
Puisi: Petradipantara K.
Salam dari Jakarta Agustus 1945,
dan Bandung April 1955 untuk Venezuela.
90 patriot dan compatriot Bolivarian.
Rebah ke bumi, darahnya memetraikan semangat pembebasan. Hak menentukan nasib sendiri.
Daulat negeri, Ooo Simon Bolivar.
“Kemerdekaan ialah HAK segala bangsa,
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”
Siapakah yang memberi mereka hak, untuk menyerbu, menginvasi, dan ingin mengatur negeri merdeka berdaulat?
Piagam “Self of Determination” dirobek-robek,
Disebar-hamburkan ke tanah dan lalu dikencingi.
Siapa berani berkata: kolonialisme dan imperialisme sudah berhasil dihancurkan? Siapa?
Dasa Sila Bandung pernah lantang berteriak: “Enyahkan Neokolonialisme dan Neoimperialisme!”
Semua bangsa berdiri sama tinggi
Bekerja bersama menegakkan satu mimpi bersama.
Masa depan adil sejahtera untuk anak manusia sedunia.
Tidak ada negara tuan, tidak ada negara para budak.
Salam untuk Bapak Bangsa Amerika Selatan.
mengapa wajahmu nampak murung, dibakar geram
ooh Bolivar, Simon Bolivar?
Justeru ketika setelah 2 ¼ abad kau istirahat dalam abadi
Sepertinya kau hidup dan bangkit kembali!
Sosokmu membayang, menunggang kuda perkasa
memanggul senapan tua, berselempang peluru di pundak sampai ke dada
memacu kuda, mengitari tanah-tanah seantero Karibia.
Pekik teriakmu mengetarkan hati anak-anak benua
Menggema sejagat raya:
“Morir es vivir, si se muere por la patria.”
Dan para anak-anakmu menjawabnya: “Aluta continua. La Puerta de la Muerte!”
Sejarah berulang.
Nampaknya engkau,
untuk kedua kali,
harus bertarung kembali.
Indonesia, Desember 2025 – Januari 2026



