fragmentasi internasional di masa depan.

Kompetisi novel tetap menjadi jantung festival, namun kini dilengkapi dengan workshop, diskusi panel, peluncuran buku, publikasi media luas, dokumentasi digital profesional, dan perayaan publik yang lebih inklusif.

“Mengapa Subaltern Novel Festival penting? Pertama, karena literasi tidak boleh terkungkung dalam ruang kecil. Novel adalah bentuk gagasan yang hidup, sebuah medium yang melintasi batas geografis, sosial, dan generasi. Ia mampu menjembatani pengalaman seorang penulis di Makassar dengan pembaca di kota-kota besar dunia; ia bisa menyatukan suara anak muda dengan kebijaksanaan generasi tua,” ungkap Supratman.

Melalui novel lanjut pria kelahiran Bone itu bahwa pengalaman personal menjadi jembatan universal—sebuah bahasa yang mampu melampaui sekat identitas dan ruang. Subaltern Novel Festival hadir untuk memastikan bahwa literasi tidak berhenti di ruang kelas atau lembaran kertas, melainkan bergerak, mengalir, dan menghubungkan.

“Kedua, karena ide-ide besar sering lahir dari kegelisahan. Dari rasa tidak puas, dari keinginan memahami dunia dengan cara yang lebih jernih. Novel adalah ruang di mana kegelisahan itu bertransformasi menjadi cerita, karakter, dan dunia imajiner yang justru merefleksikan kenyataan. Festival ini merawat pluralitas suara, memberikan panggung kepada penulis-penulis yang sering diabaikan, dan membuka ruang aman bagi mereka yang suaranya kerap terpinggirkan,” tuturnya.

Dengan demikian, Subaltern Novel Festival bukan sekadar pesta literasi, melainkan forum di mana keberagaman gagasan dirayakan dan kegelisahan sosial menemukan bentuk kreatifnya.

Ketiga, karena dalam tiap baris novel tersimpan potensi perubahan. Sebuah kalimat dapat menggugah refleksi, sebuah tokoh dapat menginspirasi keberanian, dan sebuah alur dapat menyingkap kebenaran yang tersembunyi. Novel memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang pembaca, memperkuat keyakinan penulis, sekaligus memengaruhi wacana budaya.

“Festival ini percaya bahwa novel adalah senjata kebudayaan yang halus namun efektif—ia dapat membentuk imajinasi kolektif, membangun kesadaran kritis, dan menumbuhkan empati lintas batas. Karena itulah, Subaltern Novel Festival penting: ia menjaga api literasi tetap menyala, merawat keberanian ide, dan memastikan bahwa novel tetap menjadi ruang kebudayaan yang relevan, kuat, dan transformatif di tengah perubahan zaman,” pungkasnya. (*)

Keterangan Gambar Utama: Poster Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

Mataram – Membangkitkan jiwa patriotisme merupakan salah satu kebutuhan bangsa saat ini. Oleh karena itu, Arif Rohman, S.ST. M.SIP, MAWG, Ph.D selaku Kepala Sentra Paramita Mataram Kementerian Sosial RI melalui program inovasi Gerakan Generasi Muda Peduli Cultural Awareness, Reading & Excursion (CARE) kembali menghadirkan kegiatan inspiratif melalui bedah buku “Menghadang Kubilai Khan” karya Antun Joko Susmana yang berlangsung di Gd. Layanan Perpustakaan Provinsi NTB.

Kegiatan yang ditujukan bagi para mahasiwa ini, merupakan salah satu upaya guna meningkatkan semangat literasi.

“Acara Bedah Buku ini sangat strategis karena mendukung literasi khususnya di kalangan generasi muda. Hal ini merupakan investasi sosial bagi para pemuda untuk dapat menambah pengetahuan, wawasan dan meneladani nilai-nilai luhur di masa lalu, seperti menggelorakan semangat persatuan dan anti imperialisme. Ini sangat berguna bagi para generasi muda yang akan berperan dalam pembangunan di masa mendatang”, kata Arif.

Penulis buku Menghadang Kubilai Khan, Antun Joko Susmana yang biasa disapa Bung Mono dari Jakarta hadir langsung pada kegiatan tersebut, membagikan perspektif mendalam mengenai perjalanan sejarah Nusantara abad ke-13.

Foto AJ Susmana Menyerahkan Novel “Menghadang Kubilai Khan”, kepada Salah Satu Narasumber Acara Bedah Buku (Sumber: Dokumen Redaksi)

Melalui novel sejarahnya “Menghadang Kubilai Khan” ia berharap agar generasi muda masa kini dapat terus membangkitkan jiwa patriotiknya, berani dalam mewujudkan nilai kebangsaan dan persatuan layaknya Jayakatwang dalam menghadang pasukan Mongol di bawah komando Kubilai Khan saat ingin menguasai dan menaklukkan tanah Jawa. Dengan cara menolak menjadi raja boneka kekuasaan Mongol, Jayakatwang lebih memilih dieksekusi mati.

“Oleh karenanya, generasi muda perlu bersatu dan selalu mawas diri menghadapi ancaman “Kubilai Khan Baru” berwujud imperialisme, birokrasi koruptif, dan oligarki internal yang disebut serakahnomic”, ucap Mono.

Selain aktif menulis dan berkecimpung pada isu-isu sosial serta budaya, A.J Susmana saat ini menduduki jabatan strategis sebagai Tenaga Ahli Menteri Sosial bidang Kerjasama dan Kemitraan Strategis.

Berkat kolaborasi yang baik antara Sentra Paramita Kementerian Sosial RI bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB dengan menggandeng Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) serta Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kegiatan ini berjalan dengan sukses.

AJ SusmanaBerfoto bersama Para Peserta Acara Bedah Buku (Sumber: Dokumen Redaksi)

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Dr. H. Ashari, S.H., M.H. dan diramaikan dengan kehadiran para mahasiwa dari berbagai universitas sekitaran Kota Mataram yang mengikuti dengan antusias.

Diskusi semakin kaya dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Nuriadi Sayip, S.S., M.Hum selaku budayawan sekaligus akademisi, serta Dedy Ahmad Hermansyah selaku pemerhati sejarah.

Mereka menyampaikan bahwa melalui kegiatan seperti ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kesadaran berpikir kritis, taktis dan kreatif dalam berstrategi. Memperluas ruang-ruang dialog mengenai sejarah, kebudayaan leluhur dapat memperkuat fondasi karakter bangsa, identitas dan nasionalisme bangsa.

Persatuan yang dibangun atas dasar kesadaran sejarah menjadi fondasi kuat ketahanan bangsa.

Mari terus hidupkan semangat belajar dan menjaga warisan bangsa Indonesia.

#KemensosSelaluAda

Keterangan Gambar Utama: Foto AJ Susmana sebagai Narasumber Acara Bedah Buku “Menghadang Kubilai Khan” (Sumber; Dokumen Redaksi)

Resensi Buku

Buku “Sri Buddha #1: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu”, karya Wenri Wanhar menawarkan narasi yang tidak biasa. Ini bukan sekadar buku sejarah.

Pertama, dia menyatakan bahwa tokoh utama dalam cerita di relief Mandala Borobudur bernama Indra Jati, pemuncak Sailendra.

Kedua, Indra Jati yang dikenang turun temurun melalui bisik penuh rahasia sebagai leluhur agung di Pulau Sumatera, menurut Wenri, ialah Hyang Semar, sosok legendaris pamomong Pulau Jawa.

Ketiga, Indra Jati atau Semar, sebagai pemuncak Wangsa Sailendra adalah sang pembawa kabar, pembawa ajaran. Yakni ajaran Buddhi. Benih ajaran yang lahir dan tumbuh di negeri lautan selatan, selapis negeri yang hari ini bernama Indonesia.

Foto Buku Karya Wenri Wanhar (Sumber: Dokumen Redaksi)

Ini jelas bukan sembarang narasi. Ini narasi baru.

Nah, bagaimana cara Wenri membaca relief Borobudur?

Dalam buku ini Wenri membentangkannya dengan lugas.

Pertama, bersuluh ke matahari.

Kisahnya dimulai dari Timur. Seiring matahari terbit. Bergerak ke Selatan. Timur, pada masa lalu disebut Purwa. Dan Selatan; Daksina. Purwa Daksina. Diksi ini kemudian dibunyikan menjadi Pradaksina saja.

“Naiklah dengan putaran Pradaksina. Relief yang Anda tonton ada di bahu kanan. Lalu, turun dengan putaran sebaliknya. Prasawiya. Lagi-lagi, adegan berlangsung di relief sebelah bahu kanan Anda.”

Bagi Puan dan Tuan yang pernah ke Mandala Borobudur tentu mengetahui bahwa relief yang mengelilinginya balik bertimba. Timbal balik. Ternyata, saat memutarinya, adegannya selalu berlangsung di bahu sebelah kanan Anda.

Kedua, berpedoman kepada cahaya yang dibawa manusia sejak lahir.

“Berdasarkan pengetahuan yang kita dapat, di tubuh manusia ada sepuluh aksara. Sang, bang, tang, ang, ing, Nang, mang, sing, wang, yang. Sang, bang, tang, ang, ing ditulis atau dibaca berputar naik dari Timur ke Selatan. Nang, mang, sing, wang, yang ditulis atau dibaca menurun ke putaran sebaliknya dari atas ke bawah. Aksara adalah cahaya. Dan cara membaca cahaya pada diri manusia ini sama persis dengan cara membaca Wirupa Borobudur.”

Dalam bukunya, dia menyebut relief yang terukir di Borobudur dengan sebutan Wirupa karena menurut Wenri yang sedikit banyak pandai menulis dan membaca aksara Kawi, memang begitulah yang tertulis di lantai dasar Mandala Borobudur.

Sejauh mana kebenaran ceritanya, Wenri sendiri mengakui, “kita tidak pernah merasa paling benar. Kalau lah ada kebenarannya, itu hanyalah umpama segenggam daun di antara rimbunnya daun di hutan. Sebab, bila kita merasa paling benar, maka pendapat di luar kita akan ada saja salahnya. Sementara, ajaran Buddhi mengajarkan, bila kita berani menyalahkan orang lain, sebenarnya kita sudah salah duluan,” papar Wenri.

Wenri membuka kisah di buku ini seperti orang baru bangun dari tidur. Dia menceritakan mimpi-mimpi.

Seperti apa mimpinya?

Anda bisa langsung membaca buku kecil setebal 117 halaman yang dikisahkan dengan bahasa ringan setarikan nafas.

Edisi cetakan pertama, November 2025 sudah mulai beredar di pasaran. (*)

Keterangan Gambar Utama:

Halaman pertama buku “Sri Buddha #1: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu” (Sumber: Dokumen Redaksi)

TEGAL — JAKER Kabupaten Tegal bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tegal, Penerbit Tiga Serangkai, serta media online Puskapik.com menyelenggarakan acara Bedah Buku Menghadang Kubilai Khan karya AJ Susmana pada Kamis, 13 November 2025. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan Kabupaten Tegal dan dimulai tepat pukul 10.00 WIB.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Umum JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat), Annisa, yang memberikan pidato pembukaan sekaligus menekankan kembali pentingnya persatuan nasional melalui refleksi sejarah yang diangkat dalam novel tersebut.

Sebelum memulai pemaparan, Annisa menyampaikan salam pembuka lintas agama dan memberi apresiasi kepada jajaran Dinas Perpustakaan, para narasumber, serta panitia yang telah menyiapkan acara. Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan literasi dan kebudayaan semacam ini terus mendapat ruang dan dukungan.

Dalam pidatonya, Annisa mengajak hadirin merenungkan kembali betapa berharganya arti persatuan. Menurutnya, refleksi tersebut bukan berasal dari teori politik modern, melainkan dari kisah heroik masa lalu Nusantara yang dihadirkan kembali melalui novel sejarah karya Antun Joko Susmana tersebut.

Berlatar abad ke-13, Menghadang Kubilai Khan mengisahkan perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk bersatu menghadapi ancaman invasi besar dari Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan, salah satu imperium terkuat di dunia pada masanya. Ancaman tersebut bukan sekadar tantangan militer, tetapi juga ujian bagi eksistensi dan kedaulatan bangsa-bangsa di kepulauan ini.

Foto AJ Susmana Memberikan Penjelasan dalam Acara Bedah Buku di Tegal (Sumber: Dokumen Redaksi)

Annisa menyoroti tiga pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah tersebut:

Pertama, ancaman eksternal adalah katalisator persatuan. Menurutnya, intrik politik dan perbedaan pandangan memang mewarnai hubungan antar-kerajaan, tetapi semuanya sirna ketika bahaya besar datang. “Perpecahan adalah kelemahan fatal,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa di era modern, ancaman bisa datang dalam bentuk dominasi ekonomi, budaya, dan politik. Karena itu, persatuan nasional tetap menjadi benteng pertahanan paling kokoh.

Kedua, pentingnya kepemimpinan visioner. Annisa menyebut sejarah mencatat hadirnya tokoh-tokoh yang menyingkirkan ambisi pribadi demi cita-cita bersama. Novel tersebut, menurutnya, menggambarkan bahwa perjuangan mencapai persatuan membutuhkan kesetiaan, pengorbanan, serta keberanian untuk melawan pengkhianatan dari dalam. Dalam konteks kini, ia menekankan perlunya pemimpin dan warga yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa.

Ketiga, kekuatan sejati berakar pada solidaritas rakyat. Novel ini memperlihatkan bahwa kemenangan bukan hanya hasil strategi para raja, tetapi juga partisipasi dan semangat rakyat dari berbagai lapisan. Spirit perlawanan rakyat Nusantara, ujarnya, adalah semangat yang harus terus dirawat.

Annisa kemudian menegaskan bahwa Menghadang Kubilai Khan adalah ajakan agar bangsa Indonesia tidak mudah tunduk pada dominasi dalam bentuk apa pun. “Jika di abad ke-13 para pendahulu kita mampu bersatu demi kedaulatan, maka kita di abad ke-21 seharusnya bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik lagi,” ujarnya.

Foto Ketum JAKER Annisa Lituhayu menyampaikan pandangan dalam bedah buku Menghadang Kubilai Khan di Tegal (Sumber: Dokumen Redaksi)

Ia menutup pidatonya dengan menekankan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata, kerelaan memahami perbedaan, serta komitmen untuk berjalan bersama demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

“Setiap Tempat adalah Panggung, Setiap Orang adalah Seniman,” tutupnya.

Keterangan Gambar Utama:

Foto Annisa Lituhayu (Ketum JAKER) Menyerahkan Buku ke Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Perpusip Kabupaten Tegal, Indra Rustiono (Sumber: Dokumen Redaksi)

Foto Acara Diskusi Kebangsaan JAKER (Sumber: Dokumen Redaksi)

Jakarta, 2 November 2025 – Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) akan menggelar Diskusi Kebangsaan bertema “Peran Pemuda dalam Mendorong Kebudayaan Nasional yang Maju, Adil, dan Makmur” pada Senin, 3 November 2025, bertempat di Ruang Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ketua Umum JAKER, Annisa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya menggali kembali akar persatuan bangsa yang dahulu dimotori oleh kaum muda 97 tahun silam.

Ia menambahkan, melalui budaya dan ruang dialog, generasi muda diharapkan mampu meneruskan cita-cita para pendahulu untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan sosial, atau masyarakat adil makmur.

“Diskusi ini menjadi pondasi untuk kembali meneguhkan semangat Sumpah Pemuda. Kita ingin menghidupkan lagi nilai gotong royong sebagai akar budaya Nusantara yang menjadi landasan persatuan bangsa,” ujar Annisa.

Diskusi tersebut akan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain:

  • Nasruddin Djoko Surjono (Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta)
  • Assoc. Prof. Dr. Tuti Widyaningrum, S.H., M.H. (Akademisi)
  • Sonny Laurentius (Perwakilan JAKER)
  • M. Rizal (Departemen Pendidikan dan Keanggotaan Eksnas LMND)

Para pembicara akan membedah peran strategis kaum muda dalam menggerakkan kebudayaan nasional sebagai kerangka persatuan menuju masyarakat yang maju, adil, dan makmur.

Dalam momentum ini, Annisa juga menyampaikan sebuah puisi reflektif berjudul “Pemuda?”, yang menjadi pesan moral bagi generasi muda agar tetap kritis dan berpihak pada rakyat:

Pemuda?
Jiwa muda jiwa yang melawan, Bersumpahlah
Melawan ketidakadilan,
Keadilan yang sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat.

Hai pemuda anak kandung Nusantara,
Jangan tidur di mata yang tak mengantuk hanya untuk cepat bermimpi.
Hai pemuda akademisi, yang rajin baca buku, yang pandai berargumentasi,
Bahasa persatuan bukan sekadar retorika.

Hai pemuda, jangan terjebak dalam kotak-kotak kepentingan oligarki,
Kotak-kotak sempit yang mengekang saudaramu yang pengap dan tak berdaya.
Bangkit dan yakinlah, kawan,
Bahwa negeri kaya ini bisa membuat penghuninya bebas, merdeka, adil, dan makmur.

Puisi yang ditulis oleh Annisa pada 27 Oktober 2025 itu menjadi penutup penuh makna dalam menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda — sebuah pengingat bahwa semangat kebangsaan bukan hanya sejarah, melainkan panggilan untuk terus bergerak membangun kebudayaan bangsa.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
Annisa – Ketua Umum JAKER
+62 858-8042-8909

Foto Bersama Acara Bedah Buku Antologi Puisi HUT ke-32 JAKER (Sumber: Dokumentasi FSB Retorika Filsafat UGM)

Yogyakarta, 29 Oktober 2025 —
Forum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) menggelar acara bedah buku antologi puisi berjudul “Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam” di Ruang Persatuan, Lantai 3 Fakultas Filsafat UGM. Acara ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-32 JAKER, dan menjadi ruang dialog antara penyair, akademisi, dan publik pencinta sastra.

Pembukaan dan Sambutan
Acara dimulai pukul 16.00 WIB, dibuka oleh perwakilan panitia Forum Retorika Filsafat UGM. Sambutan dari Ketua Umum JAKER, Annisa Lituhayu, dibacakan oleh ketua panitia. Dalam sambutannya, Annisa menyampaikan bahwa antologi ini merupakan upaya JAKER untuk terus menyalakan api perjuangan kebudayaan rakyat dan mempertemukan penyair lintas generasi serta lintas ideologi. Berikutnya, sambutan juga disampaikan oleh Ketua JAKER D.I. Yogyakarta, Agung dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Fakultas Filsafat UGM, Dr. Agus Himawan Utomo, M.Ag.

Sebagai pembuka acara, ditampilkan pembacaan puisi Arahmaiani berjudul “Betulkah Kita Sudah Merdeka?” yang menggugah kesadaran tentang makna kemerdekaan sejati dalam kehidupan bangsa.

Para Pembicara dan Pokok Pikiran
Diskusi buku menghadirkan empat narasumber: Kiswondo (Sastrawan), Achmad Munjid, M.A., Ph.D. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), Isti Komah (Alumni Filsafat UGM angkatan 1996 dan Aktivis Perempuan), dan Harsa Permata (Editor Buku).

Achmad Munjid: Puisi, Bahasa, dan Luka Sosial Bangsa
Munjid menekankan bahwa penyair melihat pertama-tama bukan dengan mata, tetapi dengan kata. Penyair, menurutnya, adalah saksi atas kenyataan sosial Indonesia yang “sudah babak belur.”

Ia menyinggung trauma kolektif bangsa yang terbentuk sejak Orde Baru hingga masa reformasi kini:
“Waktu Orba kita punya harapan, tapi dilukai. Reformasi juga membawa harapan besar, tapi sepuluh tahun terakhir dilukai lagi.”

Munjid juga mengkritik dunia akademik yang kini sibuk menerbitkan jurnal, namun kehilangan ruang perdebatan ide:

“Kini ada sepuluh ribu jurnal, tapi tak ada lagi perdebatan pemikiran seperti dulu. Orang menulis bukan untuk dibaca, tapi untuk disimpan.”

Ia mengajak mahasiswa—yang hanya sekitar 5% dari populasi—untuk menyadari privilese dan tanggung jawab sosial mereka: menyuarakan ketertindasan rakyat.

Kiswondo: Seni Sebagai Pertarungan Ideologi
Sastrawan Kiswondo menegaskan bahwa seni dan sastra lahir dari pengalaman subjek terhadap realitas sosial. Ia menolak pandangan bahwa seni sekadar alat propaganda, namun menegaskan bahwa:
“Seni adalah pertarungan ideologi.”

Mengutip Antonio Gramsci, ia menyebut bahwa seni dan sastra adalah alat hegemoni yang bisa memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial atau justru menutupi ketimpangan.

Isti Komah: Lintas Generasi, Lintas Gender
Sebagai penikmat sastra, Isti Komah menilai penerbitan buku ini sebagai perayaan ulang tahun JAKER yang bijak dan monumental.

Bijak karena mempertemukan penyair lintas generasi; monumental karena berusaha mewariskan nilai perjuangan yang abadi.

Ia menyoroti bahwa dari 25 penulis, 10 di antaranya perempuan, menunjukkan adanya perspektif gender yang kuat dalam proyek ini.

Menurutnya, ini langkah signifikan di lingkungan gerakan rakyat yang umumnya didominasi laki-laki.
Isti juga mengulas perbedaan tema antara penulis perempuan dan laki-laki:

  • Perempuan menulis tentang kemerdekaan, kesetiaan, ibu, luka, dan kejahatan kemanusiaan.
  • Laki-laki menulis tentang perjuangan, harapan, alam, dan regenerasi.
    Namun ia juga mencatat bahwa belum ada penyair laki-laki yang secara spesifik mengangkat isu perempuan.
    Ia menutup paparannya dengan pembacaan puisi “Kronik Perubahan”, sembari menyampaikan pesan:
    “Selamat ulang tahun JAKER, semoga tetap progresif, makin kekinian dalam metode, dan konsisten di garis massa.”

Harsa Permata: Puisi dan Ideologi JAKER

Editor buku, Harsa Permata, menjelaskan proses kurasi antologi ini.
Seluruh puisi dari kontributor perempuan diterima, sementara sebagian puisi dari kontributor laki-laki tidak lolos seleksi.

Dalam pemaparannya, ia menyebut dua puisi Wiji Thukul sebagai tolok ukur seleksi: “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa” serta “Para Penyair Adalah Pertapa Agung.”
Menurut Harsa, JAKER tetap berpijak pada ideologi bahwa seni dan sastra harus berpihak pada perjuangan rakyat.

“Seni dan sastra tidak hanya diukur dari keindahan, tetapi dari sejauh mana ia mempropagandakan perjuangan sosial menuju masyarakat yang adil dan makmur.”

Foto Bersama Acara Bedah Buku di Filsafat UGM (Sumber: Dokumentasi Retorika Filsafat UGM)

Dialog Interaktif dan Penutup

Sesi tanya jawab diwarnai dua pertanyaan menarik dari mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Salah satunya menyinggung perdebatan klasik antara Lekra dan Manikebu, serta tudingan bahwa seni kerakyatan mengeksploitasi kemiskinan.

Menanggapi hal ini, Munjid dan Kiswondo menjelaskan bahwa seniman rakyat berkarya bukan untuk mengeksploitasi penderitaan, melainkan merekam kenyataan sosial.

“Lekra dan Manikebu itu pertarungan posisi ideologi. Masing-masing punya politik kebudayaan sendiri,” ujar Kiswondo.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pembicara dan foto bersama seluruh peserta.

Refleksi Akhir
Bedah buku ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, tetapi menjadi momentum refleksi ideologis dan estetis.

Melalui antologi “Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam”, JAKER menegaskan eksistensinya selama tiga dekade lebih sebagai gerakan kebudayaan rakyat yang konsisten menjaga bara perlawanan melalui bahasa dan puisi.

Poster Acara HUT JAKER Ke-32 (Dok. Redaksi)

Jakarta – Kebudayaan Rakyat – Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) baru saja meluncurkan buku Antologi Puisi, untuk memperingati HUT Ke-32 JAKER. Annisa Lituhayu, selaku Ketua Umum JAKER menyampaikan beberapa hal pada sambutannya dalam Antologi Puisi tersebut. Pertama, apresiasi yang tinggi untuk Kawan Wiji Thukul, yang masih hilang sampai sekarang, kata-kata Kawan Thukul akan selalu hidup, walaupun ia belum ditemukan.

Foto Annisa Lituhayu Ketum JAKER (Dok. Redaksi)

Kedua, Annisa juga mengucapkan terima kasih kepada para budayawan, seniman, aktivis, politisi dan pihak-pihak yang telah berkenan menyerahkan karyanya, untuk dimasukkan dalam antologi puisi “Luka Yang Tak Menyerah Bara Yang Tak Padam” yang diterbitkan oleh Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER).,

Ketiga, Ketua Umum JAKER tersebut memandang bahwa penyelenggaraan Wayang Kulit Milenial dan peluncuran buku Antologi puisi ini adalah bukti nyata perjuangan JAKER, dan cita-cita luhur para pendiri bangsa.

Selain itu, Annisa menyampaikan bahwa untuk membangun negara yang ideal, sesuai cita-cita bangsa itu tidak mudah. Apalagi dalam situasi ekonomi Indonesia hari ini, yaitu besarnya ketimpangan sosial, dan penguasaan ekonomi oleh segelintir orang, atau oligarki/serakahnomics. Kelompok ini, menurut Annisa, memiliki kecenderungan untuk memperkaya diri sendiri, tidak pernah puas, bahkan tidak segan untuk menjual kekayaan alam Indonesia pada imperialisme, atau penjajah asing.

Kaum serakahnomics, menurut Annisa, akan selalu menghalangi jalan keadilan dan kemakmuran rakyat dan membuat rakyat tak berdaya. Hal ini juga berdampak pada ketidakberdayaan negara, sehingga akan cenderung tunduk pada pihak asing.

JAKER – Jaringan Kebudayaan Rakyat mendukung langkah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, untuk melawan sistem dan kaum “serakah-nomics”, yang dalam hal ini adalah imperialisme-neoliberalisme, oligarki, dan birokrat korup yang menghalangi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan makmur.

Lebih lanjut, Annisa menyampaikan bahwa JAKER akan mengerahkan segala sumber dayanya dan menyerukan kepada seluruh rakyat untuk bersatu bersama melawan kaum serakahnomics sehingga keadilan dan kemakmuran dapat terwujud secepat-cepatnya di tanah air Indonesia.

Foto Annisa, Ketum JAKER (Dok. Redaksi)

Melalui ranah seni dan budaya, lewat berbagai karya, JAKER menyuarakan secara lantang berbagai nyanyian, ekspresi, dan suara yang menolak penindasan manusia atas manusia. JAKER juga tak henti hentinya mengajak semua lapisan masyarakat bersama berjuang mengembalikan jati diri bangsa, dan mengabarkan bahwa kita memiliki peradaban yang tinggi.

Wayang kulit yang JAKER persembahkan pada malam peringatan HUT JAKER ke-32, membawa esensi perjuangan dengan lakon Amarta Binangun, yang merupakan simbolisasi usaha kerja keras, untuk membangun negara gemah ripah loh jinawi , tata tenteram Kerta raharja, yaitu Indonesia adil Makmur.

Annisa mewakili JAKER, mengucapkan banyak terimakasih kepada Ki Dalang: Ki Gunarto Gunotalijendro yang akan mengisahkan Amarta Binangun yaitu membangun negara Amarta, yang bisa menjadi refleksi kita dalam membangun Negara Indonesia. Akhir kata, Annisa berharap bahwa semua karya seni yang JAKER persembahkan, akan mampu membawa energi baru, untuk bekerja sama, bergotong-royong membangun bangsa Indonesia.

Poster Acara Launching Antologi Puisi HUT JAKER Ke-32 (Dok. Redaksi)

Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), akan mengadakan acara Launching Buku Antologi Puisi “Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam”. Acara ini akan diselenggarakan di Plaza Teater Besar TIM (Taman Ismail Marzuki), Jl. Cikini Raya No 8, Menteng Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 5 September 2025, mulai pukul 19.00 wib – selesai. Launching Buku Antologi Puisi ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun JAKER yang Ke-32.

Sebagai kado HUT JAKER Ke-32, maka buku Antologi Puisi tersebut, bisa didownload secara gratis melalui link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1AVPwcAy-J-U2Gdifjw41F8BVh21pUgq0/view?usp=sharing

Foto Pementasan Teater “Bunga Penutup Abad” (Dok. Joel)

Pementasan teater ‘Bunga Penutup Abad’ akan menyapa pecinta sastra dan teater tanah air pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pementasan teater produksi Titimangsa yang dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menjadi bagian dari rangkaian program satu tahun peringatan Seabad Pram yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation. Momentum ini menjadi pengingat bahwa karya-karya Pram tidak hanya abadi, tetapi juga terus relevan dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan hari ini.

Happy Salma, selaku Produser pementasan ini menyampaikan bahwa pentas “Bunga Penutup Abad” ini dihadirkan kembali, karena kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies ini senantiasa menginspirasi dan menjadi bahan renungan bagi kita semua. Selain itu, menurut Happy Salma, ekosistem seni pertunjukan semakin bertumbuh, hal ini ditandai dengan bersandingya pihak swasta dan pemerintah, yang berarti bahwa kebudayaan merupakan kekuatan kita. Budaya, bagi Happy Salma, merupakan jalan perjuangan bagi manusia untuk memanusiakan diri.

Pementasan teater Bunga Penutup Abad sebagai produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Pementasan tahun ini menjadi pementasan Bunga Penutup Abad keempat setelah sukses diselenggarakan pada 2016, 2017 dan 2018.

Foto Ketum JAKER, Annisa Lituhayu di Depan Poster Pementasan Teater “Bunga Penutup Abad” (Dok. Annisa Lituhayu)


Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani ke mana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada Minke dan Nyai Ontosoroh.

Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik baiknya dan sehormat-hormatnya.

Foto Adegan Pementasan Teater “Bunga Penutup Abad” (Dok. Joel)

Karakter-karakter Bunga Penutup Abad akan diperankan oleh Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, serta menampilkan aktor-aktor terbaik Indonesia, yaitu Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Andrew Trigg sebagai Jean Marais, dan Sajani Arifin sebagai May Marais.

Foto Peserta Acara Diskusi Wayang “Kembang Dewo Retno” (Koleksi Pribadi)

Boyolali – Kebudayaan Rakyat – Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, kisah dalam pertunjukan wayang kulit, mengandung pesan moral dan filosofi kehidupan. Hal yang seharusnya dapat dipelajari oleh masyarakat, khususnya tentang nilai-nilai kebajikan, keadilan, dan kearifan di dalamnya. Selain itu, wayang adalah simbol identitas budaya dan ketahanan masyarakat Indonesia. Semua lakon dalam wayang, berisikan nilai-nilai universal, keaslian nilai dan tujuan dalam wayang, bisa menjadi alat ketahanan budaya bangsa Indonesia.

Esensi wayang adalah estetika pengingat manusia tentang sangkan paraning dumadi (awal dan akhir perjalanan manusia). Wayang arting “hyang”, artinya menuju Tuhan. Atau bayangan yang bermakna bayang wayang yang jatuh ke kelir (kain putih), atau bayangan lakon manusia di dunia yang di mainkan oleh pedalang (seperti Tuhan). Pagelaran wayang bisa menjadi potret masyarakat dan perjalanan bangsa dari masa ke masa. Menjadi alat pengingat, media untuk merefleksikan capaian budaya dan peradaban bangsa Indonesia.

Namun demikian, lambat laun keberadaan wayang kulit mulai memudar seiring dengan perkembangan teknologi digital yang serba instan. Wayang kulit makin jarang di tampilkan karena penggemar dan senimanya mulai berkurang secara dratis.

Dalam rangka pelestarian, pendalaman dan penguatan narasi wayang kulit, maka Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)-Boyolali bekerjasama dengan sanggar Gondangrawe Manunggal, akan menyelenggarakan pagelaran wayang dengan lakon “ Kembang Dewo Retno“ dengan dalang Ki Aryo Pranowo pada hari selasa, 26 agustus 2025, jam 20.00 wib, di Gondangrawe, RT 09, RW. 20, Andong, Boyolali – selesai. Didahului diskusi wayang “Kembang Dewo Retno” dan release pada 23 agustus 2025, jam 19.30 wib, dengan pembicara; dalang Ki Aryo Pranowo, AJ. Susmana (Budayawan dan Sastrawan), Ki Jumar (Sesepuh sanggar Gondang Rawe Manunggal), Muhammad Ma’ruf ( Ketua Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat-JAKER Boyolali).

Pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Jaker ke 32 dan HUT RI yang ke 80. Tujuan pagelaran ini sebagai media untuk merefleksikan capaian dari Jaringan Kerja Kebudyaan Rakyat (JAKER) selasa 32 tahun, pada saat yang sama sebagai refleksi budaya dan peradaban bangsa Indonesia selama 80 tahun.

Sinopsis Lakon “Kembang Dewa Retna”

“Kembang Dewa Retna” adalah lakon wayang yang bersumber dari kisah Ramayana versi Jawa, yang mengisahkan perebutan bunga pusaka yang menjadi simbol kemenangan peperangan Sari Kudhup Palwanggakara (perang raksasa & kera) bernama Kembang Dewa Retna. Bunga ini awalnya dijaga oleh Batara Danapati (Kuwera), saudara tiri Rahwana. Karena ambisi untuk memperkuat kekuasaannya, Rahwana mencuri bunga tersebut. Batara Guru kemudian mengubah seekor kumbang yang tersisa dari jambangan bunga menjadi kera sakti bernama Kapi Pramuja, dan mengutusnya untuk membantu Sri Rama merebut kembali bunga itu dari tangan Rahwana.

Dalam perjalananya, Kapi Pramuja berhasil menyusup ke istana Alengka dan mencuri kembali bunga pusaka tersebut. Rahwana yang murka memerintahkan Patih Prahasta mengejar sang kera. Pertarungan sengit pun terjadi, hingga akhirnya Prahasta tewas di tangan Anila, salah satu pasukan Rama, dengan menggunakan tugu sakti yang ternyata jelmaan bidadari Dewi Indradi yang sedang menjalani kutukan. Setelah tugasnya selesai, Kapi Pramuja menyerahkan bunga tersebut kepada Sri Rama. Cerita ini mengandung pesan bahwa kekuatan sejati berpihak pada kebenaran dan keadilan, bukan keserakahan dan kekuasaan.

Muhammad Ma’ruf, Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Boyolali