Foto Audiensi JAKER dengan Biro Infohan Setjen Kemhan (Sumber IG @kemhanri)

Jakarta – Kebudayaan Rakyat – Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) diterima audiensi oleh Biro Infohan Setjen Kemhan di Kantor Biro Infohan, Jakarta, Kamis (14/8).

Hal yang dibahas dalam audiensi tersebut adalah pengenalan JAKER dan peluang sinergi di bidang kebudayaan dan pertahanan. Ruang lingkupnya mencakup pertahanan budaya sebagai bagian dari pertahanan nirmiliter untuk membentengi generasi muda agar nilai dan jati diri bangsa tetap kokoh di tengah arus budaya asing.

Kepala Biro Infohan Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, mengapresiasi inisiatif JAKER dalam mengembangkan potensi budaya sebagai kontribusi nyata bagi penguatan ketahanan nasional (Sumber IG @kemhanri).

Potret Penari Reog dan Jaranan sedang Berpose Bersama (Dokumentasi Sari Utomo)

(Sekilas Kisah Paguyuban Seni Tari Reog dan Jaranan Sari Utomo)
Oleh: Adhitia Armitrianto


Semarang – Kebudayaan Rakyat – Baru-baru ini, Kementerian Kebudayaan mengumumkan bila telah mendaftarkan Jaranan sebagai warisan budaya tak benda ke Unesco. Di Bandungan, Kabupaten Semarang, tarian tersebut lebih sering disebut reog. Di sana, kesenian rakyat itu tumbuh bersama industri pariwisata yang terus berkembang.

KABUPATEN Semarang dikenal sebagai Surganya Jawa Tengah karena memiliki beberapa tujuan wisata. Kecamatan Bandungan adalah salah satu daerah yang paling sering dituju. Kawasan yang berada di lereng Gunung Ungaran itu mengandalkan wisata kesejarahan dengan ikonnya Candi Gedongsongo serta keindahan alam yang lengkap dengan udara sejuk sehingga tepat untuk menjadi tempat berlibur.

Selain itu, industri pariwisata di sana juga berkembang dengan menjamurnya hotel dan sanggraloka serta karaoke dan restoran juga wahana permainan. Bisa dikatakan, Bandungan tak pernah tidur atau hidup 24 jam tanpa henti.

Di tengah keriuhan tersebut, tradisi masih dipegang teguh oleh penduduk setempat. Salah satu yang terlihat adalah masih bertahannya kelompok tari jaranan atau reog.

“Di sini, jaranan memang sering disebut reog. Tapi bukan seperti di Ponorogo. Di Bandungan serta sebagian Kabupaten Semarang, reog itu ya jaranan,” ujar salah seorang pamong budaya Pemerintah Kabupaten Semarang, Bramantyo Saputra, baru-baru ini.

Situs resmi Kementerian Kebudayaan menyebut jaranan sebagai seni pertunjukan dan ritual yang menggabungkan tari, musik, dan unsur spiritual. Beberapa nama lainnya antara lain jaran kepang atau kuda kepang, jathilan, ebeg, kuda lumping, serta turangga seta (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/indonesia-resmi-ajukan-warisan-budaya-takbenda-tempe-teater-mak-yong-dan-jaranan-ke-unesco/ diakses pada 12 April 2025).

Sementara Claire Holt pada bukunya Melacak Perkembangan Seni di Indonesia pernah menulis nama-nama lain untuk tari kuda kepang. “Pertunjukan ini juga dikenal sebagai kuda lumping (di Jawa Barat kuda itu dari kulit, yaitu lumping), ebleg (di barat daya), jathilan (di daerah Yogyakarta), dan reyog atau ludrug (?)(di Jawa Timur).”

Holt juga menjelaskan, nama tari tersebut berasal dari gabungan kata kuda yang berarti hewan kuda dan kepang yang merujuk pada bambu yang dianyam. “Pertunjukan rakyat ini dilakukan oleh laki-laki menunggang kuda-kudaan pipih yang dibuat dari anyaman bambu dan dicat,” tulisnya.

Konon, jaranan adalah bagian dari ritual yang dilakukan masyarakat untuk beberapa tujuan, antara lain menolak bala, mengatasi berbagai musibah, meminta kesuburan pada lahan pertanian, mengharap keberhasilan panen, dan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan tenteram.

Kesenian tradisi itu dikatakan berasal dari Jawa Timur. Hal tersebut tak lepas dari relief Candi Jawi di Pasuruan yang menggambarkannya. Meski demikian, jaranan berkembang pula di Jawa Tengah.
Di Kabupaten Semarang misalnya, ada banyak kelompok yang memainkannya. Bramantyo menjelaskan, di Kecamatan Bandungan ada belasan kelompok reog.

“Di setiap desa atau kelurahan bisa ada empat atau lima kelompok. Dan mereka masih aktif,” tambahnya.
Kecamatan Bandungan terdiri dari sembilan desa dan satu kelurahan. Satu-satunya kelurahan berada di jantung kecamatan tersebut, yakni Kelurahan Bandungan.

Jika tadi jantung Kecamatan Bandungan adalah Kelurahan Bandungan, Lingkungan Junggul atau RW 4 adalah jantung dari Kelurahan Bandungan. Wilayahnya hanya sepelemparan batu dari alun-alun. Di situ, reog atau jaranan masih terus dimainkan.

“Kalau menurut sesepuh dulu, nama reog berasal dari suara yang keluar dari anyaman bambu berbentuk kuda saat dimainkan oleh para penari,” ujar salah seorang warga Junggul, Bowo Sulaksono.
Bowo adalah Penasehat Reog Sari Utama. Kelompok tersebut konon telah berdiri sejak 1920-an. Semula, namanya adalah Sarutama. Namun, karena nama tersebut dianggap terlalu “berat” maka warga sepakat untuk menggantinya menjadi Sari Utomo.

Dia tak tahu persis kapan pergantian nama itu. Namun, dugaannya kebijakan itu diambil pada 1960-1970 an. Kelompok Sarutama atau Sari Utomo sama-sama dimiliki oleh masyarakat Junggul. Anggotanya adalah warga yang tinggal di lingkungan tersebut.

Untuk diketahui, sebagian warga Junggul bekerja sebagai karyawan di tempat hiburan. Maka mereka tak jauh dari dunia malam yang gemerlap. Meski begitu, mereka ternyata tetap memiliki komitmen untuk melestarikan tradisi reog atau jaranan.

Bowo kemudian bercerita beberapa perkembangan reog di Junggul baik saat masih bernama Sarutama maupun Sari Utomo.

Yang pertama, ukuran “kuda” yang dimainkan. Menurutnya, dari cerita yang diturunkan padanya serta foto-foto hasil pencariannya di dunia maya, ukuran “kuda” yang dipakai pada masa lalu panjangnya bisa mencapai lebih dari 1,5 meter.

“Bahannya sama, dari bambu. Tapi dulu ukurannya lebih besar. Panjangnya bisa lebih dari 1,5 meter. Kalau sekarang hanya satu meteran saja,” tambahnya.

Yang kedua adalah kostum. Bowo mengungkapkan, dia pernah ditunjukkan foto pada masa kolonial dimana penari reog menggunakan pakaian semacam jas. Sementara untuk bawahan ada kemben, jarik, dan celana.

Jas atau pakaian dinas yang berwarna putih sempat membuatnya heran. Namun, dia kemudian menemukan jawaban dari salah satu sesepuh desa.

Menurutnya, jas atau pakaian dinas itu didapat dari orang-orang Belanda yang nanggap.
“Jadi sebenarnya, pada awalnya, para penari itu hanya mengenakan bawahan saja. Untuk atasan, mereka tidak memakai apa-apa. Tapi kemudian dikisahkan bila saat diminta menari untuk orang-orang Belanda, mereka kerap diberi baju atau jas. Nah, pakaian itu yang kemudian dikenakan,” terang pria yang bersama istrinya juga memiliki sanggar tari bernama Puspita Kencana.

Kostum atasan jas atau baju dinas itu kemudian ditinggallkan. Mungkin karena para penari merasa tak leluasa bergerak atau bisa jadi karena mereka tak ingin lagi mengenakan sesuatu yang berbau kolonial.
Untuk iringan musik, juga ada perbedaan. Menurut Bowo, dulu alat musik yang digunakan hanya dua, bende dan gong. Jumlahnya yakni tiga bende dan satu gong. Semuanya dipukul bergantian.

“Jadi suaranya hanya teng tong teng, teng tong teng, teng tong teng, gong,” ucap Bowo menirukan suara yang dihasilkan bende dan gong.

Irama seperti itu dimainkan terus menerus sepanjang tarian. Kadang berhenti sejenak, tapi kemudian dimainkan lagi.

Pada 1980-an peralatan yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bertambah. Bonang dan saron mulai digunakan. Bahkan, pada awal 2000 pihaknya juga mulai menggunakan organ.
Penggunaan perangkat baru, terutama yang membutuhkan pengeras suara, membuat mereka harus beradaptasi. Untuk organ, selain menambah variasi nada, sering pula digunakan untuk menambah suasana. Hal itu tak lepas dari fasilitas peralatan tersebut yang menyediakan suara seperti angin atau gemericik air.

“Kami pernah mengikuti lomba di Kota Semarang. Kami mempersiapkan tarian dengan iringan musik menggunakan organ. Namun, ternyata panitia tidak menyediakan pengeras suara. Tentu saja, kami kelabakan. Mereka menganggap musik iringan jaranan tak perlu pengeras suara,” kenang Bowo.

Sementara itu, pada sebuah kartu pos yang dimuat buku Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe karya Olivier Johannes Raap, tampak alat musik angklung juga digunakan mengiringi penari jaranan (dalam buku disebut jatilan). Kartu pos itu kemungkinan dibuat pada 1910.

Cerita yang dibawakan pada masa dahulu dan sekarang juga cenderung berbeda. Untuk diketahui, ada beberapa kisah yang melatarbelakangi tarian jaranan.

Yang pertama yakni kisah tentang pasukan yang mengiringi pernikahan Klana Sewandana dengan Dewi Sanggalangit. Kemudian juga pasukan Mataram yang akan menyerang kompeni. Pun kisah Arya Penangsang dengan kudanya Gagak Rimang.

Sementara Prihananto pada tulisannya berjudul “Tari Jaranan: Kreasi Sunan Ngudung untuk Berdakwah” di nursyamcenter.com (diakses pada 12 April 2025) mengungkapkan, “.. kesenian jaranan merupakan penggambaran dari kisah perjuangan Raden Fatah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.”

Bagaimana dengan Reog Bandungan?
Bowo mengungkapkan bila Reog Bandungan mengisahkan prajurit Pangeran Diponegoro yang berangkat untuk menyerang pasukan Belanda di Jawa.

“Jumlah penari yang tampil dan menggambarkan pasukan itu biasanya enam orang. Formasinya adalah dua berbanjar ke belakang. Mereka yang di depan adalah pemimpinnya,” terang Bowo.
Selain para penari dengan kuda-kudaan tersebut, ada juga dua orang yang berperan sebagai macan dan dua orang lagi yang berperan sebagai sapi.

Potret Penari Reog dan Jaranan sedang Beraksi (Dokumentasi Sari Utomo)

Kemudian juga ada dua orang yang berperan sebagai angon. Mereka biasanya mengenakan topeng dan membawa tongkat atau pentungan serta cambuk.

Meski begitu, Bowo mengungkapkan, kini kisah yang dibawakan bisa beragam. Reog atau jaranan telah menjadi semacam sendratari. Mereka beberapa kali membawakan kisah legenda atau cerita rakyat.
Para pendukung Sari Utomo biasa bertemu seminggu sekali. Setiap akhir pekan mereka akan berkumpul di halaman rumah seorang warga untuk melatih gerakan-gerakan atau sekadar berbincang tentang pementasan yang sudah serta akan dijalankan.

Setiap tradisi mungkin selalu dihantui dengan istilah regenerasi. Namun tidak bagi Sari Utomo. Mereka telah memiliki pemuda-pemuda bahkan anak-anak yang siap menggantikan kakek, ayah, paman, atau tetangga.

“Regenerasi memang sempat jadi kekhawatiran. Tapi kami membuktikan persoalan tersebut bukan lagi masalah. Sekarang banyak penari atau niyaga kami masih berusia muda,” tambah Bowo penuh percaya diri.

Para pendukung Sari Utomo dan kelompok reog atau jaranan lain di Bandungan, terus menari di tengah gemerlap kawasan sebagai pusat hiburan. Saat rayonan (pentas bersama), mereka bisa menarik banyak penonton. Para seniman tersebut memegang teguh tradisi dan menunjukkan bila pelestariannya bisa sejalan dengan kemajuan zaman serta tuntutan kehidupan.(Adhitia Armitrianto)

Foto Cover Album ‘Anak-Anak Super’ (suluhperempuan.org)

🎶 ‘Anak-Anak SuPer’ telah hadir! 🎶

Temukan kisah penuh semangat, imajinasi, dan keceriaan dalam album lagu terbaru yang diciptakan khusus untuk anak-anak Indonesia, untuk generasi masa depan. 🌟

Album ke-3 (non AI) ini saya persembahkan untuk anak-anak Indonesia sekaligus menyambut ‘Hari Anak Nasional’ 23 Juli. Berisi enam lagu; ‘123’, ‘Belajar dan Bermain’, ‘Lagu Anak-Anak SuPer’, ‘Mencari Tanah Lapang’, ‘Pilah Sampahmu’, dan ‘Rumah Kreatif Abhipraya’, mengajak anak-anak untuk bermain sambil belajar, mengenal angka, cinta lingkungan, hingga nilai kepedulian sosial.

🗓️ Rilis 23 Juli 2025
🎧 Bisa didengarkan di platform musik digital!

“Selamat Hari Anak Nasional”

#HariAnakNasional #AnakAnakSuper #LaguRamahAnak
#LaguAnakIndonesia

https://open.spotify.com/album/1PjWfssNRd109e50PLp4Lq?si=XeRciWrJRu63Z81PCw5szQ%0A

Foto Perwakilan JAKER dan Bunda Literasi Kudus (Koleksi Pribadi)

Kudus (Senin, 14 Juli 2025) – Kebudayaan Rakyat – Sejumlah perwakilan dari Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus melakukan audiensi resmi bersama Bunda Literasi Kabupaten Kudus, Ibu Endhah Endhayani Sam’ani Intakoris, yang didampingi Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) di Pendopo Kabupaten Kudus. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam membangun sinergi antara pelaku budaya akar rumput dengan penggerak literasi di level pemerintahan daerah.

Audiensi yang berlangsung hangat dan penuh semangat ini memberikan energi positif dalam membumikan literasi kepada semua lapisan masyarakat. JAKER Kudus menyampaikan gagasan dan harapan untuk memperkuat gerakan budaya dan literasi yang saling terhubung dalam menghadapi tantangan zaman.

Foto Perwakilan JAKER Kudus (Koleksi Pribadi)

Dalam kesempatan ini, Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kudus, Wahyu Deseptian menyampaikan agenda ke depan sebagai bentuk membumikan Literasi yaitu Bedah Buku “Menghadang Kubilai Khan” Karya AJ Susmana. Harapannya bedah buku ini bisa dihadiri pelajar, mahasiswa, Guru Sejarah, Guru Bahasa Indonesia, komunitas sastra/budaya dan Masyarakat umum.

Foto Audiensi Perwakilan JAKER Kudus dengan Bunda Literasi Kudus, beserta Jajaran Pemerintahan di Kudus (Koleksi Pribadi)

Ibu Endhah Endhayani menyambut baik inisiatif tersebut dan menyampaikan apresiasi atas semangat ini. Beliau juga berkenan hadir dalam acara Bedah Buku tersebut. Dalam suasana yang akrab, Ibu Endhah juga menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan menjembatani kebutuhan kegiatan Literasi kepada pihak-pihak terkait, Seperti Dinas Arsip dan Perpustakaan serta Kesbangpol Kudus.

Audiensi ini ditutup dengan penyerahan profil jaringan kebudayaan rakyat kepada Bunda Literasi. Kemudian menyempatkan sesi foto bersama sebagai dokumentasi momen bersejarah ini. (ian_JakerKudus)

Foto Wamensos Agus Jabo Priyono memberi kata sambutan dalam Acara Umbul Donga Mengenang 200 Tahun Perang Jawa (Koleksi Pribadi)

Sleman (18 Juli 2025) – Kebudayaan Rakyat – Wakil Menteri Sosial (Wamenos) Agus Jabo Priyono mengajak masyarakat untuk kembali menemukan dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia. Ajakan ini disampaikan saat menghadiri Umbul Donga Mengenang 200 Tahun Perang Jawa di Java Village Resort, Sleman, Yogyakarta pada 17 Juli 2025. 

Dalam sambutannya, Agus Jabo menegaskan bahwa sebelum Indonesia merdeka, berbagai daerah di nusantara telah lebih dulu berjuang melawan penjajahan. Salah satunya melalui kepahlawanan Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa (1825-1830), sebuah perlawanan besar yang menjadi simbol kebangkitan melawan dominasi kolonial. Perang yang berlangsung selama lima tahun itu menjadi salah satu perang terbesar dalam sejarah kolonial di Nusantara, dengan korban besar di pihak rakyat Jawa maupun Belanda, sekaligus menunjukkan perlawanan berbasis nilai spiritual dan kultural. 

Foto Agus Jabo Priyono Memberi Kata Sambutan (Koleksi Pribadi)

Agus Jabo menilai perjuangan Pangeran Diponegoro tidak sekadar melawan penjajahan, tetapi juga mempertahankan jati diri bangsa. Menurutnya, jati diri itu penting untuk menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. 

“Jati diri bangsa kita seperti apa? Itu yang harus kita temukan jika ingin memiliki masa depan yang jelas,” ujar Agus Jabo di hadapan para tamu undangan, budayawan, tokoh masyarakat, dan generasi muda yang hadir dalam acara tersebut. 

Lebih lanjut, dia mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan refleksi dan pencarian jati diri sebagai bangsa yang besar. 

“Saya pribadi mengajak para sepuh, para senior, kaum muda kita untuk harus segera menemukan siapa kita ini supaya secepatnya kita bangkit. Bangkit menjadi negara yang hebat,” serunya. 

Foto Wamensos Agus Jabo Priyono Menerima tumpeng dari GBPH Prabukusumo (Koleksi Pribadi)

Melalui momentum Umbul Donga ini, Agus Jabo berharap nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan spiritualitas yang diwariskan para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun bangsa yang bermartabat dan berdaulat di masa depan. 

Acara Umbul Donga diisi dengan doa bersama bagi para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan, refleksi sejarah, serta pertunjukan budaya yang mengangkat semangat perjuangan Perang Jawa.

JakartaKebudayaan Rakyat – Indonesia akan mengirimkan 175 penyair dari berbagai daerah untuk menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII yang akan berlangsung di Jakarta, 11-14 September 2025. Selain itu, sebanyak 50 penyair dari luar negeri juga dipastikan hadir, menjadikan pertemuan ini sebagai ajang sastra terbesar yang menjembatani suara puisi lintas negara serumpun.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahmadun Yosi Herfanda, Ketua Umum Panitia PPN XIII, seusai memimpin rapat koordinasi di Lantai 14, Gedung Dewan Kesenian Jakarta, Sabtu, 5 Juli 2025.

“Dari total 175 penyair Indonesia, sebanyak 75 orang berasal dari wilayah Jabodetabek, sementara 100 orang lainnya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua,” ujar Hamdun, didampingi Wakil Ketua Mustafa Ismail.

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) merupakan forum temu penyair tahunan, diselenggarakan pertama kali tahun 2007. Tuan rumah penyelenggaraan bergilir setiap tahun antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.
“Tahun ini giliran Indonesia kembali jadi tuan rumah,” Kata Ahmadun.
Forum ini menjadi ruang strategis untuk merayakan keberagaman budaya melalui puisi serta memperkuat solidaritas antarbangsa di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

PPN XIII tahun ini mengusung tema “Perdamaian dan Persaudaraan”, dengan sejumlah agenda utama, antara lain:

Pembacaan puisi lintas negara, Peluncuran antologi PPN XIII, Diskusi sastra dan budaya nusantara, Workshop penulisan puisi lintas generasi, orasi dan sebagainya.

Adapun penyair mancanegara yang dijadwalkan hadir berasal dari negara-negara sahabat seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Timor Leste.

Mustafa Ismail menambahkan bahwa panitia akan menggandeng sejumlah institusi dan komunitas seni serta media untuk mendukung penyelenggaraan acara yang akan digelar di beberapa titik strategis di Jakarta.
“Jakarta menjadi tuan rumah yang ideal karena memiliki ekosistem seni dan budaya yang kuat. Kita ingin PPN XIII menjadi panggung yang inklusif, berkelas, dan menjangkau masyarakat luas,” pungkasnya.(*)

Muji Konde (kiri) dan Gunawan Effendy (kanan)

Semarang – Kebudayaan Rakyat – KEKANCAN merupakan kata turunan dari kanca. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia VI Daring, kanca merupakan kata benda dalam bahasa Jawa yang artinya teman atau sahabat serta pembantu atau kaki tangan. Sementara kekancan, dalam budiarto.id/bausastra disebut sebagai kanca kang raket atau teman dekat.

Kata tersebut dipilih oleh dua perupa di Kota Semarang, Gunawan Effendy dan Muji Konde sebagai judul pameran mereka. Pameran digelar di Tan Art Space, 22 Juni – 4 Juli 2025. Pada pembukaan pameran, kedua perupa tersebut mengakui bila mereka memang lama berteman. Kedekatannya tidak hanya dalam proses berkesenian tapi juga pada keseharian.

Padahal, sedikit mengungkap latar belakang kehidupan mereka, keduanya berasal dari lingkungan yang berbeda atau bahkan bisa disebut bertolak belakang. Gunawan berasal dari keluarga militer yang tentu dekat dengan kata disiplin. Sementara Konde, lahir dari sebuah perkampungan di Kota Semarang yang sarat dengan kebebasan.

Dalam catatan, setidaknya ada tiga ikatan yang membuat mereka dekat. Tentu saja, selain seni rupa, dunia yang lama mereka geluti. Yang pertama adalah Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Konde dan Gunawan memang pernah tercatat sebagai pengurus Dekase. Gunawan bahkan sekarang masih menjadi penasehat Dekase hingga setidaknya dua tahun ke depan.

Pada saat menjadi Komite Seni Rupa, mereka berdua pernah melahirkan pameran yang cukup berani di Kota Lama. Saat itu, Kawasan tersebut belum secantik sekarang. Namun, dengan kesungguhan, mereka berhasil membuat ruang publik di sana sebagai tempat apresiasi beberapa karya perupa.

Kedua, Sanggar Seni Paramesthi. Gunawan dan Konde memang pernah aktif di sanggar yang dulu menempati kampus lama IKIP Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang). Keduanya bisa disebut sebagai tulang punggung sanggar yang merupakan pilar penting dalam perkembangan kesenian di Kota Semarang pada masa 1990-an hingga 2000-an awal.

Dan yang ketiga adalah Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Konde yang sekarang tercatat sebagai Sekretaris Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Jawa Tengah pernah menggelar pameran tunggal bertajuk Petrus untuk memperingati Hari HAM pada 2016. Pameran tersebut kemudian mendorong kegiatan serupa yang diikuti beberapa perupa lain, termasuk Gunawan.

Dari 2017 hinggga tahun kemarin, mereka berpameran untuk mengingatkan khalayak bahwa persoalan HAM terutama di negeri ini, belum selesai. Dengan perspektif masing-masing, Gunawan dan Konde menyoroti kasus-kasus yang pernah terjadi.

“Kekancan” menjadi semacam garis bawah atau huruf tebal dari apa yang mereka telah lakukan selama ini. Pada pameran tersebut, ada puluhan karya yang dipajang. Sebagian besar menggunakan media kertas ukuran A4 dengan sapuan cat akrilik.

Ada juga beberapa karya yang menggunakan kanvas dengan ukuran Sekitar 1×1 meter. Tak banyak warna yang tampil di keseluruhan karya kecuali hitam dan putih.

Uniknya, tidak ada keterangan dari karya yang ditampilkan. Gunawan dan Konde seolah ingin melepaskan lukisan mereka dari beban teks. Dengan begitu, tafsir terhadap karya mereka bisa semakin lebar.

Para pengunjung seolah diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menebak makna Kekancan. Pembukaan pameran tersebut dimeriahkan oleh penampilan beberapa seniman. Mereka membaca puisi, menyanyikan lagu, dan juga memberi apresiasi. (Adhitia Armitrianto, penulis dan peminum kopi di Kota Semarang)

Yogyakarta – Kebudayaan Rakyat – Gores Kesendirian, Kegembiraan, Kesusahan, Dan Harapan Disajikan ‘Kelompok Injak Tanah’ Dalam Pameran Seni Rupa Bertajuk “Kebersamaan”

‘Kelompok Injak Tanah’, sebuah kelompok seni rupa yang aktif dan inovatif dari Yogyakarta (yang fokus pada penggunaan tanah dan elemen alam dalam karya seni mereka) kembali mengadakan pameran dengan tajuk ‘Kebersamaan’.

Pameran Volume II ini berlangsung dari tanggal 8 Juni – 8 Juli 2025, bertempat Resto Hotel Yats Colony, Jalan Patangpuluhan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, menyajikan karya para Perupa antara lain Hendra Kobain, Uret Pari Ono, Lanjar Jiwo, S.E Dewantoro, Hi..Cak, Bang Toyib, dan Risdianto.

Mengutip dari katalog pameran, bahwa karya-karya yang tersaji dimaksudkan untuk menghiasi ruang-ruang kosong dengan kanvas kehidupan, “Kebersamaan” tampil sebagai judul yang mengundang refleksi paling intim dari karya seni rupa yang dipamerkan di sini.

Dijelaskan bahwa pameran ini adalah pintu gerbang menuju perjalanan visual yang tak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga mengeksplorasi ikatan perasaan perupa satu dengan yang lainnya.

Jika berkesempatan mengunjungi pameran ini, maka kita akan diajak untuk memasuki dunia dimana seni menjadi bahasa universal yang mengungkapkan keragaman cara kita melihat, merasa, dan mendefinisikan konsep kebersamaan. Melalui goresan kuas, palet warna, dan tekstur yang bercerita, karya-karya ini mempersembahkan pandangan yang beragam mengenai bagaimana manusia dapat saling terhubung dalam kesendirian, kegembiraan, kesusahan, dan harapan.

Menurut Kelompok Injak Tanah, karya-karya dipilih dengan hati-hati, tidak hanya menonjolkan keahlian teknik, tetapi juga kelayakan konseptual dan emosional yang mendalam. Setiap karya yang terpilih adalah manifestasi dari pemikiran, dialog internal, serta transendensi pengalaman kolektif yang kita alami sebagai manusia.

Dalam rilisnya Kelompok Injak Tanah menambahkan, melalui pameran “Kebersamaan” ini menegaskan kembali bahwa di tengah zaman yang terfragmentasi ini, seni mampu mempertemukan perspektif dan menenun narasi kebersamaan yang menyentuh jiwa. Ini adalah dialog tanpa kata-kata yang menggambarkan kekuatan, kerapuhan, kegembiraan, dan kepedihan yang kita rasakan saat kita bersama.

Harapan Kelompok Injak Tanah kepada pengunjung pameran adalah, semoga pameran ini akan menjadi pengalaman yang berharga dan penemuan baru yang bisa dikenang. Selamat menikmati setiap nuansa kebersamaan yang telah diukir dengan tulus dalam tiap karya, dan semoga memberikan wawasan baru dalam perjalanan kita melalui seni dan kehidupan. *** (tp)

Kabar Budaya – Pada Senin, 26 Mei 2025
Speedboat merapat ke dermaga Pulau Pramuka. Setelah 1 jam lebih, nyawa penumpang ditimang-timang oleh sang nahkoda. Speedboat dengan kecepatan tinggi menerobos ombak dan gelombang. Di bawah hujan deras yang turun ke lautan. Akhirnya, satu per satu penumpang turun dari speedboat dan naik ke dermaga batu.

Di atas dermaga kami para sastrawan dan rombongan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), antara lain, Kurnia Effendi, Imam Ma’arif, Giyanto Subagio, R. Mono Wangsa, Joel Taher, Andi, Anisa, Salsa, dan Maria dijemput oleh perwakilan dari sekolah SMA. N. 69 Jakarta dan Sudin Kebudayaan Kepulauan Seribu. Lalu kami bersama rombongan jalan kaki menuju sekolah.

Sampai gerbang sekolah kami diterima oleh Pak Sugeng Prabowo selaku Kepala Sekolah. Sebelum acara dimulai para siswa peserta Program sastrawan Masuk Sekolah berkumpul di aula serbaguna untuk melakukan serimonial dari Dewan Kesenian Jakarta dan Sudin Kebudayaan Kepulauan Seribu serta SMA N. 69, Jakarta.

Penyair Imam Ma’arif yang bertugas selaku koordinator lapangan dan sekaligus mewakili Komite Sastra DKJ memberikan sambutan singkat. Dalam sambutannya Imam Ma’arif berharap Program Sastrawan Masuk Sekolah ini, bisa berkelanjutan dan lebih banyak para siswa dan sekolah yang terlibat. Pada akhir sambutan Imam Ma’arif menyerahkan plakat dan buku-buku dari Dewan Kesenian Jakarta kepada Kepala Sekolah SMA. N. 69 Bpk. Sugeng Prabowo.

Program Sastrawan Masuk Sekolah adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi, serta meningkatkan literasi membaca di kalangan siswa dan guru. Program ini melibatkan sastrawan yang berinteraksi langsung dengan siswa di sekolah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dan inspirasi tentang karya sastra, baik menulis cerpen, menulis puisi, maupun membaca puisi.

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Jakarta, membuat Program Sastrawan Masuk Sekolah. Program ini melibatkan 30 para sastrawan dan deklamator nasional sebagai pengampu, atau mentor, atau pengajar. Ada 15 sekolah SMA dan SMP Negeri yang masuk agenda Program Sastrawan Masuk Sekolah di Jakarta dan Kepulauan Seribu.

Pada akhir acara para penulis cerpen, dan puisi, serta pembaca puisi terbaik membacakan karyanya di depan kelas dan mereka masing-masing mendapatkan buku-buku sastra dari Dewan Kesenian Jakarta.

*Rangkuman Wawancara Herry Tany dengan Giyanto Subagio

Penulis: Herry Tany

Oleh T

Jepara kota ukir adalah slogan yang mewakili kemampuan ahli ukir warga Jepara. Kemampuan  yang sudah diakui sejak jaman Ibu Kartini menunjukkan karya ukir bernama Macan Kurung kepada Belanda yang membuat Jepara didatangi orang dari luar kota luar negeri dan ingin dibuatkan kayu ukiran indah. Baik sebagai hiasan atau sebagai mebel -mebel yang fungsional.

Pejalanan waktu industri ukir Jepara menjadi salah satu bagian perputaran ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai supllier mebel dan pengukir.

Disamping kemampuan ukir dibidang industri, beberapa ahli ukir Jepara juga melakukan banyak kegiatan untuk melestarikan hal yang berhubungan dengan ukir. Contohnya di sekolah murid diwajibkan ikut kegiatan extra ukir, ada lomba ukir tingkat SD,SMP,SMA. Ada yang membuka kursus singkat ( Workshop ) untuk grup dari sekolah luar kota atau instansi luar propinsi.

Omah Laut Bondo Jepara yang bertempat di tepi pantai Bondo Jepara juga membuka sekolah ukir dasar ditawarkan kepada tamu yang menginap atau berkunjung. Tamu lokal atau wisatawan mancanegara.

Kursus berbayar ini berdurasi 3 jam. Peserta akan disediakan panel kayu 25 x25 cm , ganden, tatah. Alat ukir dipinjami , hasil ukir bisa dibawa pulang.

Sudah 4 tahun ini kelas dibuka setiap awal musim panas sampai bulan Desember. Guru ukir adalah para ahli ukir yang akan mengajar bagaimana menggunakan pisau ukir yang berbeda untuk tiap bentuk ukiran yang berbeda. Disamping pelajaran teknis pengenalan alat juga ada pengetahuan tentang sejarah ukir, pengenalan bentuk bentuk ukir khas Jepara.

Testimoni salah satu peserta dari Perancis yang  sangat menghayati dan berkata ini bisa menjadi kontemplasi yang fun. Semoga semakin banyak lagi kelas kelas ukir di Jepara untuk pelestarian ilmu ukir dari Para ahliukir Jepara.