
Oleh : Agung Nugroho
(Ketua Umum Rekan Indonesia)
JAKARTA, – Di tengah dinamika musik independen yang terus berkembang, SOKRAS hadir sebagai band punk rock asal Jakarta dengan identitas yang tegas. Mereka merumuskan sikapnya dalam satu frasa: “Distorsi Melawan Diam” .
Bagi SOKRAS, distorsi bukan sekadar efek gitar yang keras. Dalam profil resminya, distorsi dimaknai sebagai simbol kebisingan sikap dan perlawanan. Sementara itu, “diam” dipahami sebagai kepasrahan dan ketidakpedulian terhadap realitas sosial yang menekan kehidupan urban .
Berangkat dari Istilah “Sok Keras”
Nama SOKRAS merupakan plesetan dari istilah “sok keras” . Dalam percakapan sehari-hari, istilah tersebut kerap digunakan untuk menyindir sikap yang dianggap berlebihan. Namun, bagi band ini, sebutan itu justru dijadikan identitas.
Dalam dokumen branding mereka, “sok keras” dimaknai sebagai simbol keberanian untuk tetap bersuara meski mendapat stigma atau ejekan . Transformasi makna tersebut menjadi dasar konseptual yang menyatukan musik, visual, dan narasi yang mereka bangun.
Formasi dan Karakter Musik
SOKRAS diperkuat oleh lima personel:
Ivan Panji (Gitar 1)
Nur Iman (Gitar 2)
Danu (Bass)
Saep (Vokal)
Mirza Diananda (Drum)
Formasi dua gitar memberi ruang pada permainan riff yang rapat dan agresif. Bass menjaga fondasi ritmis yang tebal, sementara drum menghadirkan tempo cepat khas urban punk rock. Di lini depan, Saep menyuarakan lirik-lirik lugas dengan karakter vokal yang kuat.
Secara musikal, SOKRAS mengusung urban punk rock yang cepat, padat, dan langsung . Struktur lagu yang ringkas serta riff tajam menjadi ciri utama mereka.
Angkat Kritik Sosial Lewat Lagu
SOKRAS memulai langkahnya dengan single berjudul “PARTAI BANDIT”, yang disebut sebagai kritik terhadap partai-partai di Indonesia . Pilihan tema ini menunjukkan keberanian mereka mengangkat isu sosial dan politik dalam karya.
Dalam materi rilisnya, SOKRAS menyatakan telah menyiapkan sembilan lagu orisinal dan satu lagu cover . Arah lirik mereka konsisten menyoroti isu propaganda, manipulasi, dan pembungkaman suara publik.
Vokalis SOKRAS dalam rilis tersebut menyebut musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menyuarakan perlawanan, serta menegaskan bahwa sikap diam merupakan persoalan bersama .
Identitas Visual yang Sarat Makna
Selain musik, SOKRAS juga memperhatikan aspek visual sebagai bagian dari identitas. Logo mereka berupa wordmark bergaya grunge dengan lingkaran merah berisi bintang kuning dan cap tangan stencil .
Simbol tersebut dimaknai sebagai bentuk satir terhadap ikonografi kekuasaan dan propaganda . Warna merah diasosiasikan dengan perlawanan, sedangkan kuning melambangkan suara yang mencolok dan tak mudah diabaikan .
Tegaskan Posisi di Musik Independen
Dalam profilnya, SOKRAS menyebut ingin mengembalikan punk rock pada fungsi awalnya sebagai suara perlawanan . Di tengah komersialisasi musik alternatif, pernyataan ini menjadi penegasan posisi mereka di ranah independen.
Dengan konsep yang terarah, formasi yang solid, serta sikap yang konsisten, SOKRAS berupaya menghadirkan distorsi bukan sekadar sebagai bunyi, melainkan sebagai pernyataan. Di peta musik alternatif Jakarta, mereka menempatkan diri sebagai band yang tidak hanya tampil, tetapi juga bersikap.



