Poster Pentas Wayang Kontemporer Emban yang diselenggarakan Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) di Galeri Kahangnan, Pajangan, Bantul, Minggu Legi, 28 Juni 2026. (Sumber: Dokumen Redaksi)

BANTUL — Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) akan menggelar pentas wayang kontemporer bertajuk “Emban” pada Minggu Legi, 28 Juni 2026, di Galeri Kahangnan, Pringgading, Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pementasan wayang, tetapi juga diskusi budaya serta workshop pembuatan wayang dari limbah plastik.

Pementasan akan dibawakan oleh dalang Ernawati dengan lakon Emban. Dalam tradisi Jawa, istilah emban memiliki beragam makna. Di lingkungan keraton dan dunia pewayangan, emban dikenal sebagai sosok pengasuh atau pelayan perempuan yang mengasuh, mendampingi, sekaligus melayani keluarga bangsawan. Tokoh ini sering digambarkan sebagai figur yang setia, dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi penyampai pesan-pesan kemanusiaan dalam pertunjukan wayang.

Secara etimologis, kata emban juga dapat merujuk pada gagang atau pengikat batu cincin dalam dunia perhiasan, maupun tali pengikat pada kuda. Dalam peribahasa Jawa dikenal ungkapan emban cindhe emban siladan yang bermakna bersikap tidak adil atau pilih kasih.

Makna tersebut menjadi semakin luas ketika kata itu berubah menjadi kata kerja mengemban. Dalam bahasa Indonesia, mengemban berarti menggendong dengan kain atau selendang, sekaligus melaksanakan tugas, kewajiban, cita-cita, maupun amanah tertentu. Seorang guru mengemban tugas pendidikan, pejabat mengemban amanah jabatan, dan aparatur negara mengemban tanggung jawab pelayanan publik.

Melalui lakon Emban, tema pengabdian dan dedikasi menjadi titik refleksi yang menarik. Dalam konteks individu, seorang emban mengabdikan dirinya kepada majikan atau pemberi kerja dengan imbalan tertentu. Namun dalam konteks sosial yang lebih luas, konsep mengemban juga dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang kerja, lembaga, maupun masyarakat yang dilayani.

Bagi institusi publik, gagasan mengemban amanah memiliki relevansi kuat dengan prinsip pelayanan kepada rakyat. Janji untuk mengabdi kepada masyarakat yang kerap diucapkan dalam berbagai kesempatan menjadi pertanyaan sekaligus refleksi yang dapat dibaca melalui perspektif lakon ini.

Selain pementasan, penyelenggara juga mengadakan Diskusi Wayang Kontemporer yang menghadirkan Jantan Putra Bangsa (penulis) dan Kus Sri Antoro (Wayang Limbah), dengan Supri Sastro Atmojo sebagai moderator. Diskusi ini akan membahas perkembangan wayang kontemporer sebagai medium ekspresi seni sekaligus ruang kritik sosial.

Rangkaian acara diawali dengan Workshop Wayang Limbah Plastik yang dipandu oleh Hangno Hartono, seniman wayang kontemporer yang dikenal mengembangkan karya-karya berbasis material daur ulang. Workshop ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan kreativitas seni dengan kesadaran lingkungan.

Workshop akan berlangsung pukul 11.00–12.00 WIB, sedangkan pementasan dan diskusi dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat yang ingin menyaksikan bagaimana tradisi wayang terus bergerak, berdialog dengan isu-isu sosial kontemporer, serta menemukan bentuk-bentuk baru yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *