
Oleh: Lino Sanjoyo
(Pemerhati Budaya)
Tarian Pendamai Langit dan Bumi
Kamu berada di Bali pada pagi hari, udara lembab dengan aroma dupa yang menyusup ke indra penciuman, dan kabut menggantung tenang di antara pepohonan. Di pelataran pura, sekelompok perempuan bergerak lembut, seperti angin yang tak terlihat namun terasa. Mereka sedang menarikan Tari Rejang. Ini bukan pertunjukan untuk dipamerkan di atas panggung, melainkan ritual sakral—bahasa tubuh yang berbicara langsung kepada semesta: bumi, angin, dan roh leluhur semua diajak berdialog melalui gerak.
Tari Rejang merupakan bagian dari upacara adat di pura. Tidak diperlukan teknik yang mencolok, tetapi energi yang disalurkan harus tulus dan selaras. Setiap lenggokan tangan dan pijakan kaki merupakan doa yang diam-diam memohon agar dunia tetap damai. Ketulusan menjadi kunci, karena apabila dilakukan asal-asalan, dipercayai bisa mengganggu keseimbangan alam—memicu bencana, konflik, atau gangguan dari roh-roh yang gelisah.
Melompat jauh ke tengah Samudra Pasifik, ada tarian Hula dari Hawaii yang memiliki esensi serupa. Dahulu, Hula merupakan ritual pemujaan dewa-dewi alam, seperti Pele sang Dewi Gunung Api atau Laka sang pelindung Hula. Namun Hula juga berperan sebagai media penyimpanan sejarah, mitos, dan bahkan pengetahuan. Gerakannya bukan sembarang gerakan—setiap elemen mengandung makna: ada ombak, hujan, api, dan angin.
Keduanya—Rejang dan Hula—membuktikan bahwa tarian bukan sekadar seni hiburan. Tarian adalah ekspresi spiritualitas dan bentuk koneksi manusia dengan alam serta sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dalam masyarakat yang masih menghargai kosmos, tarian menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia roh, sejalan dengan pemikiran John Dewey,”Pengalaman estetika adalah bagian penting dari pembelajaran utuh yang menghubungkan emosi, budaya, dan relasi sosial”.
Pelumas Diplomasi
Baru-baru ini, Indonesia melakukan kunjungan budaya ke Thailand. Giring Ganesha, Wakil Menteri Parekraf, turut hadir. Namun yang membuat acara ini istimewa bukan sekadar sambutan formal atau penandatanganan nota kesepahaman, melainkan ketika Indonesia dan Thailand menampilkan pertunjukan tari tradisional. Tari Saman dari Aceh dan Khon dari Thailand tampil berdampingan. Bukan untuk memperebutkan perhatian, melainkan untuk menghubungkan hati lewat seni.
Giring menyatakan, “Tarian adalah bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah,” dan hal itu terasa sangat relevan. Ketika tubuh mulai bergerak, batas bahasa dan budaya memudar. Yang tersisa hanyalah rasa dan niat baik. Melalui tarian, dua bangsa bisa saling memahami tanpa perlu berdebat. Paulo Freire berkata, “Pendidikan yang membebaskan, tarian adalah alat untuk membangun relasi yang setara dan saling mendengarkan”.
Saman dan Khon: Pengisah Tubuh
Tari Saman, selalu membuatmu terhanyut. Tangan-tangan bergerak cepat, suara nyanyian menyatu harmonis, dan seluruh gerakan dilakukan secara kompak. Bukan beresensi kecepatan atau keindahan. Tarian ini berasal dari masyarakat Gayo di Aceh, dan akarnya kuat dalam tradisi dakwah Islam. Penari duduk sejajar, tanpa posisi yang menonjol. Filosofinya adalah kesetaraan, kebersamaan, dan solidaritas. Kekuatan muncul karena dilakukan bersama.
Sementara itu, Khon dari Thailand bersifat lebih teatrikal. Para penari mengenakan topeng dan membawakan kisah dari Ramakien—versi lokal dari epos Ramayana. Gerakannya tegas dan setiap gestur sarat makna moral. Khon mengajarkan nilai seperti keberanian, kesetiaan, dan pengendalian diri.
Meskipun berasal dari budaya yang berbeda, kedua tarian ini mengajarkan satu prinsip yang sama: pembentukan karakter. Melalui tarian, kita belajar kedisiplinan, rasa hormat, dan empati. Tarian menjadi seni yang membentuk etika dan kepribadian, sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan sejati adalah yang dekat dengan budaya dan membentuk watak melalui pengalaman hidup.
Tubuh Bicara, Jiwa Merespons
“Tarian adalah bentuk pendidikan yang disampaikan melalui tubuh yang membawa kepada pembebasan bukan penindasan”, kata Freire. Bukan sekadar membuat luwes, tetapi mengajarkan bagaimana berbicara menggunakan hati. Rejang mengajarkan kepasrahan dan penghormatan, Saman mengajarkan kebersamaan dan dialog, sedangkan Hula mengajarkan keselarasan dengan alam.
Dalam dunia yang semakin serba cepat dan instan, Ivan Illich mengingatkan bahwa modernitas bisa menjadikan manusia seperti robot. Di sinilah tarian tradisional memainkan peran penting sebagai ruang bebas, tempat di mana individu dapat mengekspresikan diri dan identitas komunitas tanpa takut dikendalikan oleh pasar. Seperti halnya pendidikan alternatif yang menyentuh esensi kehidupan, tarian menciptakan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.
Makna Memudar
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini banyak tarian tradisional kehilangan konteksnya. Tari Rejang dibawakan di lobi hotel, Hula menjadi atraksi wisata, dan Saman diperlombakan tanpa pemahaman terhadap syairnya. Sakralitas berubah menjadi komoditas.
Ketika tarian dipisahkan dari konteks budaya dan spiritualnya, ia kehilangan rohnya. Bahkan lebih menyedihkan jika generasi muda hanya mengenal tarian sebagai ajang lomba, tanpa tahu sejarah dan maknanya. Yang tersisa hanyalah gerakan kosong, tanpa jiwa. Hal ini bertentangan dengan pemikiran John Dewey yang menekankan pentingnya pengalaman bermakna dalam pendidikan.
Menari dengan Hati
Tidak seperti tarian Salome yang berujung tragis, atau tarian Tandava dari India yang membuat dunia runtuh, atau bahkan Haka dari Maori yang dipakai untuk menunjukkan dominasi atas lawan—tarian zaman sekarang bisa diubah jadi gerakan yang positif dan bermakna. Kita bisa “membangunkan” kembali maknanya, lalu mengarahkan geraknya untuk hal-hal yang konstruktif dan berdampak baik.
Tarian harusnya menjadi ruang hidup buat komunitas adat. Mereka yang paling tahu rohnya, jadi membiarkan mereka merawatnya. Jangan semua warisan budaya dikomersialisasi dan diambil alih industri hiburan. Kita juga perlu memikirkan bagaimana jika tarian tidak hanya menjadi ekstrakurikuler? Masukkan ke pendidikan karakter. Ajarkan mengapa gerakannya begitu, mengapa syairnya demikian. Supaya generasi sekarang tidak hanya bisa meniru gerakan, tapi juga mengerti maknanya.
Dan saat Indonesia bertemu Thailand dalam acara pertukaran budaya, misalnya, jangan hanya menjadi ajang pamer tari. Harusnya menjadi ruang saling belajar dan saling menghargai. Setiap gerak bisa menjadi jembatan untuk pengertian.
Yang paling penting? Dengarkan tubuhmu. Di dalamnya ada kenangan, ada luka, ada harapan. Saat kamu menari, kamu sedang mengobrol dengan semesta—tidak memakai suara, tapi tetap terasa. Jadi jangan menganggap remeh tarian. Kadang, perdamaian tidak datang dari ruang diplomasi, tapi dari panggung-panggung kecil, di mana anak-anak muda menari di tengah angin dan langit yang menyimak diam-diam.
Tarian adalah kekuatan sakral. Dan kelak, suatu hari nanti, gerakan-gerakan lembut dari tubuh manusia bisa mengalahkan dentuman senjata yang menebar kehancuran. Karena ada harapan dalam setiap langkah, dan ada damai dalam setiap gerakan yang lahir dari hati.
Klaten, 21 Juli 2025

