Rak-rak kesusastraan di ruang perpustakaan menjadi simbol ingatan kolektif yang terus dirawat di tengah arus budaya digital. (Sumber Foto: detik.com)

Pidato Ketum JAKER dalam Diskusi Kebudayaan di Perpustakaan Jakarta

Oleh: Annisa Lituhayu
Ketua Umum Jaringan Kebudayaan Rakyat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Perkenankan saya mengawali pidato pembuka ini dengan kutipan karya maestro Pramoedya Ananta Toer:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
— Pramoedya Ananta Toer

Yang saya hormati segenap narasumber, para pegiat budaya, akademisi, mahasiswa, komunitas literasi, serta seluruh hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat hadir dalam ruang penuh makna ini, dalam kegiatan diskusi kebudayaan yang diselenggarakan oleh Jaringan Kebudayaan Rakyat bekerja sama dengan PDS H.B. Jassin, bertempat di Perpustakaan Jakarta, dengan tema:

“Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital.”

Tema ini bukan sekadar wacana intelektual, melainkan panggilan zaman. Dalam kehidupan di era ketika teknologi berkembang sangat cepat, informasi bergerak tanpa batas, dan digitalisasi telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, bahkan memaknai kehidupan, kita menghadapi perubahan yang begitu besar.

Digitalisasi sejatinya adalah kemajuan yang patut kita syukuri. Teknologi telah membuka akses pengetahuan yang luas, mempercepat pertukaran gagasan, serta mendekatkan ruang dan waktu antarmanusia. Melalui dunia digital, karya sastra, sejarah, arsip budaya, hingga pemikiran para pendahulu dapat diwariskan lintas generasi dengan lebih mudah.

Namun, di balik kemajuan tersebut, kita juga menghadapi tantangan besar: lahirnya budaya serba instan. Nilai-nilai dipersingkat menjadi potongan-potongan singkat, kebijaksanaan kalah oleh sensasi, dan kedalaman makna sering tergantikan oleh kecepatan konsumsi informasi. Kita hidup di tengah banjir data, tetapi perlahan kehilangan ruang untuk merenung dan mengingat.

Di sinilah kebudayaan memiliki peran yang sangat penting. Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan benteng pertahanan bangsa. Budaya menjaga identitas, membentuk karakter, dan menanamkan kesadaran bahwa manusia bukan hanya makhluk yang hidup untuk mengejar kecepatan, tetapi juga makhluk yang membutuhkan nilai, etika, dan makna.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga ingatan kolektifnya. Sebab, ketika sebuah bangsa kehilangan ingatan budayanya, bangsa itu akan mudah kehilangan arah, tercerabut dari akar sejarah, dan rentan terhadap krisis moral maupun krisis kemanusiaan.

Karena itu, merawat budaya berarti merawat peradaban. Literasi, sastra, arsip, seni, bahasa, dan tradisi harus terus dihidupkan sebagai ruang pembelajaran publik. Kebudayaan harus hadir bukan hanya sebagai seremoni, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu membangun kesadaran kritis, solidaritas, dan kemanusiaan.

Kita berharap ruang-ruang diskusi seperti ini menjadi tempat bertemunya gagasan, refleksi, dan harapan bersama agar teknologi tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya. Sebagaimana ruang yang kita gunakan bersama hari ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada PDS H.B. Jassin yang konsisten menjaga kebudayaan melalui gagasan, literasi, dan ruang pemikiran agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Digitalisasi harus menjadi alat untuk memperkuat budaya, bukan menghapusnya. Selain itu, digitalisasi juga tidak boleh menjadi sarana penguasaan kaum “SERAKAHNOMIC” yang mengeruk perekonomian bangsa tanpa memedulikan hajat hidup masyarakat Indonesia. Sebab, kehidupan berbangsa akan menjadi sangat timpang apabila kebudayaan, pengetahuan, dan kesadaran sejarah tidak lagi menjadi fondasi masyarakat.

Dengan masyarakat yang berbudaya, berpengetahuan, dan memiliki kesadaran sejarah, cita-cita menuju masyarakat yang adil dan makmur dapat diwujudkan. Dalam masyarakat yang berdaulat itulah praktik “SERAKAHNOMIC” akan lebih mudah dilawan dan disingkirkan dari kehidupan bersama.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, khususnya PDS H.B. Jassin, para pembicara, serta seluruh peserta yang hadir. Semoga diskusi ini memberi manfaat, melahirkan gagasan-gagasan baru, dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam merawat ingatan bangsa.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *