Ilustrasi ucapan selamat Hari Permempuan Internasional oleh Ketum JAKER (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Untuk perempuan-perempuan tangguh,
yang masih terjebak berjalan dalam bayang-bayang kegelapan namun tetap menjaga nyala harapan di dalam hatinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap langkahmu adalah keberanian,
setiap luka yang kau sembuhkan adalah kekuatan,
dan setiap mimpi yang kau perjuangkan adalah cahaya bagi dunia.

Di satu bumi yang kita pijak bersama,
marilah terus menumbuhkan nilai luhur:
Saling Asah dalam pengetahuan,
Saling Asuh dalam kepedulian,
dan Saling Asih dalam kasih yang memanusiakan.

Karena ketika perempuan saling menguatkan,
dunia tidak hanya menjadi lebih adil
tetapi juga lebih terang.

Selamat Hari Perempuan Internasional.

Cahaya kita adalah harapan bagi semesta. ✨

Annisa Lituhayu

Ilustrasi penyembah batu (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Batu gunung
Gunung batu
Jangan biarkan kami membatu
Malin Kundang pun tak ingin membatu

Monumen-monumen batu
Candi-candi
Batu-batu Menhir.
Jangan biarkan otak batu meratui dunia yang tak ingin membatu

AJ Susmana; Kota Batu, 3 Mei 2025

Ilustrasi dua sahabat lama, tengah menimbang nasib negeri ini (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Sorang Karib sejak jaman Ganyang Malaysia
Menulis keluhnya
Dalam Surat Singkat lewat layar kaca
” Mas, makin hari makin nelongso rasanya
Jadi WNI,
Tak lagi berani berharap,
Tak lagi berani bermimpi……”

“Tapi dik, kan kamu belum putus asa,
Seperti membasmi rayap di dalam rumah.
Pohon yang kurus jangan ditebang,
Bersihkan saja benalunya.”

“Nasehat klasik mas.
Sudah susah membedakan,
Mana pohon,mana benalu.”

“Ada yang bilang, akar benalu
Bisa untuk mengobati kanker.”

“OOO begitu mas,
Negeri kita sudah kena kanker?
Sudah stadium berapa mas?”

Aku terdiam :
Memikirkan cara mengobatinya.*

(Putu Oka Sukanta, Rmangun,12.02.26)

Ilustrasi kota mati (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Karya: Pius Apenobe

Dan semuanya adalah mati
Pohon kering
Hijau slogan penuhi saja
Menjulang tinggi tak bertepi
Rumput kering
Hujan awet tanah tandus
Dan semuanya mati
Ada burung terbang
Jatuh sayap sebelah
Namun tuannya buta
Sibuk memberi makan ulat dan hama
Kota ini mati
Semunya mati
Mati rasa
Mati akal
Mati matian
Sibuk dengan akal
Akal akalan para pemain
Kota ini mati

Jumad 6/02/2026

Tentang Penulis:

Foto Pius Apenobe (Sumber: Dokumen Redaksi)

Pius Apenobe
Lahir 29 april 1986
Hoby menulis sejak SMA
Sudah ratusan puisi yang ditulis cuma banyak yang belum dipublikasikan. Hampir semua tulisan adalah gambaran kondisi real yang sedang dihadapi.
Ig : @apenobepius
Fb : Pius Apenobe

Ilustrasi ruang belajar yang gagal membaca kelelahan seorang anak (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Seorang anak meninggal,
sementara sistem tetap berjalan
tanpa jeda.

Di meja kebijakan,
tidak ada kolom
untuk rasa putus asa.
Tidak ada indikator
untuk anak yang terlalu lelah
menjadi kuat.

Sekolah mengajar,
namun tidak selalu menjaga.
Program hadir,
namun tidak selalu mendekat.

Sekolah Rakyat ada,
namun sering diperlakukan
sebagai tambahan,
bukan kebutuhan.
Padahal di sanalah
pencegahan seharusnya dimulai.

Kita rajin memperbaiki yang terlihat,
namun abai pada yang terluka.
Dan selama itu dibiarkan,
anak-anak akan terus belajar satu hal:
bahwa sunyi lebih aman
daripada meminta tolong.

Prima Bahren – JAKER Kota Kupang

Banjir dan kerusakan ekologis di Sumatera: jejak deforestasi, hujan ekstrem, dan kelalaian struktural yang terus menagih tanggung jawab manusia (Sumber Gambar: Ilustrasi Digital Berbasis AI)

Januari hujan curah air mata
Bah lumpur dan pepohonan
Menggerus kampung dan harapan
Perampokan hutan
Di Sumatera dan lain lain.
Perampoknya masih berkeliaran.

Hujan dimana-mana
Air tumpah ruah
menuntut manusia.

Perampok belum diadili
Pemiskinan kian menjadi.*

(Putu Oka Sukanta,
Rmangun,31.01.26)

Salam perjuangan dari Jakarta 1945 dan Bandung 1955 untuk Venezuela—gema anti-kolonialisme, kedaulatan bangsa, dan hak menentukan nasib sendiri yang tak pernah padam (Sumber Gambar: Ilustrasi AI, terinspirasi puisi “Salam Untuk Venezuela Dari Jakarta Agustus 1945 Bandung April 1955” karya Petradipantara K.)

Puisi: Petradipantara K.
Salam dari Jakarta Agustus 1945,
dan Bandung April 1955 untuk Venezuela.
90 patriot dan compatriot Bolivarian.
Rebah ke bumi, darahnya memetraikan semangat pembebasan. Hak menentukan nasib sendiri.
Daulat negeri, Ooo Simon Bolivar.
“Kemerdekaan ialah HAK segala bangsa,
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”
Siapakah yang memberi mereka hak, untuk menyerbu, menginvasi, dan ingin mengatur negeri merdeka berdaulat?
Piagam “Self of Determination” dirobek-robek,
Disebar-hamburkan ke tanah dan lalu dikencingi.
Siapa berani berkata: kolonialisme dan imperialisme sudah berhasil dihancurkan? Siapa?
Dasa Sila Bandung pernah lantang berteriak: “Enyahkan Neokolonialisme dan Neoimperialisme!”
Semua bangsa berdiri sama tinggi
Bekerja bersama menegakkan satu mimpi bersama.
Masa depan adil sejahtera untuk anak manusia sedunia.
Tidak ada negara tuan, tidak ada negara para budak.

Salam untuk Bapak Bangsa Amerika Selatan.
mengapa wajahmu nampak murung, dibakar geram
ooh Bolivar, Simon Bolivar?
Justeru ketika setelah 2 ¼ abad kau istirahat dalam abadi
Sepertinya kau hidup dan bangkit kembali!
Sosokmu membayang, menunggang kuda perkasa
memanggul senapan tua, berselempang peluru di pundak sampai ke dada
memacu kuda, mengitari tanah-tanah seantero Karibia.
Pekik teriakmu mengetarkan hati anak-anak benua
Menggema sejagat raya:
Morir es vivir, si se muere por la patria.”
Dan para anak-anakmu menjawabnya: “Aluta continua. La Puerta de la Muerte!”
Sejarah berulang.
Nampaknya engkau,
untuk kedua kali,
harus bertarung kembali.

Indonesia, Desember 2025 – Januari 2026

Karya: Irfan (Ketua PRIMA NTB)

Di halaman-halaman sunyi itu,
terdengar gema masa lalu—
kisah tentang keberanian yang tak ditulis dengan pedang,
melainkan dengan tekad manusia menghadapi takdir besar.

Menghadang Kubilai Khan bukan sekadar cerita perang,
tetapi cermin tentang diri kita sendiri:
tentang batas yang diuji,
tentang takut yang dihadapi,
tentang suara kecil yang menantang gemuruh kekuasaan.

Setiap tokoh berjalan membawa beban sejarah,
namun juga membawa cahaya pilihannya.
Mereka bukan hanya menentang seorang kaisar,
melainkan menolak tunduk pada rasa menyerah
yang sering datang lebih dulu daripada bahaya.

Di antara lembaran itu,
kita belajar bahwa menghadang bukan selalu menang,
tetapi berdiri ketika dunia meminta untuk berlutut.
Bahwa kekuatan sejati tumbuh
dari keberanian menatap ancaman,
meski tubuh gemetar sekalipun.

Dan ketika buku itu ditutup,
kita pun bertanya pada diri sendiri:
apa yang hari ini harus kita hadang?
Ketakutan?
Keraguan?
Atau sejarah kecil yang sedang kita tulis perlahan
dengan tangan kita sendiri?

Keterangan Gambar Utama: Foto Irfan, Ketua Prima NTB (Sumber: Reportase7.com)

Foto Primus Padakari (Koleksi Pribadi)

Karya: Primus Padakari

Selamat ulang tahun Wiji
Apa kabar kamu sekarang Wiji
Dimanakah kamu kini
Saya ingin mendengarkan kamu membacakan puisi
Yang berbunyi seperti serangan senjata api
Sebab puisi mu adalah inti sari nadi

Kau pergi tanpa pamit dan tidak diketahui
Hilang oleh mata terkubur bumi
Datanglah membela hak kami
Jangan tertidur dalam sepi

Misteri mu itu selalu teringat dalam hati
Kau adalah martir yang rela mati
Lenyap bersamayam dengan lahirnya reformasi
Menjadi mangsa orde baru yang keji

Wiji
Mata satu ada pada saya untuk tetap berpuisi
Meski jantung mu tak lagi berdetak di negeri ini
Kata lawan mu dipakai saya untuk terus menghantui
Menikam mati para pejabat berdasi

Selamat ulang tahun Wiji
Bait demi bait saya coret berkali-kali
Untuk mengenang hari lahir mu ini
Dengan ucapan dari relung hati
Sambil lantunkan doa pada sang gusti
Agar kau mendapatkan kedamaian abadi
Serta kebebasan di surga yang hakiki

Foto Arahmaiani (kebudayaanrakyat.com)

Karya: Arahmaiani

Nyanyian Kemerdekaan Emas
Para elit penguasa
Di panggung politik
Terdengar merdu dan syahdu

Sementara rakyat
Yang jadi penonton
Terbengong dan bingung
Cemas menghadapi kenyataan

Diterpa badai penderitaan
Kemiskinan meluas
Kehilangan pekerjaan
Dan bahkan kelaparan

Lahan dilanda baniir bandang
Diserbu gempa
Juga bisa disita
Jika penguasa menghendakinya

Lingkungan hancur berantakan
Hutan dibakar dan dibabat
Dijadikan kebun kelapa sawit
Tambang emas, nikel dan batubara

Harga kebutuhan melonjak
Dan pajak nanjak
Budaya korupsi penguasa
Malah merajalela!

Akan diarahkan kemana
Dan dijadikan apa?
Negara yang konon Merdeka
Sejak tahun 1945

Elit lokal nasional
Ternyata berpesta-pora
Dengan penguasa global
Di panggung dunia

Berdansa bersama
Merayakan perampokan laba
Di lahan tragedi
Rakyat nelangsa

Merayakan penjajahan
Yang berkelanjutan
Menginjak-injak hak
Dan kedaulatan rakyat

Melahirkan petaka sengsara
Mengancam kebersatuan
Saling curiga tidak percaya
Mengakibatkan kehancuran negara

Lalu apakah kita akan menyerah?
Mengabdi kepada mafia
Tak peduli lagi
Apa makna Merdeka sebenarnya

Kemandirian warisan budaya leluhur
Sudah dihapus penjajah asing dan nasional
Dari ingatan para penghuni
Tanah yang kaya dan subur ini

Yogyakarta, Agustus 2025