
Oleh: Jimmy Jeniarto
Baru Klinting merupakan satu karakter yang cukup populer di dalam beberapa kisah rakyat di sekitar Yogya dan Jawa Tengah di masa lalu. Ada beberapa kisah terkait Baru Klinting. Tentang apa atau siapa Baru Klinthing, kemunculan atau kelahirannya, dan seterusnya. Kisah tentang Baru Klinting ini dituturkan secara lisan antar generasi.
Setidaknya, ada dua kisah yang sangat populer tentang Baru Klinting. Pertama, berkaitan dengan asal usul Rawa Pening di Ambarawa, Jawa Tengah. Kedua, berkaitan dengan Ki Ageng Mangir dari desa Mangir, kawasan yang saat ini di bawah administrasi Bantul, Yogya.
Tulisan ini membahas Baru Klinting di dalam kisah Ki Ageng Mangir. Pada kisah ini, Baru Klinting memainkan peran penting di dalam pusaran konflik antara Mataram dan desa Mangir.
Pramoedya Ananta Toer menuliskan kisah perseteruan Mataram vs Mangir ke dalam sebuah naskah drama. Di dalam karya yang ditulis di pulau Buru tersebut, Pram memunculkan Baru Klinting secara berbeda dibanding mayoritas narasi yang telah populer.
Pada kisah populer, Baru Klinting adalah senjata pusaka, berbentuk tombak, yang dimiliki oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya. Baru Klinting berasal dari lidah ular yang diputus dan kemudian berubah wujud menjadi tombak.
Ular tersebut adalah anak dari seorang gadis, perawan Mendes. Perawan Mendes hamil setelah memangku pisau milik Ki Ageng Mangir terdahulu (Ki Ageng Mangir tua), dan kemudian melahirkan seekor ular.
Selanjutnya, tombak Baru Klinting dipegang oleh Ki Ageng Mangir muda (Wanabaya), sebagai penerus Ki Ageng Mangir tua. Menjadi pusaka milik Wanabaya. Dengan tombak Baru Klinting, Ki Ageng Mangir muda menjadi berjaya.
Berbeda terhadap cerita populer di atas, Pram membuat Baru Klinting sebagai sosok manusia. Manusia biasa, dalam arti bukan manusia siluman ataupun sosok fantastis. Pram memang bukan orang pertama yang menafsirkan Baru Klinting sebagai manusia, bukan sebagai tombak pusaka.
Di dalam konsepsi Pram, Baru Klinting adalah seorang prajurit, pemikir, organisator, dan ahli siasat. Berperan penting dalam kesuksesan-kesuksesan yang dicapai oleh Ki Ageng Mangir muda.
Pram mengambil jalan natural dan mencoba realistis. Menghilangkan aspek-aspek mitis, mistis, dan fantastis. Berusaha menghadirkan kewajaran manusiawi dengan proses-prosesnya. Menghilangkan imajinasi-imajinasi fantastis.
Di sini, Pram sekaligus melakukan kritik sastra. Menurutnya, sastra Jawa lama setelah Majapahit memberi tempat khusus pada benda atau senjata pusaka. Di dalam sastra Jawa lama, benda pusaka memiliki daya supranatural, dan seorang tokoh hampir tidak bisa dipisahkan dari benda pusaka yang dimilikinya.
Seakan, capaian-capaian ataupun kegagalan-kegagalan manusia tidak dikarenakan pada usaha ataupun kelemahannya sendiri, melainkan tergantung pada pusakanya. Bagi Pram, pandangan sastra Jawa lama ini semakin lama bisa semakin menyesatkan.
Pernah ada pendapat bahwa, di dalam sastra Jawa lama, benda pusaka adalah perlambang dari kemampuan tokoh pemilikinya. Namun, menurut Pram, penilaian ini tidak bisa diterapkan pada Baru Klinting.
Pram lebih menganggap bahwa Baru Klinting merupakan sanepa (perumpamaan) tentang sosok manusia. Sebagai sanepa, maka perlu ditafsirkan.
Namun, usaha Pram juga bisa bermasalah. Tafsir adalah satu hal, sebagaimana hermeunetik dan exegesis yang biasa dilakukan di dalam kajian filsafat atau agama. Sedangkan fakta adalah hal lain.
Praktek hermeunetik dan exegesis sering tidak atau kurang mengatakan apa-apa tentang fakta, tapi malah membangun narasi-narasi hebat yang merupakan konstruk imajinasi para penafsir, dan didukung oleh bias psikologis ataupun gangguan fisiologis para pendukungnya.
Bisa jadi, Baru Klinting memang benar-benar tombak yang dimiliki oleh Ki Ageng Mangir, meski sebenarnya tidak ada aspek supranatural pada tombak tersebut.
Di dalam masyarakat yang masih diselimuti kabut supranatural, suatu benda pusaka kerap diperlakukan melebihi hal-hal natural. Hal ini terjadi bisa karena ketidaktahuan, tapi juga bisa karena kesengajaan untuk menciptakan legitimasi kuasa.
Pram sendiri menginsyafi kelemahan tafsir. Menurutnya, sanepa adalah teka-teki dua wajah: historis dan imajinatif. Setiap tafsir terhadapnya bisa benar atau bisa keliru. Namun, untuk memahami suatu sanepa, maka tidak ada jalan lain kecuali melalui tafsir. Dan jadilah Baru Klinting seorang manusia biasa.
“Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain, yang lain sama dengan semua.”
Demikian ucapan Baru Klinting di dalam naskah drama “Mangir” karya Pramoedya Ananta Toer.***


