Foto Nadia Edawarma (Koleksi Pribadi)

(Puisi Kultural – Minangkabau)

Karya: Nadia Edawarma (Sekretaris JAKER Sumbar)

Di ujung senja ranah yang lengang,
di bawah rindang ruyuang dan sirih segagang,
lahir gadih dalam rumah gadang,
belum pandai bersisir, belum kenal padang.

Ibunya bukan perempuan kota,
tapi tangannya menyulam pagi dari bara.
Langkahnya menyusuri pasar-pasar basah,
dengan doa yang tertinggal di tikar sejadah.

Bundo, bukan sekadar panggilan manja,
ia tungku nan tigo sajarangan penjaga pusako pusaka,
marwah rumah dibawanya dalam diam,
suaranya pelan tapi pantang padam.

Ia tidak memeluk anaknya dengan pelukan wangi,
tapi menyuap nasi dari keringat pagi.
Ia tidak mengajarkan rias di pipi,
tapi menanam malu dan hati-hati.

Bundo Kanduang, penjaga adat,
yang ditanam dalam darah dan dijaga dalam ingatan.
Ia tidak menuntut anak jadi cantik,
tapi kuat, bijak, dan tak gampang goyang saat angin kritik.

Gadih itu tumbuh, tak tahu cara mengepang,
tapi ia tahu kapan harus diam dan kapan berkata lantang.
Karena bundo mengajarkannya bukan lewat lisan,
tapi lewat langkah, lewat tatap, lewat ketabahan.

Bundo Kanduang bukan hanya ibu,
ia tampek batido, induak samang, nan dipatuah ditiru.
Dalam tubuhnya bersemayam rahasia tanah,
bahwa perempuan Minang bukan pelengkap, tapi penentu arah.

Padang, 2025

Tentang Penulis:

Nadia Edawarma adalah perempuan Minang yang menjadikan kata sebagai cara menjaga akar. Tumbuh di lingkungan sederhana yang sarat nilai, ia mengenal dunia melalui pengamatan, perenungan, dan cerita-cerita yang tak selalu terdengar.

Kecintaannya pada sastra dan budaya membawanya pada jalan ganda: menulis puisi sebagai cermin rasa, dan meneliti kebudayaan serta identitas etnik sebagai bentuk keberpihakan pada yang nyaris terlupakan.

Bagi Nadia, menulis adalah upaya merawat ingatan, menyuarakan yang tersisih, dan menjahit ulang hubungan manusia dengan tanah asalnya. Ia percaya, menuju masa depan emas Indonesia berarti tak kehilangan jejak di tanah sendiri

Foto Siti Nur Aisyah (Koleksi Pribadi)

Karya: Siti Nur Aisyah

Di atas pasir yang menghitam,
air mata bumi tumpah tanpa henti.
Suara nelayan tercekik di angin,
mencari keadilan yang tenggelam di teluk ambisi.
Bukankah pernah ada sabda,
“Yang lapar akan kebenaran akan dipuaskan?”
Tapi kini, mereka lapar bukan hanya akan kebenaran,
melainkan akan tanah yang direnggut,
akan laut yang dibentengi pagar rakus oligarki.
Jeritan sawah, jeritan tambak,
tertahan di tenggorokan rakyat kecil.
“Di mana kasih yang dulu dijanjikan?
Mengapa tangan manusia menghunus pedang,
merobek nadi kehidupan di bumi ini?”
Di balik gemerlap gedung megah,
tangan-tangan kotor menyulam ketamakan.
Apakah semua ini untuk mereka,
atau untuk para raja yang mabuk kuasa?
Namun kami percaya,
keadilan tak bisa terus dikubur dalam debu.
Seperti badai yang menggulung kesunyian,
kebenaran akan bangkit, mengguncang takhta kezaliman.
Kami adalah suara yang tak terpadamkan,
perahu kecil yang menantang ombak keserakahan.
Dengan harapan sebagai dayung, dan perjuangan sebagai layar,
kami akan menembus gelap hingga cahaya kebenaran hadir.
Hidup rakyat yang berjuang!
Hidup bumi yang setia melawan penghancuran!

Tentang Penulis:

Siti Nur Aisyah (Aca) adalah seorang aktivis muda yang menulis dari luka dan harapan. Ia hadir di ruang-ruang sunyi, mencoba mengubah marah menjadi makna, dan menjadikan keberpihakan sebagai arah hidup.

Fokus pada isu-isu perempuan, pendidikan, dan keadilan sosial, Aca aktif dalam gerakan mahasiswa serta organisasi rakyat. Ia dikenal lewat gagasannya yang kritis dan komitmennya dalam membangun ruang aman bagi perempuan dan anak.

Baginya, menjadi perempuan adalah keberanian untuk tetap tumbuh meski dunia tak selalu ramah. Ia percaya bahwa perubahan dimulai dari keberanian bersuara dan keberpihakan pada mereka yang tertindas.

Foto Jack Albantani (Koleksi Pribadi)

Karya: Jack Albantani (Ketua JAKER Kabupaten Tangerang)

Tiga puluh dua tahun,
kita bukan sekadar angka,
kita luka yang tak menyerah,
kita bara yang tak padam diterpa angin sejarah.

Di lorong-lorong kota,
di sawah yang digusur,
kita menulis sajak di dinding perlawanan,
membangun mimpi dari serpihan harapan

Bara ini bukan bara biasa—
ia adalah nyala dari suara yang lama dibungkam,
ia hidup dari nyali yang tak pernah diam,
ia menyala dari cinta yang tak lelah merawat akar.

Ada yang bilang: budaya itu mati.
Tapi kita tahu, ia hanya bersembunyi
di dada para petani, nelayan,
di lagu-lagu buruh,
di langkah mahasiswa yang turun ke bumi.

Tiga dekade dan dua tahun,
kita tetap menyusun kata jadi senjata,
menganyam seni jadi suara rakyat,
merawat yang rapuh, membela yang nyaris musnah.

Kita masih di sini—
bukan untuk dikenang,
tapi untuk terus menyala.
Karena menjaga bara perjuangan
adalah cara kita mencintai Indonesia yang belum selesai

Tentang Penulis:

Nama: Jack Albantani
Jabatan: Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Tangerang
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta 12 Maret 1973

Jack Albantani adalah sosok penggerak kebudayaan yang telah lama aktif dalam berbagai kegiatan seni dan sosial di Kabupaten Tangerang. Ia menjabat sebagai Ketua JAKER Kabupaten Tangerang sejak 2024 dan dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan keberdayaan komunitas melalui seni, literasi, dan pelestarian budaya lokal.

Di bawah kepemimpinannya, JAKER aktif membangun kolaborasi antara seniman, komunitas, pelajar, serta pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi kebudayaan daerah. Jack dikenal dengan pendekatannya yang inklusif dan progresif, menjadikan JAKER sebagai ruang ekspresi yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat.

Melalui berbagai program seperti pentas budaya, diskusi publik, dan pelatihan kreatif, Jack Albantani terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan merawat warisan budaya Nusantara.

Foto Margiyono (Koleksi Pribadi)

Karya: Margiyono

Kami hanyalah butiran-butiran biji
Yang dibawa angin tak tahu ke mana arahnya
Kami hanya butiran-butiran biji
Yang dibawa burung terbang tak tau ke mana dijatuhkan
Kami kecil-kecil
Menyebar
Bertunas
Mengakar
Berbunga
Berbuah
Dan melahirkan lebih banyak biji
Terus tumbuh membiak
Menghijaukan tanah gersang
Menyejukkan udara panas

Kami hanyalah biji-biji
Kami bukanlah pahlawan
Kami hanya tumbuh bersama
Dan memberi guna

Tentang Penulis: Margiyono seorang petani. Tidak tahu tentang sastra. Penah menjadi wartawan.

Foto Prima Bahren (Koleksi Pribadi)

Karya: Prima Bahren

Pernahkah kau dengar suara puisi
yang tak lahir dari buku-buku toko kota
Pernahkah kau temukan sajak bukan di festival sastra
tapi di tembok reot di ladang gersang
di nafas buruh
yang tak pernah dimuat media-media
ada yang namanya Jaker
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat
ia tak lahir dari meja konfrensi
tak diasuh oleh elit budaya yang sibuk menilai estetika
tapi lahir dari pangkal akal
dari keringat petani yang mengukir syair lewat sabit
dari langkah buruh yang mengguncang lantai pabrik
dan menyisakan bait-bait diam
yang menunggu untuk didengarkan
kami tak menulis demi lomba
kami tak melukis untuk galeri
kami mencipta karena hidup perlu disuarakan
karena keadilan belum juga menjadi warna harian
dan kami seniman-seniman jalanan
penghayat filsafat warung kopi
masih juga bertanya siapa yang mewakili kami
kalau bukan kami sendiri
dulu ada lekra
yang lahir di tangan kemerdekaan yang masih luka
yang percaya bahwa seni harus berpihak
bahwa kata-kata bukan sekedar indah
tapi harus berani, berani mengutuk ketidak adilan
berani membela yang tertindas.
dan kini jaker adalah bayangannya yang tumbuh
lebih lentur lebih menyebar mengakar di kampung
di dusun di komunitas yang tak dilirik siapa siapa
kami datang bukan untuk memimpin
kami datang untuk mendengar untuk bergandengan
untuk membangun jembatan bagi mereka yang diabaikan
kami bukan pengisi acara kami adalah suara
kami adalah denyut kebudayaan itu sendiri
satu yang saya tau
karna budaya hanya berarti jika ia hidup
di tangan rakyat
selamat ulang tahun ke-32
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat.
salam pembebasan !

kupang, 16 Juli 2025

Tentang Penulis:

Prima Gaida Journalita adalah seorang aktivis sosial yang lahir di Dili pada 1 Januari 1984 dan kini berdomisili di Penkase Oeleta, Alak, Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Meski berlatar belakang pendidikan SLTA, Prima memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan masyarakat sipil di Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2003, ia aktif dalam berbagai organisasi dan advokasi, mulai dari keterlibatannya di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang dan Serikat Petani Manggarai pada tahun 2003, hingga menjadi relawan disabilitas di organisasi Garamin NTT sejak 2022 hingga sekarang.
Kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan inklusi terus berlanjut. Ia pernah terlibat dalam kegiatan Peduli HIV/AIDS, serta aktif sebagai wakil ketua Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) Kasih di Naikoten 1 sejak 2023.

Saat ini, Prima menjabat sebagai Bendahara JAMAN (Jaringan Kemandirian Rakyat) NTT, Ketua JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat) Kota Kupang, serta pembina komunitas KOMPUTER (Komunitas Perempuan Terdidik) kota kupang. Ia juga menjadi bagian dari tim asesmen 12 puskesmas dari 26 Puskesmas di Kabupaten Kupang dalam perspektif GEDSI, fokus pada program WASH dan energi yang didukung oleh UNICEF. Ia juga sejak menjadi disabilitas 2020 karena kecelakaan tunggal, aktif di berbagai kegiatan pemberdayaan disabilitas, yang dibawahi oleh organisasi Garamin NTT serta beberapa isu kekerasan seksual pada perempuan dan anak, pemberdayaan perempuan, Perubahan iklim dan lain sebagainya.
Prima dapat dihubungi melalui media sosial: Facebook (@Prima Gaida Journalita), X/Twitter (@Prima Gaida Journalita), dan email: bahren84@gmail.com.

Video pertama yang diterbitkan pada channel youtube @KebudayaanRakyat , yang berisi ulasan visualisasi puisi karya Rasha Putra Permata. Puisi yang divisualisasikan adalah puisi “Bertemu”, karya sastrawan angkatan Pujangga Baru, Armijn Pane.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: WhatsApp-Image-2025-06-30-at-11.58.40-PM.jpeg
Foto Putu Oka Sukanta (Koleksi Pribadi)

PERCAKAPAN 1

Berdiri di ambang pagi
Saling menyapa dengan sunyi
Lampu rumah dan jalanan
Belum waktu dipadamkan

Aku menunggu cahaya
Peleburan jiwa.
Disapa Pemulung
Mulai bertarung.*

Rmangun 22.06.25


PERCAKAPAN 2

Yuya sedang di mana?

Aku mau bertutur
Knalpot karatan batuk batuk
Di keramaian hiruk pikuk
Suaranya kamu dengarkan:
Rum rum rum
Or or or
Ru ru ru.
mor mor mor
Rum rum rum
Rrrrrrrrrrrrt
Morrrrrrrr

Knalpot karatan
Terbata bata
Menyemprotkan penistaan

Yuya ada dimana?

Ternyata engkau sudah di sana
Membersihkan knalpot besi tua
Ramai ramai bersama sama.*

Rmangun, 23.06.2


PERCAKAPAN 3

Mempercakapkan bambu
Ditanam di laut biru
Berderu
Deru
Di depan podium, seru

Setelah berlalu
Bisu
Membisu
Dibikin bisu
Siapakah yang tahu?

Tonggak bambu
Tinggi
Mengibarkan Sertifikat

Tiang Sang Merah Putih
Lebih rendah
Di perahu nelayan

Tonggak bambu
Diganti tembok batu
Bisu
Tanpa deru
Berderu.
Gelombang laut biru
Tonggak tonggak bambu
Diredam penguasa
Di tangan pengusaha.*

Rmangun,24.06.25


PERCAKAPAN 4

Di depanku
Rebus ubi
Secangkir kopi
Dan mimpi

Copet,
Copet,
Copet………pet….petttttt
Orang berhamburan ke jalanan
Berlari
Lari
Jadi ombak bergelombang
Masih pakai daster,
Celana dalam,
Baju dinas
Lilitan handuk
Kerudung
Jadi ombak bergelombang
Gelombang
Copettttttt
Coooooooo
Petttttttt

Polisi,
Satpol Pepe
Tentara
Hansip berdiri tegak lurus
Di depan posnya masing masing.

Nyopet apa?
Nyopet apa?
Bikin laporan !

Orang orang bergumam
” Percuma”
Terus berlari mengejar pencopet.

Seorang pengejar copet
Akhirnya melapor ke petugas:
“Pencopet itu,
Nyopet kebenaran peristiwa Pak.”

” Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.
Itu kan bukan urusan saya.”

Air bergelombang itu,
Terus mengejar pencopet.

Rebus ubi
Ampas kopi
Nikmatnya mimpi.*

Rmangun,25.06.25.


PERCAKAPAN 5

Cakap cakap ringan
Ketahanan Pangan
Dimulai dari meja makan?
Atau dari gubug kelaparan?

Membuka pagi
Rebus ubi

Mengunyah pisang
Melewatkan siang

Ubi kayu
Menutup waktu

Cakap cakap Ketahanan Pangan
Sebelum makan mencuci tangan
Petinggi korupsi
Rakyat gigit jari.

Cakap cakap
Cakap cakap
Cakap cakap
Tikus bersorak sorai
Di lumbung padi.*

Rmangun,27.06.25

Gambar saat ini: Ira Yusfi
Foto Ira Yusfi (Koleksi Pribadi)

Karya: Ira Yusfi

Selamat malam tuan jahanam…
Genderang perang kau tabuhkan,
Sementara Aku sedang menggali kubur
untuk makam yang akan bernisan namamu,
Ya, di hatiku
Tuan jahanam,
Barangkali udara yang Kita hirup tidaklah sama
Entah O2 jenis APA yang kau peruntukkan bagi nafasmu
Sehingga pikirmu melayangkan hal buruk
Namun bibirmu memohon dan genang matamu mengikuti harapmu
2 Rupa yang satu waktu kutemui,
Yang mana dirimu Tuan?
Yang tengah memohon,
Atau,
Tengah memakiku dengan sumpah serapah
Inginku operasi Kepala dan rongga dadamu,
Atau kusobek saja sekalian
Atas malu dan harga diri yang kau injak,
Tuan jahanam…
Cinta Tak mengikuti dirimu Tuan,
Sayang sekali,
Ucapanmu yang tanpa getar,
Matamu yang tanpa warna
Dan permohonanmu yg rasa gulai tanpa garam,
Tuan, agaknya Tuan perlu belajar tentang kesungguhan
Agar Tak menjadi mayat hidup di bumi
Bumi yang tuan injak,
Kali ini enggan berkonspirasi dengan diri Tuan yang tuan sendiri Tak tahu
Genderang perang telah Tuan tabuh,
Maaf Tuan, Kali ini Aku sudah beranjak bahkan jauh…
Tidakkah tuan menyadari?
Seketika tuan Hanya kulihat bak seonggok daging tanpa kehidupan
Demikianlah cinta jika disakiti

bansos digelontorkan lagi
Rp 496 triliun
di atas meja
yang tak kita duduki

di layar kaca
beras, minyak,
gula, wajah menteri

tapi di lorong
ibu-ibu menakar
apa cukup
untuk tiga hari

satu karung sembako
bukan jalan keluar
dari kemiskinan
yang diwariskan negara

subsidi terus bertambah
seolah luka
cukup dibalut
dengan tisu anggaran

mereka menyebutnya
perlindungan sosial
kami menyebutnya
pengulangan sunyi

Nyata ini negeri atas angin,
tapi tangan rakyat
terus menggenggam angin

kami tidak lapar
karena malas
kami lapar
karena sistem

berapa ratus juta
dalam DTKS itu
yang dipanggil “miskin”
lalu dilupakan?

kami ingin lebih
dari santunan
kami ingin alat
untuk mengukir nasib

program padat karya
pelatihan kerja
reformasi struktural
bukan sekadar istilah

kami ingin
keadilan yang terlibat
bukan belas kasihan
yang diprogramkan.

Lino Sanjoyo, Pekanbaru ,12 Mei 2025

Luka sejarah purba
melembab
dalam bayang gelap
diperkelam
tanpa disuluh

Bayang palu-arit
diburu pagi sore
sulutan paranoia
berjuluk trauma

“Neurosis kolektif,”
kata Fromm tenang,
“memarah
kala takut jadi pasal.”

Pencinta kopi
dibekuk sunyi
kaus merah darah
tersangka manifesto

Ikan Louhan pun
disekap bungkam
sisiknya
mengobar luka

Si inisial AF dan SS
bukan agitator
mereka semata
pamer kaus

Tapi di negeri
yang alergi lambang,
akal diringkus
ke ruang interogasi

Kearifan digilas
lindasan rantai tank
pintu bebas
penggagas berseni
tumbang merebah

Bagian bangsa ini
lumpuh batin
tersetir cedera mental
stunting nalar

Kritik difonis makar
ide diadili
digolong dosa
dalam republik
yang menolak dewasa

“Yang merdeka
dari kesilaman,”
kata Orwell,
“tuan masa depan.”
Sayang, hantu bayang
melayang di pusara-pusara.

Medan, 13 Mei 2025
Lino Sanjoyo
Pegiat Kemanusiaan