
(Gambar dari Penulis)
Oleh: RJ. Endradjaja – Pembelajar Pinggiran
Di Indonesia hari ini, banyak warga merasakan hal yang sama: sistem terasa semakin besar, rumit, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Prosedur berlapis, keputusan sulit ditelusuri, dan ruang partisipasi kerap terasa sempit. Dalam situasi seperti ini, muncul perasaan yang tidak asing: kita hidup di dalam sistem yang besar, tetapi merasa kecil di dalamnya.
Perasaan itu bukan sekadar keluhan emosional. Ia mencerminkan pengalaman modern yang juga pernah digambarkan oleh tiga pemikir abad ke-20— Franz Kafka, Albert Camus, dan Jean-Paul Sartre. Mereka tidak menulis tentang Indonesia, tetapi pemikiran mereka memberi kita cara membaca dunia yang terasa semakin kompleks dan kadang sulit dipahami.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apa yang masih bisa dilakukan warga ketika sistem terasa absurd?
Labirin Sistem ala Kafka
Dalam novel “Das Schloss” (The Castle), Kafka menggambarkan seorang tokoh yang berusaha berhubungan dengan otoritas kastil—simbol sistem kekuasaan yang selalu hadir, tetapi tak pernah benar-benar bisa dijangkau.
Di dalam novel itu terdapat kalimat yang sering dikutip dalam kajian Kafka:
“Die Hierarchie der Behörden ist unendlich, und selbst von den Eingeweihten nicht zu übersehen.”
(Hierarki otoritas itu tak berujung, dan bahkan orang dalam pun tidak dapat melihat keseluruhannya.)
Kutipan ini bukan sekadar satire birokrasi. Ia menunjukkan pengalaman eksistensial manusia yang berhadapan dengan struktur yang terlalu besar untuk dipahami secara utuh. Individu bergerak dari satu prosedur ke prosedur lain, dari satu otoritas ke otoritas berikutnya, tanpa pernah melihat keseluruhan mekanisme yang menentukan nasibnya.
Dalam kehidupan modern, gambaran ini terasa akrab. Banyak warga berhadapan dengan sistem administrasi, kebijakan, atau mekanisme publik yang kompleks. Tidak selalu karena niat buruk, tetapi karena sistem modern cenderung berkembang menjadi struktur besar yang impersonal.
Dari Kafka, kita belajar kepekaan: kemampuan melihat bahwa kerumitan sistem dapat membuat manusia kehilangan orientasi. Kepekaan ini penting agar kita tidak menganggap kebingungan sebagai hal yang wajar. Jika warga merasa tersesat, mungkin memang ada labirin yang perlu disadari keberadaannya.
Martabat di Tengah Absurditas: Pelajaran dari Camus
Namun kesadaran saja tidak cukup. Bagaimana manusia hidup bermartabat di tengah sistem yang terasa tidak masuk akal?
Albert Camus menjawab melalui kisah Sisifus—tokoh mitologis yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung tanpa akhir. Dalam esainya “Le Mythe de Sisyphe,” ia menulis:
“Il faut imaginer Sisyphe heureux.”
(Kita harus membayangkan Sisifus bahagia.)
Bagi Camus, dunia tidak selalu rasional atau adil. Namun absurditas itu tidak harus menghancurkan manusia. Sisifus tidak bisa keluar dari hukum yang menjeratnya, tetapi ia tetap memiliki ruang kebebasan: kesadarannya sendiri. Dengan memahami situasinya dan tetap menjalani hidup dengan martabat, ia menolak tunduk secara batin.
Dalam kehidupan warga modern, absurditas mungkin hadir dalam bentuk yang lebih administratif dan politis: prosedur yang melelahkan, keputusan yang membingungkan, atau jarak antara rakyat dan kekuasaan. Kita mungkin tidak selalu bisa mengubah sistem dengan cepat, tetapi masih bisa menjaga kejernihan pikiran, integritas, dan akal sehat.
Camus mengingatkan bahwa kesadaran adalah bentuk perlawanan. Menolak apatis dan tetap berpikir jernih adalah cara mempertahankan martabat di tengah dunia yang tidak selalu rasional.
Sartre dan Tanggung Jawab Warga
Jika Kafka menunjukkan tekanan sistem dan Camus menekankan martabat batin, Jean-Paul Sartre menambahkan dimensi yang lebih menantang: tanggung jawab individu.
Dalam “L’existentialisme est un humanisme,” Sartre menulis:
“L’homme n’est rien d’autre que ce qu’il se fait.”
(Manusia tidak lain adalah apa yang ia jadikan terhadap dirinya.)
Ia juga menyatakan:
“L’homme est condamné à être libre.”
(Manusia dikutuk untuk bebas.)
Kebebasan, bagi Sartre, bukan kenyamanan. Ia adalah beban. Kita mungkin hidup dalam sistem yang tidak ideal, tetapi selalu ada ruang—sekecil apa pun—untuk memilih: peduli atau apatis, berbicara atau diam, ikut arus atau berpikir kritis. Bahkan diam adalah pilihan.
Ini bukan berarti menyalahkan individu atas semua masalah struktural. Namun Sartre mengingatkan bahwa sistem bertahan bukan hanya karena strukturnya, tetapi juga karena keputusan manusia di dalamnya. Perubahan, sekecil apa pun, selalu berawal dari pilihan manusia.
Tiga Sikap untuk Warga Hari Ini
Indonesia adalah negara besar dengan sistem yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, rasa lelah dan sinisme mudah muncul. Namun jika hanya berhenti pada sinisme, kita justru memperkuat rasa tak berdaya itu sendiri.
Dari tiga pemikir tadi, kita bisa merumuskan tiga sikap yang relevan bagi warga:
- kepekaan Kafka untuk melihat kerumitan sistem,
- ketangguhan Camus untuk menjaga martabat di tengah absurditas,
- keberanian Sartre untuk tetap mengambil tanggung jawab.
Ketiganya saling melengkapi. Kepekaan tanpa keberanian membuat kita hanya mengeluh. Keberanian tanpa kesadaran membuat kita gegabah. Ketangguhan tanpa kepekaan membuat kita apatis.
Sistem mungkin tidak selalu berubah secepat yang kita harapkan. Namun warga yang sadar, jernih, dan berani tetap menjadi fondasi masyarakat yang sehat.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya apakah sistem masuk akal atau tidak. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bersikap ketika sistem terasa absurd?
Di situlah martabat warga diuji—dan di situlah harapan tetap hidup.
*



