Makassar, Gasingpedia.com – Penerbit buku ternama, Subaltern, kembali akan menggelar festival novel tahun ini. Sebuah panggung di mana kata-kata, gagasan, dan pengalaman bertemu dalam harmoni, menyuarakan suara-suara yang biasa tertahan.

Festival novel ini merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah pada tahun lalu sukses terlaksana di Rammang-rammang, Kabupaten Maros. Kali ini, ajang pertemuan para penulis novel akan berlangsung di Daurbaur, BTN Asal Mula, Makassar selama tiga hari mulai 19 sampai 21 Desember 2025.

Poster Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

Pimpinan Penerbit Subaltern, Supratman Yusbi Yusuf mengatakan Subaltern Novel Festival kedua (SNF II) mengangkat tema Megadigma; Perayaan Ide-ide yang dirangkai sejumlah kegiatan, diantaranya kelas menulis novel, kelas riset novel, kelas kritik novel, pameran novel, launching dan bedah novel, bedah novel, pengumuman sayembara novel hingga subaltern awards juga akan dihadirkan.

“Penulis pemula hingga mereka yang sudah menjadi “tulang punggung kebudayaan” bergabung dalam dialog kreatif, bedah karya, launching novel, hingga forum novel,” katanya.

Dalam momentum itu, penulis dan pembaca tidak sekadar hadir sebagai audiens; mereka menjadi bagian dari sebuah gerakan. Ada ruang riset bersama, kritik yang membangun, pelatihan menulis. Semuanya untuk memastikan novel yang lahir tidak hanya menghibur, melainkan juga memiliki kedalaman, relevansi, dan kekuatan ide.

Item Kegiatan dalam Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

“Novel-novel dibicarakan bukan hanya dari alurnya, tetapi juga dari ide-ide besar yang tersirat di balik kata,” ujar Supratman.

Ia menegaskan, penerbit Subaltern menunjukkan bahwa kerja penerbitan bukan sebatas mencetak buku, tetapi menjaga agar buku dibaca, dimaknai, dan terus tumbuh dalam wacana budaya.

Pada pelaksanaannya, Penerbit Subaltern menyerahkan pengelolaan SNF kepada Subaltern Institut yang berada dalam Yayasan Gerak Subaltern. Melanjutkan dampak dan antusiasme SNF I, perjuangan Subaltern kini melangkah ke tahap kedua dengan tema lebih ambisius: “Megadigma: Perayaan Ide-Ide”.

“Tema ini mengundang semua penulis, pembaca, kritikus, dan khalayak budaya untuk merayakan keragaman gagasan yang tercurah dalam novel. Megadigma bukan sekadar kata besar: ia adalah paradigma besar gagasan yang memotret perubahan zaman, menantang status quo, meretas bisu, dan membuka ruang diskusi kritis,” jelasnya.

SNF II memperluas skala dan suara. Tidak lagi lokal semata, tetapi nasional, dengan bayangan fragmentasi internasional di masa depan.

Kompetisi novel tetap menjadi jantung festival, namun kini dilengkapi dengan workshop, diskusi panel, peluncuran buku, publikasi media luas, dokumentasi digital profesional, dan perayaan publik yang lebih inklusif.

“Mengapa Subaltern Novel Festival penting? Pertama, karena literasi tidak boleh terkungkung dalam ruang kecil. Novel adalah bentuk gagasan yang hidup, sebuah medium yang melintasi batas geografis, sosial, dan generasi. Ia mampu menjembatani pengalaman seorang penulis di Makassar dengan pembaca di kota-kota besar dunia; ia bisa menyatukan suara anak muda dengan kebijaksanaan generasi tua,” ungkap Supratman.

Melalui novel lanjut pria kelahiran Bone itu bahwa pengalaman personal menjadi jembatan universal—sebuah bahasa yang mampu melampaui sekat identitas dan ruang. Subaltern Novel Festival hadir untuk memastikan bahwa literasi tidak berhenti di ruang kelas atau lembaran kertas, melainkan bergerak, mengalir, dan menghubungkan.

“Kedua, karena ide-ide besar sering lahir dari kegelisahan. Dari rasa tidak puas, dari keinginan memahami dunia dengan cara yang lebih jernih. Novel adalah ruang di mana kegelisahan itu bertransformasi menjadi cerita, karakter, dan dunia imajiner yang justru merefleksikan kenyataan. Festival ini merawat pluralitas suara, memberikan panggung kepada penulis-penulis yang sering diabaikan, dan membuka ruang aman bagi mereka yang suaranya kerap terpinggirkan,” tuturnya.

Dengan demikian, Subaltern Novel Festival bukan sekadar pesta literasi, melainkan forum di mana keberagaman gagasan dirayakan dan kegelisahan sosial menemukan bentuk kreatifnya.

Ketiga, karena dalam tiap baris novel tersimpan potensi perubahan. Sebuah kalimat dapat menggugah refleksi, sebuah tokoh dapat menginspirasi keberanian, dan sebuah alur dapat menyingkap kebenaran yang tersembunyi. Novel memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang pembaca, memperkuat keyakinan penulis, sekaligus memengaruhi wacana budaya.

“Festival ini percaya bahwa novel adalah senjata kebudayaan yang halus namun efektif—ia dapat membentuk imajinasi kolektif, membangun kesadaran kritis, dan menumbuhkan empati lintas batas. Karena itulah, Subaltern Novel Festival penting: ia menjaga api literasi tetap menyala, merawat keberanian ide, dan memastikan bahwa novel tetap menjadi ruang kebudayaan yang relevan, kuat, dan transformatif di tengah perubahan zaman,” pungkasnya. (*)

Keterangan Gambar Utama: Poster Acara Subaltern Novel Festival (Sumber: Dokumen Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *