Pendakian ini mengarungi angin musim basah.

Sejak Cibodas-Bogor tapak dituntun tanjakan licin lereng hutan.

Hingga puncak Gunung Pangrango keringat penat berbulir salju.

Batu-batu cadas berhijab selembut lumut.

Kesunyian khusyuk mengaji dingin bersujud.

Di Lembah Mandalawangi kutukar kasih dengan Soe Hok Gie.

Kami membahas hamparan bunga Edelweis Sunda

dan berandai berubah menjadi ladang padi dan kebun jagung.

Penduduk bersorak puas membentang kain spanduk alas duduk,

menanak nasi, dan menyangrai popcorn di bara tungku.

Kedaulatan pangan tegak lurus menembus rimba belantara

dan hawa panas kawah gunung mengelus bangsa tropis.

Pemburu negeri tak perlu lagi bermimpi menjelajahi sepi.

Kerisauan mereka akan disembuhkan biola bersenar hujan

dan perjuangan embun menyatukan cabikan awan.  

Pada ketinggian ribuan meter Pangrango-Mandalawangi ini,

segala janji bebersih negeri segera turun menempati landasan.

Lantas pertukaran kasihku usai dengan Soe Hok Gie

sebelum matahari puncak ditikung gelap muka bumi.

Mulyadi J. Amalik

Peneleh, Surabaya: 12/04/2025.

ENERGI
( Catatan kecil buat Jaker)

Kibaran bendera
Tinggi
Tinggi
Dipeluk awan hitam

Terompet pagi
Penggugah energi
Diredam suara gagak

Perjuangan panjang
Merebut ruang.*

(Putu Oka Sukanta,
Rmangun 12.05.2025).

PUISI AKAR RUMPUT

Yang tumbuh di akar rumput,
Cerita ketidak adilan
Dibabat bersih
"Gulma pengganggu bunga bunga
Sastra para Punggawa"

Di akar rumput tumbuh puisi
Tajam melukai basa basi
Menunjam menguliti
Mencari suara hati

Celoteh akar rumput
Menggoyang pepohonan
Merontokkan
Benalu.*

{Putu Oka Sukanta,
Rmangun, 13.05.2025}