Foto Prima Bahren (Koleksi Pribadi)

Karya: Prima Bahren

Di tangan para ibu di TIROSA
Timor, Rote, Sabu, Alor dan Sumba
masa lalu ditenun jadi harapan.
Bukan sekadar kain
tapi warisan yang menolak untuk dilupakan.
Cerita rakyat tak lagi membisu,
kini berlayar di layar kaca, bersuara dalam digital.
Legenda kita kini hadir
di ruang-ruang global yang dulu asing.
Dari kriya jadi karya,
dari dapur desa ke panggung dunia.
Motif tradisi bukan lagi aksen,
tapi identitas yang berani bersaing.
Negara pun hadir
melindungi hak, memberi ruang,
membuka jalan bagi mereka
yang menjadikan budaya menjadi hidup.
Di sekolah dan layar anak-anak,
budaya tak hanya dikenang
tapi dialami, di dalami serta dimaknai,
dengan teknologi sebagai jembatannya.
Dan saat dunia menoleh ke Nusantara,
kita tak sekadar tampil,
tapi menyapa dengan cerita sendiri,
dalam bahasa yang berakar dan berani.
Hilirisasi budaya
bukan menjual jati diri,
melainkan menjadikannya
nafas panjang menuju Indonesia yang lestari.
Kupang, 23 Juli 2025

Foto Jack Albantani (Koleksi Pribadi)

Karya: Jack Albantani

Di tanah ini, akar tumbuh dari cerita,
dari nyanyian laut, hutan, dan langit senja.
Di setiap anyaman, ukiran, dan mantra,
terpatri jejak leluhur yang tak lekang oleh masa.

Kita bukan sekadar pewaris pusaka,
tapi penempa jalan dari warisan menjadi daya.
Budaya tak lagi diam di rak sejarah,
ia bergerak, hidup, dan menjelma arah.

Lagu daerah menjelma simfoni dunia,
batik dan tenun jadi wajah diplomasi kita.
Cerita rakyat menembus layar sinema,
tari tradisi menjejak panggung mancanegara.

Inilah hilirisasi makna yang sejati,
bukan hanya menjual, tapi memaknai kembali.
Mengolah warisan menjadi visi,
menjahit masa depan dengan benang jati diri.

Nusantara berkarya, dari pelosok desa hingga kota,
menggerakkan mesin emas bernama budaya.
Dan kelak, saat cahaya cita menyala,
Indonesia berjaya — karena tak lupa siapa dirinya
Semoga dan barangkali saja …

Foto Prima Bahren (Koleksi Pribadi)

Karya: Prima Bahren

Di bawah cahaya mentari timur,
tangan-tangan tua menenun waktu
bukan sekadar kain,
tapi sejarah yang ingin terus hidup.
Cerita rakyat tak lagi hanya didongengkan,
tapi disulap jadi layar,
bergerak dalam animasi dan irama digital,
menyeberangi benua, menembus batas bahasa.
Motif tradisi, aroma dapur nenek moyang,
diangkat dalam kemasan baru
ekonomi kreatif seharusnya tumbuh dari akar,
bukan dari tiruan.
Negara melindungi bukan hanya nama,
tapi juga makna.
Dengan hukum, insentif, dan ruang yang adil,
budaya tak dijual namun wajib dijunjung.
Dan anak-anak kita?
Belajarlah bukan dari buku asing,
tapi dari warisan yang kini hidup
dalam dunia nyata dan maya.
Hilirisasi bukan sekadar arah,
ia adalah cara,
cara agar masa depan lahir
dari nilai yang tak pernah punah.

Kupang 23 Juli 2025

Foto Junior Ternama Siahaan (Koleksi Pribadi)

Karya: Junior Ternama Siahaan

Kawan semua
Kawan yang jauh
Kawan yang dekat
Agustus telah tiba
Aku baru saja pulang dari Pasar dengan Kereta sederhana
Suasana sudah berubah
Tak seperti bulan sebelumnya
Batang-batang Bambu
Umbul umbul
Warna warni kain memanjang vertikal
Telah mempengaruhi ruang rasa
Tak terpenjara
Telah keluar dari jeruji besi berkarat
Terlaksana
Sang Dwi Warna pun menyambut dengan gembira
Dengan perasaan bebas
Hati yang merdeka
Aku tak begitu gembira
Terbaring seorang Bapa tua
Di depan Ruko
Rumah megah
Teras sebuah Rumah
Bebas Merdeka
Merdeka Bebas
Bebas
Merdeka
Bebas
Merdeka
Sela
Jakarta, 1 Agustus 2025

Tentang Penulis:

Junior Ternama Siahaan, Seorang Perantau Pikiran dan Buruh di Ibu Kota Jakarta. Berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara. Menuangkan semua kegelisahan ke dalam syair-syair puisi.

Foto Eka Subakti (Koleksi Pribadi)

Karya: Eka Subakti

Biji yang kau sebar di sekitar tembok tirani kini tumbuh menawan
Akar nya kuat menopang batang perubahan zaman
Batang nya kokoh berdiri bersama ranting dedaunan
Biji biji itu berbuah manis, cipta rasa sama di suarakan
Subur lah subur nyanyian tanah, sorak Sorai riang gembira
Benih tumbuh bersama sekalian alam raya dunia nyata Setiap tempat adalah rupa dengan wujud yang berbeda namun tetap satu tujuan nya adalah rasa

Biji biji itu menegadah menatap akar, batang, ranting, daun setiap hari
Berkata ia kepada tanah, kepada air, angin dan matahari
Kami tetap berdiri tegak, patah tumbuh hilang berganti
Biji biji itu berbuah manis, tetap lestari dan berdikari.

22 Juli 2025

Tentang Penulis:

Eka Subakti, Lahir di Palembang 21 September 1975. Mulai terlibat dalam gerakan demokratik pada 1998. Jaringan Kebudayaan Rakyat adalah organisasi pertama yang di ikuti pada awal pendirian JAKER di kota Palembang pada tahun 1999 dan bersama 9 aktivis melancarkan aksi longmarch dari jalan Bangka Bukit Besar menuju panggung teaterikal di depan Markas KODAM II Sriwijaya, protes rencana melawan rancangan undang undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) pada tahun 2000. Bersama aktivis mahasiswa dari KOMPI dan SMPD mendirikan LMND Palembang pada konferkot akhir 2000. Tahun 2001, mendapat penugasan membangun Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia Sumsel hingga 2003 bertugas memimpin Serikat Tani Nasional Sumsel dan pada tahun 2006 bertugas memimpin KPW PRD Sumsel hingga 2014.

Foto Nadia Edawarma (Koleksi Pribadi)

(Puisi Kultural – Minangkabau)

Karya: Nadia Edawarma (Sekretaris JAKER Sumbar)

Di ujung senja ranah yang lengang,
di bawah rindang ruyuang dan sirih segagang,
lahir gadih dalam rumah gadang,
belum pandai bersisir, belum kenal padang.

Ibunya bukan perempuan kota,
tapi tangannya menyulam pagi dari bara.
Langkahnya menyusuri pasar-pasar basah,
dengan doa yang tertinggal di tikar sejadah.

Bundo, bukan sekadar panggilan manja,
ia tungku nan tigo sajarangan penjaga pusako pusaka,
marwah rumah dibawanya dalam diam,
suaranya pelan tapi pantang padam.

Ia tidak memeluk anaknya dengan pelukan wangi,
tapi menyuap nasi dari keringat pagi.
Ia tidak mengajarkan rias di pipi,
tapi menanam malu dan hati-hati.

Bundo Kanduang, penjaga adat,
yang ditanam dalam darah dan dijaga dalam ingatan.
Ia tidak menuntut anak jadi cantik,
tapi kuat, bijak, dan tak gampang goyang saat angin kritik.

Gadih itu tumbuh, tak tahu cara mengepang,
tapi ia tahu kapan harus diam dan kapan berkata lantang.
Karena bundo mengajarkannya bukan lewat lisan,
tapi lewat langkah, lewat tatap, lewat ketabahan.

Bundo Kanduang bukan hanya ibu,
ia tampek batido, induak samang, nan dipatuah ditiru.
Dalam tubuhnya bersemayam rahasia tanah,
bahwa perempuan Minang bukan pelengkap, tapi penentu arah.

Padang, 2025

Tentang Penulis:

Nadia Edawarma adalah perempuan Minang yang menjadikan kata sebagai cara menjaga akar. Tumbuh di lingkungan sederhana yang sarat nilai, ia mengenal dunia melalui pengamatan, perenungan, dan cerita-cerita yang tak selalu terdengar.

Kecintaannya pada sastra dan budaya membawanya pada jalan ganda: menulis puisi sebagai cermin rasa, dan meneliti kebudayaan serta identitas etnik sebagai bentuk keberpihakan pada yang nyaris terlupakan.

Bagi Nadia, menulis adalah upaya merawat ingatan, menyuarakan yang tersisih, dan menjahit ulang hubungan manusia dengan tanah asalnya. Ia percaya, menuju masa depan emas Indonesia berarti tak kehilangan jejak di tanah sendiri

Foto Siti Nur Aisyah (Koleksi Pribadi)

Karya: Siti Nur Aisyah

Di atas pasir yang menghitam,
air mata bumi tumpah tanpa henti.
Suara nelayan tercekik di angin,
mencari keadilan yang tenggelam di teluk ambisi.
Bukankah pernah ada sabda,
“Yang lapar akan kebenaran akan dipuaskan?”
Tapi kini, mereka lapar bukan hanya akan kebenaran,
melainkan akan tanah yang direnggut,
akan laut yang dibentengi pagar rakus oligarki.
Jeritan sawah, jeritan tambak,
tertahan di tenggorokan rakyat kecil.
“Di mana kasih yang dulu dijanjikan?
Mengapa tangan manusia menghunus pedang,
merobek nadi kehidupan di bumi ini?”
Di balik gemerlap gedung megah,
tangan-tangan kotor menyulam ketamakan.
Apakah semua ini untuk mereka,
atau untuk para raja yang mabuk kuasa?
Namun kami percaya,
keadilan tak bisa terus dikubur dalam debu.
Seperti badai yang menggulung kesunyian,
kebenaran akan bangkit, mengguncang takhta kezaliman.
Kami adalah suara yang tak terpadamkan,
perahu kecil yang menantang ombak keserakahan.
Dengan harapan sebagai dayung, dan perjuangan sebagai layar,
kami akan menembus gelap hingga cahaya kebenaran hadir.
Hidup rakyat yang berjuang!
Hidup bumi yang setia melawan penghancuran!

Tentang Penulis:

Siti Nur Aisyah (Aca) adalah seorang aktivis muda yang menulis dari luka dan harapan. Ia hadir di ruang-ruang sunyi, mencoba mengubah marah menjadi makna, dan menjadikan keberpihakan sebagai arah hidup.

Fokus pada isu-isu perempuan, pendidikan, dan keadilan sosial, Aca aktif dalam gerakan mahasiswa serta organisasi rakyat. Ia dikenal lewat gagasannya yang kritis dan komitmennya dalam membangun ruang aman bagi perempuan dan anak.

Baginya, menjadi perempuan adalah keberanian untuk tetap tumbuh meski dunia tak selalu ramah. Ia percaya bahwa perubahan dimulai dari keberanian bersuara dan keberpihakan pada mereka yang tertindas.

Foto Jack Albantani (Koleksi Pribadi)

Karya: Jack Albantani (Ketua JAKER Kabupaten Tangerang)

Tiga puluh dua tahun,
kita bukan sekadar angka,
kita luka yang tak menyerah,
kita bara yang tak padam diterpa angin sejarah.

Di lorong-lorong kota,
di sawah yang digusur,
kita menulis sajak di dinding perlawanan,
membangun mimpi dari serpihan harapan

Bara ini bukan bara biasa—
ia adalah nyala dari suara yang lama dibungkam,
ia hidup dari nyali yang tak pernah diam,
ia menyala dari cinta yang tak lelah merawat akar.

Ada yang bilang: budaya itu mati.
Tapi kita tahu, ia hanya bersembunyi
di dada para petani, nelayan,
di lagu-lagu buruh,
di langkah mahasiswa yang turun ke bumi.

Tiga dekade dan dua tahun,
kita tetap menyusun kata jadi senjata,
menganyam seni jadi suara rakyat,
merawat yang rapuh, membela yang nyaris musnah.

Kita masih di sini—
bukan untuk dikenang,
tapi untuk terus menyala.
Karena menjaga bara perjuangan
adalah cara kita mencintai Indonesia yang belum selesai

Tentang Penulis:

Nama: Jack Albantani
Jabatan: Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Tangerang
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta 12 Maret 1973

Jack Albantani adalah sosok penggerak kebudayaan yang telah lama aktif dalam berbagai kegiatan seni dan sosial di Kabupaten Tangerang. Ia menjabat sebagai Ketua JAKER Kabupaten Tangerang sejak 2024 dan dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan keberdayaan komunitas melalui seni, literasi, dan pelestarian budaya lokal.

Di bawah kepemimpinannya, JAKER aktif membangun kolaborasi antara seniman, komunitas, pelajar, serta pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi kebudayaan daerah. Jack dikenal dengan pendekatannya yang inklusif dan progresif, menjadikan JAKER sebagai ruang ekspresi yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat.

Melalui berbagai program seperti pentas budaya, diskusi publik, dan pelatihan kreatif, Jack Albantani terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan merawat warisan budaya Nusantara.

Foto Margiyono (Koleksi Pribadi)

Karya: Margiyono

Kami hanyalah butiran-butiran biji
Yang dibawa angin tak tahu ke mana arahnya
Kami hanya butiran-butiran biji
Yang dibawa burung terbang tak tau ke mana dijatuhkan
Kami kecil-kecil
Menyebar
Bertunas
Mengakar
Berbunga
Berbuah
Dan melahirkan lebih banyak biji
Terus tumbuh membiak
Menghijaukan tanah gersang
Menyejukkan udara panas

Kami hanyalah biji-biji
Kami bukanlah pahlawan
Kami hanya tumbuh bersama
Dan memberi guna

Tentang Penulis: Margiyono seorang petani. Tidak tahu tentang sastra. Penah menjadi wartawan.

Foto Prima Bahren (Koleksi Pribadi)

Karya: Prima Bahren

Pernahkah kau dengar suara puisi
yang tak lahir dari buku-buku toko kota
Pernahkah kau temukan sajak bukan di festival sastra
tapi di tembok reot di ladang gersang
di nafas buruh
yang tak pernah dimuat media-media
ada yang namanya Jaker
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat
ia tak lahir dari meja konfrensi
tak diasuh oleh elit budaya yang sibuk menilai estetika
tapi lahir dari pangkal akal
dari keringat petani yang mengukir syair lewat sabit
dari langkah buruh yang mengguncang lantai pabrik
dan menyisakan bait-bait diam
yang menunggu untuk didengarkan
kami tak menulis demi lomba
kami tak melukis untuk galeri
kami mencipta karena hidup perlu disuarakan
karena keadilan belum juga menjadi warna harian
dan kami seniman-seniman jalanan
penghayat filsafat warung kopi
masih juga bertanya siapa yang mewakili kami
kalau bukan kami sendiri
dulu ada lekra
yang lahir di tangan kemerdekaan yang masih luka
yang percaya bahwa seni harus berpihak
bahwa kata-kata bukan sekedar indah
tapi harus berani, berani mengutuk ketidak adilan
berani membela yang tertindas.
dan kini jaker adalah bayangannya yang tumbuh
lebih lentur lebih menyebar mengakar di kampung
di dusun di komunitas yang tak dilirik siapa siapa
kami datang bukan untuk memimpin
kami datang untuk mendengar untuk bergandengan
untuk membangun jembatan bagi mereka yang diabaikan
kami bukan pengisi acara kami adalah suara
kami adalah denyut kebudayaan itu sendiri
satu yang saya tau
karna budaya hanya berarti jika ia hidup
di tangan rakyat
selamat ulang tahun ke-32
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat.
salam pembebasan !

kupang, 16 Juli 2025

Tentang Penulis:

Prima Gaida Journalita adalah seorang aktivis sosial yang lahir di Dili pada 1 Januari 1984 dan kini berdomisili di Penkase Oeleta, Alak, Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Meski berlatar belakang pendidikan SLTA, Prima memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan masyarakat sipil di Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2003, ia aktif dalam berbagai organisasi dan advokasi, mulai dari keterlibatannya di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang dan Serikat Petani Manggarai pada tahun 2003, hingga menjadi relawan disabilitas di organisasi Garamin NTT sejak 2022 hingga sekarang.
Kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan inklusi terus berlanjut. Ia pernah terlibat dalam kegiatan Peduli HIV/AIDS, serta aktif sebagai wakil ketua Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) Kasih di Naikoten 1 sejak 2023.

Saat ini, Prima menjabat sebagai Bendahara JAMAN (Jaringan Kemandirian Rakyat) NTT, Ketua JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat) Kota Kupang, serta pembina komunitas KOMPUTER (Komunitas Perempuan Terdidik) kota kupang. Ia juga menjadi bagian dari tim asesmen 12 puskesmas dari 26 Puskesmas di Kabupaten Kupang dalam perspektif GEDSI, fokus pada program WASH dan energi yang didukung oleh UNICEF. Ia juga sejak menjadi disabilitas 2020 karena kecelakaan tunggal, aktif di berbagai kegiatan pemberdayaan disabilitas, yang dibawahi oleh organisasi Garamin NTT serta beberapa isu kekerasan seksual pada perempuan dan anak, pemberdayaan perempuan, Perubahan iklim dan lain sebagainya.
Prima dapat dihubungi melalui media sosial: Facebook (@Prima Gaida Journalita), X/Twitter (@Prima Gaida Journalita), dan email: bahren84@gmail.com.