
KOTA TERNATE — Kehadiran Kepala Kantor Badan Penghubung NTT, Florida Taty Setiawati, dalam kegiatan silaturahmi Diaspora NTT di Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu (20/5/2026), menarik perhatian masyarakat Flobamora. Selain membawa misi pemerintah daerah, ia juga tampil membawa pesan pelestarian budaya melalui busana tenun ikat khas Nusa Tenggara Timur.
Dalam kegiatan yang dihadiri Keluarga Besar Flobamora NTT, Forum Pemuda NTT, pemerintah daerah, hingga perwakilan organisasi masyarakat lokal itu, Taty tampil mengenakan busana tenun ikat khas Kabupaten Sikka. Penampilannya yang bernuansa adat dan budaya NTT mendapat sambutan hangat dari masyarakat diaspora.
Perempuan asal Maumere itu menegaskan bahwa penggunaan kain tenun ikat bukan sekadar penampilan, melainkan bagian dari upaya melestarikan karya seni perempuan NTT yang diwariskan secara turun-temurun.
“Sebagai Kaban, saya wajib mempromosikan seluruh potensi seni budaya dan pariwisata NTT, salah satunya tenun ikat karya kaum perempuan NTT. Kami setiap hari dalam berbagai kesempatan selalu mengenakan busana bermotif NTT, bukan saja menunjukkan keindahan dan kecantikan, tetapi juga untuk mencitrakan bahwa NTT punya seni budaya tenun ikat yang unik dan mendunia,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat NTT agar tidak malu mengenakan kain tenun daerah sebagai simbol identitas budaya dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Dalam kesempatan itu, Taty tidak hanya mengenakan tenun ikat dari Sikka, tetapi juga dari sejumlah daerah lain di NTT seperti Alor, Timor, Sumba, Rote, dan Sabu Raijua. Ragam motif dengan warna khas dari tiap daerah disebutnya sebagai kekayaan budaya yang harus terus diperkenalkan di ruang publik, termasuk di luar NTT.
Provinsi Nusa Tenggara Timur memang dikenal memiliki kekayaan seni budaya yang beragam. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini ialah tradisi tenun ikat yang telah hidup selama berabad-abad dalam kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat NTT, kain tenun bukan sekadar bahan sandang, tetapi juga memiliki nilai adat dan sosial. Dalam berbagai tradisi, kain tenun digunakan sebagai simbol penghormatan dalam acara perkawinan, kematian, maupun ritual adat lainnya.
Di tengah perkembangan industri tekstil modern, tradisi menenun di NTT tetap bertahan dan terus berkembang melalui tangan-tangan kreatif perempuan di desa-desa. Kehadiran tokoh publik yang rutin mengenakan tenun ikat dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat citra budaya Flobamora di tingkat nasional.


