Oleh T

Musim hujan telah beralih ke musim panas 2025.  Pecinta dan pembuat layang-layang Jepara sudah mulai merencanakan membuat layang-layang baru atau mencari waktu di akhir pekan untuk menerbangkan layang-layang yang sudah tersedia koleksi tahun lalu. Teman-teman ini tergabung dalam komunitas Pelayang Jepara dengan nama PELANGI -Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia Cab. Jepara. Terdiri dari beberapa klub seperti klub Gunung Tumpeng, Klub Sojoyo .

Layang-layang berbentuk macam -macam. Layangan tradisional, 2 dimensi, 3 dimensi, layangan balon, layangan train naga.layangan olah raga. Layangan tradisional Jepara biasa disebut sowangan, merakan,pegon ceper, doro keplok,lodoyo, ramraman,kobronan dll. Masing-masing layangan tersebut mempunyai ciri khas dan bentuk. Ukuran yang biasa dibuat untuk layangan tradisional antara 0,5 meter sampai 2 meter. Karena sebagian besar bahan yang digunakan adalah rangka bambu dan kertas jadi apabila dibuat lebih besar ukurannya dan angin tidak mendukung akan mudah jatuh dan cepat rusak.

Layangan Tradisional dan layangan 2 Dimensi

Layangan 2 dimensi adalah layangan kreasi yang tema tidak terbatas bisa apa saja. Bahan juga dari kain parasut rangka bambu atau fiber atau kombinasi. Ukuran yang pernah dibuat paling besar 6 x 8 meter. Layangan 3 dimensi juga sama dengan 2 dimensi namun rangkanya berbeda.Layangan balon atau inflatable lebih praktis karena bisa berukuran sampai 40 meter namun bisa dilipat dan disimpan dalam tas sehingga praktis dibawa. Layangan train naga adalah layangan dengan kepala nada dengan badan yang berbentuk seperti kereta api. Panjangnya bermacam dari 20-150 meter. Adapun diameter badan naga juga bermacam dari 25- 50 cm. Layang -layang olah raga ada 2 macam yaitu layangan Stuntkite 2 tali dan layangan revo 4 tali. Ini memerlukan ketrampilan menerbangkan agar bisa menari dengan baik. Bisa dilakukan sendiri atau dengan tim lebih dari 2 orang.

Layangan 3 Dimensi

Selain setiap akhir pekan bermain layang-layang di pantai PELANGI Jepara juga telah 3 kali setiap tahun mengadakan lomba layang-layang tradisional Jepara. Semoga layang-layang menjadi sarana olah raga dan rekreasi juga ungkapan kreatifitas seni, pelestarian permainan tradisional.

Disamping mengadakan festival sendiri tingkat lokal di Jepara. Pelangi juga selalu diundang festival Nasional dan Internasional di Jogja Bali Purworejo , Malaysia Thailand India dan tempat lain, Beberapa layang-layang yang dibuat oleh pelayang Jepara sudah dibeli banyak kolektor dari luar kota dan luar negeri.

JAKARTA, Kebudayaan Rakyat , Pada tanggal 20 Mei 2025 mendatang, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) akan menggelar Diskusi Publik bertema Kebangkitan Kebudayaan Indonesia dan sekaligus melaunching Website Kebudayaan Rakyat. Acara yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke – 117 ini akan digelar di Kekini Coworking Space, Cikini, Jakarta Pusat dan dihadiri oleh para pegiat seni budaya, sastrawan dan sutradara perfilman.

Menyambut baik kegiatan tersebut, salah satu tokoh muda saat dijumpai di Jakarta sekaligus Sekretaris Jenderal Independen Wartawan Jurnalis Reporter Indonesia [ IWAJRI ] memberikan tanggapan dan sekaligus apresiasi yang tinggi atas karya aktivis JAKER berjuang memajukan kebudayaan Nusantara , melalui jaringan organisasi dan melalui jaringan media yang kini terbentuk.

“Saya mengucapkan selamat dan sukses atas kegiatan tersebut, terutama media online Kebudayaan Rakyat yang telah didirikan oleh para aktivis Jaker. Semoga dengan hadirnya website tersebut dapat lebih fokus dalam mengangkat dan mempublikasikan karya- karya kebudayaan lokal kita yang sangat majemuk,” kata Martin Uung nama yang biasa disapa sekaligus Sekjend IWAJRI, ” di kawasan Utan Kayu, Jakarta, Sabtu ( 17/5/2025).

Dikatakan Martin, bangsa Indonesia sejak lama sangat kuat dan kokoh karena dipersatukan dengan aneka ragam kebudayaan dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Aneka ragam kekayaan kebudayaan karya besar para leluhur ini, seiring perkembangan teknologi dan industri di jaman modern ini kian tergerus dan beranjak ditinggalkan serta dilupakan.

“Kita punya kekayaan budaya yang unik, baik lisan ( tutur) seperti dongeng, syair- syair dan pantun. Kita punya budaya tulisan seperti karya sastra puisi, cerita cerita kuno, hikayat dan lain lain. Kita juga punya seni budaya tarian, gong gendang, dan kita begitu banyak lagi budaya purbakala seperti rumah rumah adat, ritual ritual adat, perkawinan, kelahiran dan kematian, cara bercocok tanam, dan budaya gotong -royong, dan masih begitu banyak tradisi yang akhir-akhir ini mulai tergerus kemajuan teknologi digital yang kebarat-baratan. Semua potensi kebudayaan atau seni budaya yang langka dan unik ini harus tetap diangkat oleh JAKER sebagai sebuah entitas pewaris kebudayaan bangsa,” kata Marin.

Ke depan, lanjut dia, JAKER baik melalui organisasi dan melalui medianya harus bisa menggali, melakukan kajian dan mengadvokasi seluruh kebudayaan Nusantara yang sudah mati suri atau sudah dilupakan. Karya dari pekerjaan itu harus dipublikasikan agar diketahui oleh seluruh masyarakat dan pemerintah sehingga kemudian dapat dihidupkan lagi.

JAKER sebagai organisasi yang lahir dari peradaban Zaman perjuangan orde baru, harus memberikan dorongan yang kuat melalui media agar pemerintah segera melakukan pendataan seluruh hasil produksi kebudayaan bangsa yang dilahirkan para leluhur maupun warga negara Indonesia; kemudian harus menerbitkan Hak Cipta atas karya-karya tersebut agar tidak diklaim oleh pihak asing sebagai kebudayaan mereka.

“Kehadiran media Kebudayaan Rakyat itu sangat strategis di tengah guncangan dunia saat ini yang bukan saja diwarnai oleh perang dagang tetapi juga diwarnai oleh perang teknologi dan kebudayaan. Ada multimedia, multichannel dan Multiplatform beranekaragam di dunia jagat merasuki dunia publik kita. Oleh karena itu, saya mendorong JAKER dengan medianya harus mampu memberikan dampak nilai lebih berupa Pendidikan inovasitas bagi generasi muda bangsa, pemerintah dan masyarakat Indonesia. Jadi intinya Jaker harus berani melakukan terobosan baru melalui media dengan mengangkat isu-isu Kebangkitan budaya Indonesia agar tidak punah dan atau dirampas oleh negara lain,” tutup Martin. ( bungKR)