Poster Seria; The White Lotus Season 3 (Sumber: yoursay.suara.com)

Oleh: Harsa Permata

Serial The White Lotus musim ketiga menandai babak baru dalam kritik sosial Mike White. Saya sebenarnya sudah mengikuti serial ini sejak season 1, hanya baru bisa menulis pandangan saya tentang serial ini, setelah menonton season 3. Jika pada dua musim sebelumnya, dalam serial ini kita bisa melihat secara  gamblang keganjilan moral dan kekosongan batin para elite Barat, sementara pada musim ini, ia memperluas ruang kritiknya dengan menjadikan Thailand sebagai latar utama. Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi tempat dengan pemandangan eksotik, tetapi menjadi ruang tempat spiritualitas, kapital pariwisata, dan ketimpangan kelas bertemu secara telanjang. Di balik resor mewah dan citra ketenangan yang dipertontonkan kepada para wisatawan global, The White Lotus Season 3, menunjukkan bahwa sistem pariwisata tetap bekerja dengan logika lama: kenyamanan segelintir orang dari kelas teratas, harus dibayar mahal oleh mereka yang paling lemah posisinya.

Pertanyaannya sederhana: siapakah yang sebenarnya menanggung ongkos ketenangan ini? Bukan para tamu. Bukan pula pemilik resor. Jawabannya nyaris selalu sama.

Kuasa Lokal dan Mekanisme Dominasi

Khun Sritala adalah pemilik resor White Lotus cabang Thailand. Ia mengendalikan segala intrik dan persoalan dari balik layar dengan tangan dingin. Bagi saya, hal ini terlihat jelas dalam adegan ketika bodyguard pribadinya mencoba merundung (bully) Gaitok—petugas keamanan berhati lembut. Sang pengawal mengatakan bahwa Gaitok tidak dipecat meski gagal menangkap perampok hotel (geng Rusia yang bersekongkol dengan staf internal asal Rusia), semata-mata karena Khun Sritala memilih untuk mempertahankannya. Kehadiran Sritala memperlihatkan bahwa di tanah Thailand, ialah penguasa sesungguhnya, bukan para tamu kaya dari Barat yang datang membawa ego besar dan persoalan hidup masing-masing.

Dendam, Misinformasi, dan Identitas yang Rusak

Sentral kisah White Lotus musim ketiga yang sangat tragis adalah nasib Rick Hatchett (Walton Goggins)—bagi yang sudah nonton serial Fallout, tentu akan tidak asing dengan sosok Walton Goggins, ia berperan sebagai koboi Ghoul si hidung buntung—dan kekasihnya, Chelsea (Aimee Lou Wood). Rick dibesarkan oleh narasi kebencian oleh mendiang ibunya. Saat Rick baru berusia sepuluh tahun, sang ibu menanamkan doktrin bahwa pembunuh ayahnya adalah Jim Hollinger (suami Khun Sritala).

Terobsesi dengan wasiat tersebut, Rick datang ke Thailand dengan misi balas dendam. Dalam sebuah malam yang tegang, Rick menyamar sebagai produser film yang tertarik pada bakat Sritala, sementara temannya berpura-pura menjadi sutradara. Saat sang teman mengalihkan perhatian Sritala, Rick memojokkan Jim di ruangan lain dan mengakui niatnya untuk membunuh pria yang ia anggap musuh bebuyutannya itu.

Ironisnya, akibat provokasi Jim yang merasa kesal, situasi memuncak hingga Rick melepaskan tembakan. Di saat kritis itulah, Sritala mengungkap fakta menyakitkan: Jim adalah ayah kandung Rick. Rick telah menghabiskan seluruh energinya untuk membenci sosok yang seharusnya ia cintai. Sebuah tragedi yang membuktikan betapa hancurnya hidup akibat narasi kebencian dan misinformasi.

Glamoritas yang Berujung Kriminalitas

Salah satu pemanis cerita ini, menurut saya, adalah kisah tiga wanita asal Amerika Serikat yang mencari pelarian dari hiruk-pikuk kehidupan keseharian. Namun, liburan impian ini berubah menjadi mimpi buruk saat dua di antara mereka terjebak dalam pusaran kelompok Rusia. Keduanya terlibat kisah asmara satu malam, dengan dua orang geng Rusia, salah satunya adalah petugas/staf hotel, yang lain adalah perampok bertopeng. Ternyata, di balik keramahan salah satu staf hotel, terdapat sindikat perampok yang memanfaatkan akses internal hotel untuk menjarah barang berharga para tamu.

Salah satu dari mereka, Parker (Michelle Monaghan), merupakan seorang aktris televisi yang sedang naik daun namun tengah mengalami krisis identitas dan kejenuhan karier. Alih-alih mendapatkan ketenangan di Asia, ia justru terjebak dalam dinamika kriminalitas yang rumit. Kehadirannya memberikan bumbu satire tentang dunia selebritas Hollywood yang mencoba melarikan diri, namun tetap tidak bisa terlepas dari drama dan masalah pribadi mereka.

Di titik ini, The White Lotus Season 3 menegaskan bahwa kriminalitas dalam ruang wisata bukanlah sebuah penyimpangan, melainkan adalah konsekuensi logis dari industri pariwisata global yang tidak setara. Relasi antara tamu kaya, staf hotel, dan jaringan kriminal lokal, pada dasarnya tidak berdiri secara kebetulan, tetapi terbentuk oleh struktur yang membiarkan terjadinya eksploitasi. Staf lokal ditempatkan sebagai penghubung paling rapuh: mereka memiliki akses, namun tidak punya kuasa; mereka menanggung risiko, tetapi tidak bisa menikmati hasil. Kejahatan, pada akhirnya jadi produk sampingan dari sistem yang memprioritaskan kenyamanan elite, sementara keamanan dan martabat pekerja ditempatkan sebagai variabel yang bisa dengan mudah dikorbankan.

Dalam konteks ini, resor White Lotus tampil sebagai mikrokosmos kapitalisme wisata: ruang yang sekilas terlihat steril, aman, dan spiritual di luar, namun rapuh secara moral di dalamnya. Keindahan tropis dan keramahan yang diperlihatkan kepada wisatawan global ternyata hanya sebuah selubung yang menutupi fakta bahwa stabilitas sistem ini bergantung pada kesenjangan yang senantiasa direproduksi. Kriminalitas dalam serial ini tidak sekadar berfungsi sebagai unsur yang memperindah drama, melainkan sebagai kritik terhadap sistem yang membiarkan kekerasan bekerja secara senyap demi menjaga ilusi ketenangan.

Gaitok dan Beban Moral Kelas Pekerja

Karakter Gaitok punya peran yang cukup penting dalam menyuarakan ketidakadilan kelas. Sebagai petugas keamanan yang berdedikasi tinggi, Gaitok sebenarnya mampu mengolah fakta secara logis; ia sudah bisa menarik kesimpulan dari “olah pikirnya”, bahwa geng Rusia itulah yang merampok resor dan membuatnya pingsan. Akan tetapi, dalam struktur hierarki hotel yang kaku, Gaitok tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melaporkan kebenaran tersebut kepada Khun Sritala.

Hal ini memperkuat tema besar tentang ketidakberdayaan “orang kecil”. Gaitok tahu siapa penjahat sebenarnya, namun ia justru harus menembak Rick—tamu yang “tersesat”—karena harus tegak lurus terhadap perintah atasan, sementara perampok yang sebenarnya melenggang bebas tanpa terkena masalah satu pun.

Gaitok dalam serial ini diperankan oleh Tayme Thapthimthong., ia ceritanya sempat pacaran—Gaitok bahkan sempat mengajak Mook untuk menjalani hubungan serius, akan tetapi karena di pertengahan cerita, Gaitok, ingin mundur, hubungan asmara mereka jadi agak renggang, namun di bagian akhir cerita, Mook terlihat sumringah, karena Gaitok kelihatannya naik pangkat jadi pengawal pribadi Khun Sritala—dengan salah seorang pegawai hotel yang cantik, bernama Mook, yang diperankan dengan sangat baik oleh Lalisa Manobal alias Lisa Blackpink. Serial ini merupakan debut akting, Lisa Blackpink.

Warisan Tanya McQuoid: Antara Prinsip dan Pragmatisme

Selain intrik tamu baru, musim ketiga ini membawa kembali wajah lama dari Season 1 (Hawaii), yaitu Belinda. Dulu, Belinda sempat dijanjikan modal usaha oleh mendiang Tanya McQuoid, namun janji itu tak pernah terealisasi hingga Tanya meninggal secara tragis di Sisilia (Season 2). Ironisnya, di Thailand, Belinda bertemu kembali dengan Greg (suami Tanya yang diduga kuat sebagai otak di balik kematian istrinya), yang kini menggunakan nama samaran Gary.

Pertemuan ini menjadi ajang konfrontasi moral. Greg yang awalnya mengelak, akhirnya mengaku dan menawarkan uang “damai” sebesar 100 ribu dolar—yang ia klaim sebagai wasiat Tanya. Di sinilah letak integritas Belinda; ia menolak uang tersebut karena dianggap sebagai uang darah. Namun, pragmatisme muncul lewat putranya, Zion. Zion melihat ini sebagai peluang kompensasi atas penderitaan ibunya selama bertahun-tahun. Tak tanggung-tanggung, Zion justru memeras Greg hingga 5 juta dolar, sebuah angka yang jauh melampaui tawaran awal, memaksa Greg membayar harga mahal atas dosa masa lalunya.

Katarsis Doug: Antara Keputusasaan dan Insting Ayah

Kisah keluarga yang dikepalai oleh Doug (Jason Isaacs) memberikan pelajaran tentang katarsis. Setelah nyaris membunuh keluarganya dengan cocktail beracun karena frustrasi akan skandal hukum, Doug tersentak sadar saat melihat anak bungsunya nyaris tewas akibat sisa racun di blender yang lupa dibersihkan.

Wejangan biksu tentang kematian sebagai “tetes air ke laut” akhirnya membawanya pada pencerahan sejati. Ia memilih untuk jujur dan menghadapi masa depan yang pahit, asalkan keluarganya tetap utuh.

Penutup

The White Lotus Season 3, dalam pandangan saya, telah memperlihatkan bahwa dalam industri pariwisata spiritual, ketenangan batin telah berubah menjadi komoditas eksklusif. Mereka yang memiliki privilese ekonomi dapat membeli waktu untuk merenung dan menebus kesalahan. Sementara itu, rakyat kecil, saya lihat lebih cenderung diposisikan sebagai pelengkap sistem yang harus menanggung risiko sosial, moral, dan bahkan nyawa.

Di balik keindahan Thailand yang dipasarkan sebagai ruang penyembuhan, serial ini menyampaikan pesan yang tidak nyaman: ketimpangan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah—lebih rapi, lebih halus, dan lebih mudah diterima oleh mereka yang diuntungkan olehnya.

Saya jadinya malah menangkap The White Lotus Season 3 sebagai cerita tentang ketimpangan yang dibiarkan terasa wajar. Semua orang ngomong tentang ketenangan, pencerahan, dan berdamai dengan diri sendiri, tapi tidak semua orang punya hak yang sama untuk itu. Ada yang cuma bisa merenung, ada yang hanya bisa dan harus bekerja. Ada yang boleh salah, ada yang tidak. Gaitok tahu ada yang keliru, tapi ia juga tahu bahwa suaranya tidak akan mengubah apa pun. Di titik itu, spiritualitas berhenti menjadi soal makna, dan berubah menjadi fasilitas, sesuatu yang bisa dibeli, dinikmati, lalu ditinggalkan tanpa harus memikirkan siapa yang menanggung sisanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *