
Oleh Muhammad Ma’ruf (Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat/JAKER Boyolali)
Tulisan ini hasil refleksi menjadi peserta diskusi “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital” yang diselenggarakan Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), Sabtu sore (23/05/2026), di Ruang Belajar Perpustakaan Jakarta, Gedung Ali Sadikin Lantai 6, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Dihadiri Yuni Asrianti (Komnas Perempuan), Beky Mardani (Budayawan Betawi), Dominggus Oktavianus (Pemerhati Sosial), dan Sony Laurentius (Dewan Pengawas JAKER).
Kalau diperas dari judul diskusi, kita akan mendapatkan pertanyaan: ingatan mana yang harus dirawat? Mengapa dengan budaya instan? Memaknai krisis digital seperti apa?
Era digital dalam periodisasi perkembangan filsafat dikenal sebagai masa posmodernisme, atau bahkan pascaposmodernisme. Keduanya adalah oposisi dari tradisionalisme, keduanya adalah wajah lain dari modernitas-saintisme industri digital-kapitalisme digital-technofeudalism. Esensinya sama, berbasis pada progresivitas. Segala produk industri digital adalah kereta cepat yang tidak bisa direm. Takdir tujuan akhirnya adalah transhuman-manusia berdaging yang terhubung dengan dunia internet. Manusia yang hidup dalam globalisasi realitas digital, terhubung dengan satelit selama 24 jam. Manusia digital yang tereduksi menjadi akun, data, dan user. Identitas manusia digantikan oleh username, kata sandi, dan jejak digital.
Ingatan Digital vs Ingatan Tradisional
Jika kita bertanya pada ingatan mana yang perlu dirawat, maka dari perspektif perusahaan Big Data, tentu yang bisa dikapitalisasi. Semua ingatan manusia adalah lumbung keuntungan yang harus diarsip dan diarahkan secara otomatis (algoritma) dengan produk-produk yang bahkan tidak dibutuhkan. Kita lihat, kamar anak-anak SMP, SMA, dan kuliah kita penuh dengan alat-alat kecantikan seperti artis-artis, bukan tumpukan buku pelajaran cetak.
Preferensi manusia dengan segala habitualnya secara sukarela disetor selama 24 jam ke dalam algoritma medsos, lalu perusahaan Big Data akan menjualnya pada agen pemasaran, sehingga akun menstimulus jari tangan hampir secara otomatis untuk membeli produk-produk yang sudah terkondisikan.
Namun, jika kita bertanya pada perspektif pemerintah, sejauh mana perusahaan Big Data itu bersinergi dengan program pemerintah? Jika kita bertanya pada manusia sebagai user, baik pemilik dan karyawan Big Data, pegawai pemerintah, maupun rakyat dunia sebagai pengguna terbesar, maka semua adalah jejaring manusia digital dunia dengan segala tingkat reduksinya.
Reduksi terbesar dan paling rawan adalah anak-anak yang belum cukup umur. Di situlah keprihatinan paling relevan muncul. Ingatan anak-anak kita diisi dan dirawat oleh perusahaan Big Data, sementara orang tua yang juga terhubung dengan internet sulit mengintervensi karena juga terhubung secara digital yang fokus pada pekerjaan dan sosialitanya.
Dalam kondisi jejaring digital itulah, satu-satunya jalan adalah membuat pertemuan-pertemuan konvensional dan tradisional sehingga kontak mata, tangan, dan tubuh terjadi. Ingatan manusia digital dapat diputus secara teratur melalui pertemuan-pertemuan tradisional tanpa memutus sama sekali dengan dunia internet. Oleh karena pertemuan bersifat tradisional, maka ingatan yang asli akan tumbuh secara alami tanpa perawatan khusus.
Budaya Instan vs Budaya Mendalam
Jika pertemuan-pertemuan tradisional bisa diatur secara reguler, bahkan dengan alat digital sekalipun, lambat laun ingatan manusia yang positif akan tumbuh lebih lama seiring dengan jumlah jam pertemuan tradisional. Sebagai contoh, setiap minggu atau bulan kelompok pengajian hadrah, futsal, senam, badminton, dan lomba lari secara rutin beraktivitas, maka ingatan manusia akan berangsur normal secara alami seiring dengan jeda istirahat kontak dengan internet.
Budaya yang serba instan, meliputi konsumsi makanan instan, ChatGPT, dan AI, akan terkurangi. Strateginya bukan memutus internet secara ekstrem, tetapi membuat kebiasaan hidup manusia berjarak dengan internet secara teratur. Kebiasaan instan juga berangsur terkurangi dan kedalaman makna akan hadir dengan sendirinya. Krisis makna manusia digital yang serba instan akan berubah justru dengan memaknai digital melalui pengaturan pemakaian secara disiplin.
Krisis Makna Berbuah Penuh Makna
Akhirnya kembali lagi ke awal tulisan, dunia digital atau realitas digital dengan perusahaan Big Data otomatis menjadi subjek yang membentuk krisis manusia digital. Dunia digital bukanlah artifisial, ia nyata digerakkan oleh Big Data sebagai pelaku dan penindasan terhadap seluruh manusia yang memiliki akun digital. Korbannya bisa dikurangi dengan menjadi atau membuat perusahaan Big Data tandingan, atau menjadi objek Big Data dengan mengatur irama hidup manusia secara tradisional dan penuh disiplin.
Dunia digital yang digerakkan AI bukanlah akhir dari sejarah manusia. Dunia itu ada batasnya. Perang AS-Israel versus Iran memberi pelajaran. Perusahaan Big Data, satelit, dan serat optiknya yang mendukung mesin perang AS-Israel berpikir ulang.
Fisik gedung perusahaan Big Data menjadi sasaran legal Iran karena perannya sebagai penyedia software pembunuh pemilik akun target musuhnya. Pada saat perusahaan Big Data terancam kehilangan kontak dengan pelanggan yang menjadi musuh dan temannya karena ancaman pemutusan kabel optik sebagai penghubung sistem keuangan dan militer, para pemilik perusahaan Big Data dan operator militer kini mulai mengevaluasi perannya sebagai super power Big Data.
Dari situlah kita kembali diingatkan dan merenung, di atas langit masih ada langit. Realitas digital hanya fase untuk kembali ke realitas tradisional. Hanya Tuhan yang bisa menjadi perantara asli agar sesama manusia terawat baik di dunia ini, bukan super power realitas dunia digital yang dihubungkan serat optik ataupun satelit.


