Foto John Tobing (Sumber: Berdikarionline.com)

Oleh: Harsa Permata

Bang John Tobing, senior Filsafat UGM angkatan 86, telah berpulang tadi malam di RSA UGM setelah beberapa minggu menjalani perawatan. Kabar ini menyisakan lubang di hati kawan-kawan pergerakan. Beliau bukan sekadar nama, melainkan pencipta lagu “Darah Juang”—himne yang membakar semangat demonstrasi mahasiswa dan rakyat sejak era Orde Baru hingga hari ini.

Sebagai angkatan 90-an, saya bersyukur sempat bersua dengan beliau. Bang John adalah kawan seangkatan mendiang Andi Munajat, pelopor gerakan mahasiswa anti-Orde Baru dan pendiri SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi).

Komunikasi kami terjalin lancar dan santai. Mungkin karena faktor “DNA” Sumatera yang melekat—saya Minang dan beliau Batak—membuat sebutan “Bang John” terasa begitu akrab di lidah saya. Meski pertemuan fisik kami tidak intens, setiap kali bertemu, suasana selalu hangat tanpa sekat.

Pertemuan terakhir kami terjadi pada acara bedah buku Antologi Puisi JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat) di Fakultas Filsafat UGM, sekitar 29 Oktober 2025. Saat itu, dengan gaya khasnya, beliau bertanya:
“Kau pengurus JAKER, Sa?”
Saya menjawab, “Bukan Bang, saya hanya anggota biasa dan bantu-bantu di web kebudayaanrakyat.com saja.”

Di sela obrolan itu, beliau sempat mengajak saya mampir ke rumahnya di Purwomartani. Saya hanya bisa menjawab “Siap, Bang.” Namun sayang, takdir berkata lain. Hingga akhir hayatnya, niat untuk bertamu ke sana belum sempat saya tunaikan.

Jujur, saya merasa kehilangan. Meski saya bukan “penggemar berat” lagu Darah Juang ciptaannya, saya sangat menghormati sosok beliau. Sebagai senior pergerakan dan alumni Filsafat UGM, Bang John adalah pribadi yang sangat egaliter dan rendah hati. Satu penyesalan saya hanyalah tidak berkesempatan mengenal beliau lebih dalam pada masa-masa primanya.

Semoga amal ibadah Bang John semasa hidup diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa dan dilancarkan jalannya menuju keabadian.

Terima kasih, Bang, sudah mewariskan lagu yang membekas dalam ingatan saya—mantan mahasiswa yang dulu sempat “kekiri-kirian” dan (mungkin) tersesat di jalan yang benar.

Sampai bertemu lagi, Bang. Salam Pembebasan!

Foto Kwik Kian Gie (detik.net.id)

Oleh: Sarinah Sundari

KKG panutan
cerdas, tegas, lugas, waras – gak nggragas, omongan n tindakan selaras..

dia seperti elang 🦅
tdk takut terbang sendirian
jauh di atas awan
mengikuti kebenaran

nasionalis humanis
nuraninya urip
uripnya urup
akal budi murup

aku kehilangan
satu lampu jalan
penyibak kegelapan

RIP pak..
29/7/25…