Resensi Buku
Buku “Sri Buddha #1: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu”, karya Wenri Wanhar menawarkan narasi yang tidak biasa. Ini bukan sekadar buku sejarah.
Pertama, dia menyatakan bahwa tokoh utama dalam cerita di relief Mandala Borobudur bernama Indra Jati, pemuncak Sailendra.
Kedua, Indra Jati yang dikenang turun temurun melalui bisik penuh rahasia sebagai leluhur agung di Pulau Sumatera, menurut Wenri, ialah Hyang Semar, sosok legendaris pamomong Pulau Jawa.
Ketiga, Indra Jati atau Semar, sebagai pemuncak Wangsa Sailendra adalah sang pembawa kabar, pembawa ajaran. Yakni ajaran Buddhi. Benih ajaran yang lahir dan tumbuh di negeri lautan selatan, selapis negeri yang hari ini bernama Indonesia.

Ini jelas bukan sembarang narasi. Ini narasi baru.
Nah, bagaimana cara Wenri membaca relief Borobudur?
Dalam buku ini Wenri membentangkannya dengan lugas.
Pertama, bersuluh ke matahari.
Kisahnya dimulai dari Timur. Seiring matahari terbit. Bergerak ke Selatan. Timur, pada masa lalu disebut Purwa. Dan Selatan; Daksina. Purwa Daksina. Diksi ini kemudian dibunyikan menjadi Pradaksina saja.
“Naiklah dengan putaran Pradaksina. Relief yang Anda tonton ada di bahu kanan. Lalu, turun dengan putaran sebaliknya. Prasawiya. Lagi-lagi, adegan berlangsung di relief sebelah bahu kanan Anda.”
Bagi Puan dan Tuan yang pernah ke Mandala Borobudur tentu mengetahui bahwa relief yang mengelilinginya balik bertimba. Timbal balik. Ternyata, saat memutarinya, adegannya selalu berlangsung di bahu sebelah kanan Anda.
Kedua, berpedoman kepada cahaya yang dibawa manusia sejak lahir.
“Berdasarkan pengetahuan yang kita dapat, di tubuh manusia ada sepuluh aksara. Sang, bang, tang, ang, ing, Nang, mang, sing, wang, yang. Sang, bang, tang, ang, ing ditulis atau dibaca berputar naik dari Timur ke Selatan. Nang, mang, sing, wang, yang ditulis atau dibaca menurun ke putaran sebaliknya dari atas ke bawah. Aksara adalah cahaya. Dan cara membaca cahaya pada diri manusia ini sama persis dengan cara membaca Wirupa Borobudur.”
Dalam bukunya, dia menyebut relief yang terukir di Borobudur dengan sebutan Wirupa karena menurut Wenri yang sedikit banyak pandai menulis dan membaca aksara Kawi, memang begitulah yang tertulis di lantai dasar Mandala Borobudur.
Sejauh mana kebenaran ceritanya, Wenri sendiri mengakui, “kita tidak pernah merasa paling benar. Kalau lah ada kebenarannya, itu hanyalah umpama segenggam daun di antara rimbunnya daun di hutan. Sebab, bila kita merasa paling benar, maka pendapat di luar kita akan ada saja salahnya. Sementara, ajaran Buddhi mengajarkan, bila kita berani menyalahkan orang lain, sebenarnya kita sudah salah duluan,” papar Wenri.
Wenri membuka kisah di buku ini seperti orang baru bangun dari tidur. Dia menceritakan mimpi-mimpi.
Seperti apa mimpinya?
Anda bisa langsung membaca buku kecil setebal 117 halaman yang dikisahkan dengan bahasa ringan setarikan nafas.
Edisi cetakan pertama, November 2025 sudah mulai beredar di pasaran. (*)
Keterangan Gambar Utama:
Halaman pertama buku “Sri Buddha #1: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu” (Sumber: Dokumen Redaksi)



